33 Tahun SMAN 1 Nagawutung: Dari Jejak Pengabdian Menuju Pembaruan Pendidikan Oleh: Yohanes Paulus Pito Koban, S.Fil* Puncak HUT Terpadu menjadi ruang syukur, refleksi perjalanan, penguatan persaudaraan, dan peneguhan komitmen bersama membangun pendidikan LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Tiga puluh tiga tahun bukan sekadar angka bagi SMAN 1 Nagawutung. Di balik usia itu tersimpan jejak panjang pengabdian para pendidik, perjuangan para perintis, kepercayaan orang tua, dukungan pemerintah dan masyarakat, serta perjalanan ribuan peserta didik yang pernah bertumbuh di dalamnya. Jejak itulah yang kembali direnungkan ketika keluarga besar SMAN 1 Nagawutung menggelar puncak Hari Ulang Tahun (HUT) Terpadu ke-33, Senin, 24 Agustus 2026. Perjumpaan Lintas Generasi di SMAN 1 Nagawutung Perayaan tersebut menjadi puncak dari rangkaian kegiatan yang memadukan peringatan HUT ke-33 SMAN 1 Nagawutung, Hari Pramuka ke-65, HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, serta semangat Bulan Bahasa, Literasi, dan Numerasi. Puncak perayaan berlangsung dalam nuansa religius dan persaudaraan melalui Perayaan Ekaristi bagi umat Katolik serta Dzikir dan Doa Bersama bagi umat Muslim. Dari ruang syukur itulah refleksi mengenai perjalanan sekolah kemudian mengalir melalui sejumlah sambutan dan pesan dari para pemangku kepentingan. 33 Tahun sebagai Jejak Pengabdian Kepala SMAN 1 Nagawutung, Patrisius Beyeng, S.Pd menempatkan usia ke-33 sebagai jejak panjang pengabdian, kesetiaan, dan kerja keras banyak orang. Baginya, HUT Terpadu bukan sekadar perayaan bertambahnya usia lembaga. Momentum tersebut merupakan perjalanan syukur yang mempertemukan semangat kepramukaan, kemerdekaan, bahasa, literasi, numerasi, kreativitas, dan kebersamaan dalam satu tujuan: membangun karakter, mempererat persaudaraan, meningkatkan prestasi, serta menumbuhkan harapan bagi peserta didik. Rangkaian HUT sebelumnya telah diisi dengan turnamen futsal jenjang SD dan SMP serta berbagai perlombaan internal yang melibatkan peserta didik kelas X, XI, dan XII. Seluruh kegiatan itu tidak semata-mata diarahkan pada kompetisi, tetapi juga menjadi ruang pengembangan bakat, kreativitas, literasi, numerasi, sportivitas, dan kebersamaan. Kepala Sekolah, Patrisius Beyeng juga memberikan penghargaan khusus kepada para pendidik dan tenaga kependidikan yang pernah mengabdi di SMAN 1 Nagawutung. Kehadiran mereka pada perayaan tersebut menjadi penanda bahwa sekolah bukan semata-mata bangunan fisik dan papan nama, melainkan sebuah rumah dan keluarga besar yang tetap terhubung melampaui jarak dan waktu. Kepada para peserta didik, ia menitipkan pesan agar kecerdasan selalu berjalan beriringan dengan kemuliaan hati. Mereka diajak belajar dengan tekun, berkarya dengan kreatif, menjunjung sportivitas, serta hidup dalam kasih dan persaudaraan. Memasuki usia ke-33, seluruh warga sekolah juga diajak menjadikan momentum tersebut sebagai titik pembaruan: mempertahankan apa yang telah baik, memperbaiki yang masih kurang, dan membangun bersama apa yang belum tersedia. Korwas Dikmensus: Mutu Pembelajaran Tidak Boleh Berhenti pada Administrasi Pesan lebih spesifik mengenai masa depan pendidikan disampaikan Koordinator Pengawas Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Korwas Dikmensus) Kabupaten Lembata, Yohanes Mamun, S.Pd., M.Pd. Ia memberikan apresiasi kepada seluruh sivitas akademika yang telah bekerja sama dan berkolaborasi membawa SMAN 1 Nagawutung melewati perjalanan 33 tahun. Menurut Yohanes, perayaan syukur harus sekaligus menjadi ruang evaluasi. Keberhasilan perlu disyukuri, tetapi kelemahan dan kegagalan juga harus berani dilihat agar sekolah menemukan titik balik untuk menata langkah baru. Ada tiga hal yang secara khusus ia titipkan: peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan kolaborasi, dan ketangguhan peserta didik. Dalam konteks peningkatan mutu pembelajaran, ia menekankan tiga unsur penting, yakni pengelolaan kelas, dukungan afektif kepada peserta didik, serta penerapan strategi dan model pembelajaran yang tepat. Ia mengingatkan bahwa pembelajaran tidak boleh dilakukan sekadar untuk memenuhi tuntutan administrasi. Rencana pembelajaran yang disusun dengan baik harus benar-benar hidup dalam praktik di ruang kelas. Hubungan guru dan peserta didik juga menjadi bagian penting. Peserta didik yang merasa dihargai, diterima, dan memiliki relasi positif dengan gurunya akan lebih terbuka terhadap proses belajar. Karena itu, kualitas pembelajaran, menurutnya, tidak cukup dibuktikan melalui kelengkapan dokumen. Mutu harus hadir dan sungguh-sungguh dirasakan peserta didik dalam pengalaman belajar sehari-hari. Yohanes juga menegaskan bahwa sekolah tidak dapat berjalan sendiri. Kepala sekolah, guru, peserta didik, orang tua, pemerintah, dan masyarakat harus berkolaborasi. Kepada peserta didik, ia menitipkan pesan mengenai ketangguhan menghadapi masa depan. Mereka diminta tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dan tidak kehilangan harapan ketika mengalami kegagalan. Camat Nagawutung: Tinggalkan Ego, Bangun Persaudaraan Nada persaudaraan semakin kuat dalam sambutan Camat Nagawutung, Vitalis Hubertus Wajo, S.Sos. Menurutnya, keberhasilan sebuah perayaan seperti HUT Terpadu tidak lahir dengan sendirinya, tetapi merupakan buah kerja keras, pengorbanan, dan kebersamaan banyak pihak. Ia menaruh perhatian khusus pada kekuatan spiritual yang menyertai perayaan tersebut. Kehadiran Pastor Paroki bersama para imam konselebran dalam Perayaan Ekaristi dipandang sebagai bentuk solidaritas sekaligus kecintaan terhadap dunia pendidikan. Syukur, menurut Camat Vitalis, juga tidak boleh berhenti pada kebahagiaan internal sekolah. Syukur harus menggerakkan kepedulian terhadap sesama, termasuk solidaritas bagi para korban bencana alam. Lebih dari itu, ia menitipkan satu pesan kuat: persaudaraan membutuhkan keberanian meninggalkan ego. Perbedaan jabatan, lembaga, usia, ataupun kepentingan tidak boleh membuat setiap pihak berjalan sendiri-sendiri. Kekuatan justru lahir ketika semua pihak mampu duduk bersama, bekerja bersama, saling mendukung, dan saling menghargai. Kedekatan Camat Vitalis dengan SMAN 1 Nagawutung bukan sesuatu yang baru. Dalam sambutannya, ia mengenang perjalanan panjangnya sebagai bagian dari sekolah tersebut, termasuk pernah mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Komite selama kurang lebih 27 tahun. Ia juga mengapresiasi turnamen futsal yang digelar dalam rangkaian HUT. Menurutnya, olahraga tidak hanya berbicara mengenai kemenangan, tetapi juga menjadi ruang pembinaan generasi muda, sportivitas, persaudaraan, dan hiburan yang sehat bagi masyarakat. Pemerintah Kecamatan Nagawutung, lanjutnya, akan terus memberikan dukungan sesuai kapasitas dan kewenangan yang dimiliki, termasuk membantu memperjuangkan peluang pengembangan sarana dan prasarana sekolah. Komite: Setiap Orang Harus Bertanya tentang Perannya Ketua Komite SMAN 1 Nagawutung, Petrus Gehak Ladoangin, membawa peserta perayaan masuk lebih jauh ke dalam refleksi mengenai tanggung jawab. Sebagai Ketua Komite sekaligus alumni, ia melihat perjalanan 33 tahun sebagai rangkaian panjang kisah dan peran banyak orang. Guru, alumni, pemerintah, orang tua, peserta didik, serta pengurus komite dari masa ke masa telah memberikan kontribusi masing-masing sehingga sekolah mampu bertahan dan berkembang. Karena itu, ulang tahun sekolah tidak semestinya berhenti sebagai seremoni. Momentum tersebut, menurut Petrus, harus mendorong setiap orang bertanya: sejauh mana orang tua telah menjalankan perannya? Sejauh mana guru telah mendidik dan mendampingi peserta didik? Sejauh mana pemerintah telah memberikan dukungan? Dan sejauh mana peserta didik sendiri telah bertanggung jawab terhadap kesempatan pendidikan yang diberikan orang tua? Peserta didik secara khusus diingatkan untuk menjaga nama baik sekolah, termasuk melalui perilaku mereka di tengah masyarakat. Sebab, ketika seorang peserta didik melakukan sesuatu, masyarakat tidak hanya melihat pribadi bersangkutan. Pertanyaan tentang sekolah dan guru yang mendidiknya kerap ikut muncul. Petrus juga mengingatkan bahwa telah banyak alumni SMAN 1 Nagawutung yang berkarya di berbagai tempat dan profesi. Ada yang menjadi guru, pegawai, anggota TNI, Polri, serta menekuni berbagai profesi lainnya, baik di Lembata, luar daerah, maupun luar negeri. Karena itu, nama baik sekolah merupakan warisan bersama yang harus terus dijaga. Suara Guru Perintis: Dari Masa Sulit hingga Usia 33 Tahun Salah satu bagian paling reflektif muncul dari Hendrikus Hereng, mantan guru SMAN 1 Nagawutung yang mengalami langsung masa awal perjalanan lembaga tersebut. Ia memulai refleksinya dari sesuatu yang sederhana: dekorasi panggung. Tulisan “Dies Natalis” terlihat besar dan jelas, sementara susunan tulisan tema di bawahnya tampak bergerak naik-turun dan tidak beraturan. Sebagai mantan guru yang juga pernah mengajar Bahasa Indonesia, Hendrikus justru membaca sebuah simbol di balik tampilan tersebut. Baginya, keberhasilan yang hari ini terlihat besar dan jelas sesungguhnya lahir dari perjalanan yang dahulu tidak selalu teratur dan mudah. Ada masa ketika perjalanan pendidikan benar-benar “tunggang-langgang”: sarana terbatas, jumlah guru terbatas, akses menuju sekolah sulit, dan tenaga pendidik dari sekolah lain harus saling membantu. Hendrikus merupakan salah seorang yang mengalami masa itu. Ia mengenang bagaimana guru-guru harus saling menopang agar kegiatan pendidikan tetap berjalan. Bahkan perjalanan menuju sekolah pun dahulu bukan sesuatu yang mudah. Ada pengalaman datang dengan kaki kotor karena kondisi perjalanan, kemudian mencuci kaki terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang kelas. Kenangan sederhana itu menghadirkan kontras yang kuat dengan keadaan sekolah pada usia 33 tahun. Apa yang sekarang dapat dinikmati oleh generasi baru merupakan buah dari perjalanan, keterbatasan, dan pengorbanan generasi sebelumnya. Karena itulah Hendrikus menilai perayaan HUT ke-33 sebagai momentum yang sangat istimewa. Menurutnya, sejak tahun pertama hingga usia ke-33, baru kali ini syukuran ulang tahun sekolah dirayakan bersama dalam kemasan seperti yang disaksikannya. Dari Syukur Menuju Tanggung Jawab Bersama Jika seluruh sambutan pada puncak HUT Terpadu itu dipertemukan, ada satu benang merah yang mengikat semuanya: SMAN 1 Nagawutung tidak dibangun oleh satu orang dan tidak dapat melangkah sendirian. Sekolah bertumbuh karena ada pendidik yang mengabdi, peserta didik yang belajar, orang tua yang mempercayakan anak-anaknya, komite yang mendampingi, alumni yang menjaga ikatan, masyarakat yang memberikan dukungan, serta pemerintah yang mengambil bagian dalam pembangunan pendidikan. Tiga puluh tiga tahun karena itu bukan titik akhir. Ia adalah ruang untuk berhenti sejenak, menengok jejak yang telah dilewati, menghormati mereka yang pernah berjuang, menilai kembali kekurangan hari ini, lalu menyusun langkah baru menuju masa depan. Dari Kepala Sekolah terdengar ajakan untuk melakukan pembaruan. Dari Korwas Dikmensus muncul penegasan tentang kualitas pembelajaran, kolaborasi, dan ketangguhan peserta didik. Dari Camat Nagawutung bergema seruan untuk meninggalkan ego dan membangun persaudaraan. Dari Ketua Komite hadir pertanyaan reflektif tentang peran setiap orang. Sementara dari seorang guru perintis, generasi hari ini diingatkan bahwa kemajuan yang dinikmati sekarang bertumbuh dari jalan panjang yang pernah dilalui dalam keterbatasan. Di situlah usia ke-33 menemukan maknanya. Bukan semata-mata pada kemeriahan sebuah perayaan, melainkan pada kesediaan seluruh keluarga besar sekolah untuk menjaga warisan pengabdian, memperkuat persaudaraan, meningkatkan kualitas pendidikan, dan meneruskan perjalanan. Dari masa sulit menuju harapan, dari keterbatasan menuju kemajuan, dan dari syukur menuju pengabdian, SMAN 1 Nagawutung memasuki usia ke-33 dengan satu pekerjaan besar: terus merawat apa yang telah diwariskan dan membangun apa yang masih harus diperjuangkan. *** Yohanes Paulus Pito Koban, S.Fil, Penulis adalah Guru PAKat-BP di SMAN 1 Nagawutung Post Views: 62 Navigasi pos Rakerdik SD Kecamatan Omesuri Resmi Ditutup, Pengawas Rifai Mukin Serukan “Jadilah Guru Keren!”