Oleh: Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd, C.PIM

OPINI, WARTA-NUSANTARA.COM–Gagasan perpustakaan sebagai pusat produktivitas nelayan, petani, dan peternak berbasis kearifan lokal di Kabupaten Lembata merupakan ide inovatif yang mengintegrasikan fungsi tradisional perpustakaan sebagai sumber pengetahuan dengan kebutuhan praktis masyarakat lokal. Anselmus Ola Bahy menegaskan bahwa literasi mencakup lebih dari sekadar membaca dan menulis juga sangat mempengaruhi kerangka kognitif dan disposisi etika individu. Perpustakaan hari ini sedang merancang strategi untuk menumbuhkan serat moral penduduk Lembata melalui media membaca.
Kabupaten Lembata dikenal karena potensi sumber daya alamnya yang melimpah, terutama dalam bidang perikanan, pertanian, dan peternakan. Namun demikian, hambatan seperti akses informasi, teknologi, dan pendidikan yang tidak memadai sering menghambat peningkatan produktivitas masyarakat. Dalam hal ini, Perpustakaan Daerah memiliki kapasitas untuk melampaui peran tradisionalnya bukan sebagai gudang buku belaka, ia harus berkembang menjadi pusat pemberdayaan vital yang selaras dengan kebijaksanaan Pemerintahan Daerah Kabupaten Lembata.
Perpustakaan sebagai Pusat Pengetahuan dan Produktivitas
Secara konvensional, perpustakaan dianggap sebagai tempat yang didedikasikan untuk peningkatan literasi dan penyebaran informasi. Namun demikian, perspektif ini dapat diperluas untuk mencakup peran perpustakaan dalam meningkatkan produktivitas nelayan, petani, dan peternak melalui penyediaan informasi yang ditargetkan, pelatihan pendidikan, dan peningkatan keterampilan. Misalnya, perpustakaan dapat menyediakan sumber daya yang berkaitan dengan metodologi penangkapan ikan berkelanjutan, praktik pertanian di daerah kering seperti Lembata, atau praktik terbaik untuk penggunaan kembali limbah ternak menjadi pupuk organik. Dengan mengadopsi kerangka kerja ini, perpustakaan berubah menjadi perantara yang menghubungkan pengetahuan teoritis dengan aplikasi praktis yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik komunitas lokal.
Di Lembata, misalnya, nelayan dapat memanfaatkan sumber daya perpustakaan untuk memahami pola meteorologi, kemajuan dalam metodologi pengolahan ikan, atau bahkan sistem konservasi yang berakar pada adat istiadat setempat, seperti Muro yaitu praktik tradisional yang mengatur pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. Ahli pertanian dapat memperoleh wawasan berharga mengenai varietas tanaman tahan kekeringan atau praktik irigasi mendasar, sedangkan produsen ternak mungkin memperoleh pengetahuan tentang sumber pakan alternatif yang berasal dari produk sampingan pertanian. Akibatnya, perpustakaan muncul bukan hanya sebagai pusat literasi tetapi juga sebagai katalis penting untuk kemajuan ekonomi.
Integrasi Kearifan Lokal
Pengetahuan lokal di Lembata, dicontohkan oleh sistem Muro yang digunakan oleh nelayan dan tradisi pengelolaan lahan yang berorientasi masyarakat, memiliki signifikansi abadi dalam melestarikan keberlanjutan sumber daya alam. Perpustakaan dapat berfungsi sebagai repositori untuk dokumentasi dan peningkatan kebijaksanaan asli ini, memastikan retensinya di tengah arus modernisasi. Misalnya, perpustakaan dapat membuat katalog pengetahuan asli dalam berbagai format termasuk buku, video, atau sumber daya digital, sambil secara bersamaan mengintegrasikan pengetahuan ini dengan inovasi kontemporer seperti teknologi berkelanjutan. Metodologi ini menjamin bahwa solusi yang diusulkan tetap relevan dengan lingkungan budaya dan lingkungan setempat.
Misalnya, tradisi Muro yang mengatur wilayah dan waktu penangkapan ikan dapat ditambah dengan data empiris tentang ekologi laut yang dapat diakses di perpustakaan. Praktisi pertanian dapat menggabungkan pengetahuan tradisional terkait rotasi tanaman dengan metodologi pertanian kontemporer untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Peternak dapat memperbaiki pemanfaatan pupuk kandang sebagai pupuk melalui panduan teknis yang bersumber dari perpustakaan. Sintesis ini menumbuhkan sinergi antara warisan adat dan kemajuan ilmiah kontemporer.
Tantangan dan Peluang
Meskipun konsep ini memiliki janji yang signifikan, ada beberapa tantangan yang memerlukan penyelesaian. Pertama, perbedaan tingkat melek huruf yang terus-menerus di antara penduduk Lembata dapat menghambat pemanfaatan perpustakaan secara efektif. Kedua, infrastruktur penting, termasuk akses listrik, konektivitas internet, dan ketersediaan bahan bacaan terkait, mungkin tidak memadai di daerah yang lebih terisolasi. Ketiga, sangat penting untuk mengadopsi metodologi inklusif untuk memastikan bahwa perpustakaan melayani tidak hanya untuk populasi berpendidikan tetapi juga untuk komunitas awam, seperti nelayan, petani, dan peternak, yang mungkin memiliki afinitas yang lebih besar untuk tradisi lisan atau pembelajaran pengalaman.
Meskipun demikian, prospek untuk sukses sangat besar. Gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata, yang digembar-gemborkan sebagai perpustakaan paling bergengsi di NTT sejak peresmiannya pada tahun 2021, mencontohkan dedikasi Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata untuk meningkatkan akses informasi. Melalui integrasi teknologi digital, perpustakaan dapat menawarkan sumber daya multimedia yang mudah diakses oleh khalayak yang beragam. Selain itu, kemitraan dengan layanan penyuluhan pertanian, perikanan, dan peternakan dapat lebih meningkatkan fungsi perpustakaan sebagai pusat pelatihan yang berorientasi pada komunitas.
Kesimpulan
Konsep perpustakaan berfungsi sebagai pusat produktivitas bagi nelayan, petani, dan peternak yang berakar pada kearifan lokal di Kabupaten Lembata merupakan integrasi inisiatif pelestarian pendidikan, ekonomi, dan budaya. Melalui penyediaan informasi terkait, dokumentasi pengetahuan adat, dan fasilitasi program pelatihan, perpustakaan dapat bertindak sebagai katalis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Untuk mewujudkan visi ini, sangat penting untuk mengadopsi strategi inklusif yang diinformasikan oleh tuntutan lokal dan didukung oleh infrastruktur yang kuat dan kolaborasi antar sektor. Jika inisiatif ini terbukti berhasil dan dapat membentuk paradigma untuk wilayah lain yang menunjukkan atribut serupa, memposisikan perpustakaan tidak hanya sebagai pintu gerbang ke ranah pengetahuan, tetapi juga sebagai jalan untuk peningkatan ekonomi yang digerakkan oleh kebijaksanaan lokal.
Sebagai Praktisi Literasi, penulis menstabilo kuning bahwa perpustakaan lebih memprioritaskan kelompok demografis tertentu, seperti nelayan, petani, dan peternak, dalam perumusan layanan dan programnya. Namun demikian, dalam penekanan ini, komunitas pengrajin dan penenun kawatak tradisional tampaknya diabaikan dan tidak cukup dikenali. Kepala Perpusakaan Prof. Dr. Goris Keraf, harusnya memahami bahwa kelompok-kelompok ini berfungsi sebagai penjaga warisan budaya yang mendalam dan telah berkontribusi secara signifikan terhadap pelestarian identitas nasional serta kemajuan ekonomi kreatif yang tidak boleh dipandang sebelah mata
Dengan memberikan perhatian kepada pengrajin dan penenun kawatak tradisional, memungkinkan perpustakaan memiliki potensi untuk menjadi lingkungan inklusif yang tidak hanya mendukung keberlanjutan tradisi budaya tetapi juga mendorong inovasi dalam bidang seni dan kerajinan. ***
BIODATA PENULIS : Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin. Lahir di Ende, 27 April 1970, merupakan ASN pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata, Provinsi NTT, saat ini sebagai Pengawas Sekolah Tingkat Menengah. Menyelesaikan studi S1 Fakultas Tarbiyah pada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Kupang Tahun 1995, menyelesaikan studi S2 Magister Pendikan Agama Islam di Univesitas Muhammadiyah Malang Tahun 2025. Selain memperoleh gelar akademik, penulis pun memperoleh gelar non akademik Certified Planning and Inventory Management (CPIM). Penulis saat ini sedang merintis taman baca Savana Iqra (IQ), selain itu bergabung dalam “Komunitas Penulis Lembata” juga sebagai “Penakar Literasi” Menulis beberapa artikel pengabdian masyarakat dalam buku antologi “Menuju Indonesia Emas 2045” di tahun 2023, buku “Revitalisasi Ilmu Sejarah dan Budaya dalam Dunia Pendidikan” dan buku “Aspek Pembelajaran Kewarganegaraan, Hukum dan Politik” di tahun 2024 dan beberapa buku antologi Cerpen dan Puisi di tahun 2021 sd sekarang. Saat ini penulis sedang merintis “Taman Baca Savana Iqra” Penulis juga menulis opini/headline di beberapa media online, penulis dapat ditemui di akun Facebook @RifaiAprian, IG @Rifai_mukin ***