Jalan Allah Oleh : Pater Steph Tupeng Witin, SVD Mat 11:25-30 WARTA-NUSANTARA.COM— Tuhan mengajak kita belajar hidup penuh syukur. Seluruh hidup-Nya adalah narasi syukur. Ia bersyukur karena diterima orang-orang kecil dengan hati terbuka. Meski Yohanes Pembaptis meragukan dan elite agama Yahudi menolak-Nya. Orang-orang kecil ini adalah jalan Allah menyatakan rahasia Kerajaan-Nya. Allah mencurahkan kasih-Nya kepada orang kecil yang berhati sederhana (Mat 11:25). Tuhan bersyukur karena Ia diutus untuk meringankan beban orang-orang yang letih dan berbeban berat (Mat 11:28). Ia mengajak mereka untuk memikul kuk kelemahlembutan dan kerendahan hati (Mat 11:29). Jalan syukur yang Ia tempuh ini sekaligus menjadi undangan bagi kita. Kita sering mudah mengeluh karena perjuangan hidup terasa berat, merasa sendirian, tidak ada orang lain menolong, tidak berdaya, tidak dihargai atau tertinggal dibandingkan orang lain. Kita berpikir bahwa karena kita bukan orang pintar, bukan orang kaya, bukan orang berkuasa, maka kita pantas menanggung banyak kesulitan. Terkadang, keluhan lahir bukan dari kenyataan yang kita hadapi, melainkan dari cara kita memandang kehidupan. Kita semua selalu punya beban yang sungguh nyata, namun selalu ada orang lain yang menghadapi penderitaan lebih berat tetapi tetap mampu menjalani hidup dengan penuh syukur. Maka kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh keadaan melainkan juga sikap hati menghadapinya. Tuhan mengajarkan jalan hidup penuh syukur: menjadi kecil, lemah lembut dan rendah hati (Mat 11:29). Menjadi kecil berarti hidup dengan kesadaran bahwa diri kita bukan pusat segala sesuatu. Kita tidak mesti selalu menguasai, mengatur dan menentukan semua hal menurut kehendak kita. Sebaliknya, kita belajar menaruh hidup di kaki Tuhan dan berani membuka hati bagi sesama. Menjadi lemah lembut berarti tidak mengandalkan kekuasaan duniawi, kemarahan, dan kekerasan untuk mencapai tujuan. Kelemahlembutan bukan kelemahan duniawi melainkan kekuatan spiritual yang lahir dari kasih, kesabaran dan penguasaan diri. Menjadi rendah hati berarti tidak menjadikan keberhasilan atau prestasi diri sebagai pusat perhatian dan kenikmatan dangkal. Kita belajar untuk selalu menghargai orang lain, mengakui jasa-jasa orang lain dan mendahulukan serta mengutamakan kebutuhan sesama, ketimbang kebutuhan privat. Ketika kita hidup dengan jalan menjadi kecil, lemah lembut dan rendah hati, hati kita akan dipenuhi rasa syukur yang melahirkan kepercayaan kepada Tuhan, menumbuhkan kesetiaan dan kesediaan berkorban sehingga tumbuh persaudaraan yang saling menguatkan dan menghadirkan damai. Jalan itulah yang mengantar kita menemukan sukacita, damai dan hati yang penuh syukur di hadapan-Nya (Widjaja, 2026). Seorang profesor yang terkenal cerdas mendaki gunung dengan membawa peta, kompas, dan berbagai alat navigasi. Ia sangat yakin mencapai puncak dengan kekuatan sendiri. Sementara seorang petani sederhana yang tidak memiliki banyak pengetahuan, hanya mengandalkan pemandu. Ia meminta meminta pemandu agar menolongnya karena ia tidak mengenal jalan. Di tengah jalan, kabut tebal turun. Profesor tetap bersikeras mengikuti perhitungan sendiri hingga tersesat. Petani setia mengikuti langkah sang pemandu. Ia tidak tahu setai belokan jalan tapi karena percaya dan mau dipimpin, akhirnya tiba di puncak. Tuhan berdoa, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa. Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Kau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25). Pengalaman hidup membuktikan bahwa yang menghalangi seseorang untuk mengenal Tuhan bukanlah kurangnya kecerdasan melainkan perasaan bahwa dirinya sudah cukup. Ketika seseorang merasa tidak membutuhkan Tuhan, doa menjadi sekadar formalitas, Sabda Tuhan hanya menjadi bahan pengetahuan dan kehadiran serta karya Allah dalam hidup sulit dikenali. Sebalinya, semakin seseorang menyadari keterbatasannya, semakin ia membuka hatinya bagi karya rahmat Allah. Orang lapar akan mencari makanan. Orang haus pasti mencari air. Semakin seseorang merasa membutuhkan Tuhan, semakin mudah ia mengenal-Nya. Semakin seseorang merasa cukup dengan diri sendiri, semakin sulit ia memahami karya Allah dalam hidupnya. Tuhan memuji orang-orang kecil bukan karena mereka kurang pandai tapi karena memiliki hati yang rendah (Gunarto, 2026). Mereka sadar bahwa tanpa Tuhan, mereka tidak dapat berjalan sendiri. Hati model inilah yang menjadi jalan Allah menyatakan diri-Nya. *** Post Views: 62 Navigasi pos Wagub NTT Johni Asadoma Motivasi Peserta Jambore PART Sinode GMIT VII di Kefamenanu Ribuan Umat Antar RD Yeremias Rianghepat ke Paroki St. Yoseph Boto, Perpisahan Haru Sambut Awal Pelayanan Baru