Skip to content
  • September 20, 2026 5:00 pm

DARI LEMBATA MEWARTAKAN INDONESIA

  • Pendidikan
  • Olahraga
  • National
  • Hukrim
  • Agama
  • Kesehatan
  • Pariwisata
  • Opini
  • Opini
  • Internasional
  • Sosok
  • Polkam
  • Pemerintahan
  • Lingkungan
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Inspiration
  • Pertanian
  • Perikanan
  • Sosial
  • Seni Budaya
  • Legislatif
  • Ketenagakerjaan
News

ByWartaNusantara

Sep 20, 2026

Estafet Kepemimpinan NTT: Dari Lalamentik hingga Melki-Johni, Satu Tujuan NTT Maju

Estafet kepemimpinan di NTT berjalan reguler dan dinamis. Dari Lalamentik hingga Melki-Johni, setiap pemimpin meninggalkan jejak, gagasan, dan warisan pembangunan bagi Nusa Tenggara Timur. Beda program tapi satu tujuan.

DI Provinsi Nusa Tenggara Timur, pembangunan tidak pernah lahir dalam semalam. Ia tumbuh perlahan, seperti pohon yang ditanam generasi demi generasi. Ada yang menyiapkan tanahnya, ada yang menanam benih, ada yang menyiram, ada pula yang memanen hasilnya. Sebagian pemimpin dikenang melalui program besar, sebagian lagi melalui gagasan sederhana yang terus hidup dalam ingatan masyarakat.

Sejak resmi menjadi provinsi pada 20 Desember 1958, NTT telah dipimpin oleh sejumlah gubernur dengan gaya, karakter, dan pendekatan yang berbeda. Namun satu hal yang tidak berubah: setiap pemimpin menerima tongkat estafet dari pendahulunya, lalu meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Membaca sejarah kepemimpinan NTT sesungguhnya bukan sekadar mengenang nama-nama gubernur. Lebih dari itu, sejarah tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah daerah kepulauan yang luas, kering, dan penuh tantangan terus bergerak maju melalui berbagai gagasan pembangunan yang lahir pada zamannya.

Lalamentik: Membidani Lahirnya NTT

Perjalanan itu dimulai dari William Johanes Lalamentik, gubernur pertama NTT yang memimpin pada 1958-1966.

Saat itu NTT masih sangat muda. Jalan terbatas, sarana pemerintahan minim, dan sebagian besar wilayah masih sulit dijangkau. Tantangan terbesar bukanlah membangun proyek-proyek besar, melainkan memastikan provinsi yang baru lahir ini benar-benar memiliki pemerintahan yang berjalan.

Lalamentik dikenal dengan mottonya yang sederhana namun kuat: “Semua kesulitan itu ada untuk dipecahkan.”
Kalimat itu seolah menggambarkan situasi NTT kala itu. Ia membangun fondasi pemerintahan, memperkuat struktur administrasi hingga tingkat kabupaten dan kecamatan, serta mendekatkan pelayanan negara kepada masyarakat yang tersebar di pulau-pulau.

Warisan Lalamentik mungkin tidak berupa gedung megah atau proyek monumental. Namun ia meninggalkan sesuatu yang lebih mendasar: kerangka pemerintahan yang menjadi pijakan bagi pembangunan NTT hingga hari ini.

El Tari: Menanam Harapan dari Desa

Jika Lalamentik membangun fondasi pemerintahan, maka Elias Tari atau El Tari mengajak masyarakat membangun masa depan dari tanah yang mereka pijak.

Putra Sabu yang memimpin pada 1966-1978 itu melahirkan slogan yang hingga kini masih dikenang banyak orang: “Tanam, Tanam, Sekali Lagi Tanam. Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi?”

Bagi El Tari, menanam bukan sekadar urusan pertanian. Menanam adalah filosofi pembangunan. Ia mengajak masyarakat memanfaatkan tanah yang ada, membangun ketahanan pangan, menghijaukan lingkungan, dan memperkuat kehidupan desa. Pada masa inilah pembangunan desa mendapat perhatian besar melalui berbagai gerakan motivasi masyarakat.

El Tari percaya perubahan tidak harus dimulai dari kota. Perubahan bisa lahir dari ladang, kebun, dan desa-desa yang tersebar di seluruh NTT.

Meski meninggal dunia pada 29 April 1978 saat masih menjabat gubernur, gagasannya terus hidup. Namanya kini diabadikan menjadi bandara, jalan, dan berbagai fasilitas publik di NTT. Namun sesungguhnya yang diwariskannya bukan sekadar nama, melainkan cara berpikir bahwa pembangunan harus berakar pada masyarakat.

Wang Suwandi: Penjaga Jembatan Peralihan

Sepeninggal El Tari, roda pemerintahan sementara diteruskan oleh Wang Suwandi sebagai Penjabat Gubernur. Masa tugasnya memang singkat. Namun dalam sejarah pemerintahan, masa transisi sering kali menjadi periode penting yang tidak banyak disorot.

Tugas utamanya sederhana tetapi krusial: memastikan pemerintahan tetap berjalan dan pergantian kepemimpinan berlangsung tertib.

Ben Mboi: Membangun Secara Menyeluruh

Tongkat estafet kemudian berpindah ke tangan Aloysius Benedictus Mboi atau Ben Mboi. Dokter sekaligus perwira militer asal Ruteng ini memimpin NTT selama dua periode, 1978-1988.

Latar belakangnya sebagai dokter membuat Ben Mboi melihat pembangunan secara lebih utuh. Kemiskinan, menurutnya, tidak bisa diatasi hanya dari satu sisi. Dari pemikiran itulah lahir berbagai program yang dikenal sebagai bagian dari Panca Program NTT, seperti Operasi Nusa Makmur, Operasi Nusa Hijau, dan Operasi Nusa Sehat.

Melalui program-program tersebut, pembangunan ekonomi, kesehatan, lingkungan, pendidikan, koperasi, dan keluarga berencana digerakkan secara bersamaan.

Ben Mboi meyakini bahwa masyarakat tidak akan maju jika hanya satu sektor yang berkembang. Semua harus bergerak bersama.

Hendrikus Fernandez: Menghidupkan Potensi Desa

Periode berikutnya dipimpin Hendrikus Fernandez atau akrab disapa No Endi. Dokter yang memimpin pada 1988-1993 ini membawa perhatian besar pada peningkatan pendapatan masyarakat dan pembangunan desa.

Melalui program GEMPAR dan GERBADES, masyarakat diajak mengenali kekuatan ekonomi yang mereka miliki. Tanah, keterampilan, hasil pertanian, hingga sumber daya lokal dipandang sebagai modal pembangunan.

Pada masa inilah gagasan pembangunan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat desa.

Herman Musakabe: Ketika Tenun Menjadi Kebanggaan

Saat Herman Musakabe memimpin pada 1993-1998, cakrawala pembangunan NTT semakin luas.
Ia memperkenalkan Tujuh Program Strategis yang mencakup sumber daya manusia, ekonomi, teknologi, transportasi, tata ruang, hingga pariwisata.

Namun warisan yang paling mudah dikenali masyarakat justru lahir dari selembar kain. Pada masa kepemimpinannya, tenun ikat mulai digunakan sebagai seragam aparatur pemerintah.

Kebijakan yang tampak sederhana itu kemudian berkembang menjadi identitas budaya sekaligus sumber penguatan ekonomi masyarakat.
Ribuan penenun di berbagai daerah memperoleh ruang pasar yang lebih luas. Tenun tidak lagi sekadar pakaian adat, tetapi menjadi simbol kebanggaan orang NTT.

Piet Tallo dan Filosofi Tiga Batu Tungku

Ketika Piet Alexander Tallo memimpin NTT selama dua periode, 1998-2008, ia membawa filosofi yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Timur. Namanya identik dengan konsep Tiga Batu Tungku: ekonomi rakyat, pendidikan rakyat, dan kesehatan rakyat.

Dalam budaya masyarakat Timor, tiga batu tungku harus berdiri bersama agar dapur dapat digunakan. Filosofi itu kemudian diterjemahkan ke dalam pembangunan.

Menurut Piet Tallo, masyarakat hanya dapat maju jika ekonomi, pendidikan, dan kesehatan berkembang secara bersamaan.

Gagasan tersebut masih sering disebut hingga sekarang sebagai salah satu warisan pemikiran pembangunan NTT.

Frans Lebu Raya dan Anggur Merah

Frans Lebu Raya memimpin NTT selama satu dekade, 2008-2018.
Warna kepemimpinannya paling kuat terlihat melalui Program Desa Mandiri Anggur Merah atau Anggaran untuk Rakyat Menuju Sejahtera.

Program yang mulai berjalan pada 2011 itu memberikan dana kepada desa-desa untuk mengembangkan usaha ekonomi produktif. Ratusan miliar rupiah mengalir ke ribuan desa. Tujuannya sederhana: memberi kesempatan kepada masyarakat desa untuk menggerakkan ekonominya sendiri.

Bagi banyak warga, Anggur Merah menjadi salah satu program yang paling mudah diingat dari era Frans Lebu Raya karena langsung menyentuh desa.

Dari Masa Transisi ke Era Daya Saing

Setelah masa jabatan Frans Lebu Raya berakhir, Robert Simbolon memimpin sebagai Penjabat Gubernur pada 2018. Tugasnya memastikan roda pemerintahan tetap berjalan hingga hadir gubernur definitif berikutnya.

Tongkat estafet kemudian diterima Viktor Bungtilu Laiskodat bersama Josef Nae Soi. Pada periode 2018-2023, pembangunan NTT diarahkan pada peningkatan daya saing daerah.

Pariwisata didorong menjadi penggerak ekonomi. Pertanian, peternakan, kelautan, investasi, dan sumber daya manusia menjadi sektor prioritas.

Viktor juga dikenal dengan pendekatan field leadership atau kepemimpinan lapangan, yang menekankan pentingnya pemimpin turun langsung melihat kondisi masyarakat.

Salah satu program yang paling dikenal pada masa ini adalah Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS), yang berupaya mengintegrasikan sektor pertanian dan peternakan.

Menjaga Kesinambungan

Berakhirnya masa Viktor-Josef kembali membawa NTT memasuki fase transisi. Ayodhia G. L. Kalake menjabat Penjabat Gubernur pada 2023-2024, kemudian dilanjutkan Andriko Noto Susanto pada 2024-2025.

Meski tidak lama, keduanya berperan penting menjaga kesinambungan pemerintahan, pelayanan publik, dan pelaksanaan Pilkada Serentak 2024.
Masa-masa seperti ini sering luput dari perhatian, padahal justru menjadi jembatan yang memastikan pembangunan tidak berhenti di tengah pergantian kepemimpinan.

Melki-Johni dan Semangat Ayo Bangun NTT

Pada 20 Februari 2025, Emanuel Melkiades Laka Lena dan Johni Asadoma resmi memimpin NTT. Mereka membawa semangat “Ayo Bangun NTT”, yang diterjemahkan dalam visi NTT Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan.

Melalui Dasa Cita Ayo Bangun NTT, pemerintahan saat ini mendorong percepatan pembangunan di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, pertanian, peternakan, kelautan, pariwisata, infrastruktur, hingga tata kelola pemerintahan.

Salah satu pesan yang terus disampaikan adalah pentingnya menghadirkan pemerintah lebih dekat dengan masyarakat.

Bagi Melki-Johni, pembangunan tidak cukup hanya dirancang dari balik meja. Pemerintah harus hadir, melihat, mendengar, dan merasakan langsung persoalan yang dihadapi masyarakat.

Estafet yang Tak Pernah Putus

Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT, Yohanes Abrianto Kore, mengatakan, setiap pemimpin hadir dengan tantangan dan konteks yang berbeda.

Menurutnya, Lalamentik meletakkan dasar pemerintahan, El Tari menggerakkan masyarakat melalui pertanian dan penghijauan, Ben Mboi membangun pendekatan terpadu, Hendrikus Fernandez mendorong peningkatan pendapatan rakyat, Piet Tallo menghadirkan filosofi Tiga Batu Tungku, Frans Lebu Raya memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui Anggur Merah, Viktor Laiskodat meningkatkan daya saing daerah, sementara Melki-Johni membawa semangat percepatan pembangunan melalui Ayo Bangun NTT.

“Program boleh berubah, jargon boleh berbeda, dan pendekatan pembangunan dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman. Tetapi tujuan akhirnya tetap sama, yakni membangun Nusa Tenggara Timur dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,” tegas Abri Kore.

Pada akhirnya, sejarah pembangunan NTT bukanlah kisah tentang siapa yang paling besar atau paling berhasil.
Ia adalah cerita tentang sebuah estafet panjang.

Tongkat itu berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Setiap pemimpin menambahkan warna, meninggalkan jejak, lalu menyerahkannya kepada generasi berikutnya.

Dan seperti sebuah estafet, yang terpenting bukanlah siapa yang berlari paling cepat, melainkan bagaimana tongkat itu terus bergerak menuju garis akhir yang sama: NTT yang semakin maju dan masyarakat yang semakin sejahtera.  ***(*/MediaNTT/WN-01))

Post Views: 14

Navigasi pos

Karnaval Iman meriahkan 24 Tahun St. Stefanus Martir Pelindung Lingkungan, Umat Padukan Iman, Kedaulatan Pangan dan Kemandirian

By WartaNusantara

Baca Juga

News

Karnaval Iman meriahkan 24 Tahun St. Stefanus Martir Pelindung Lingkungan, Umat Padukan Iman, Kedaulatan Pangan dan Kemandirian

Sep 14, 2026 WartaNusantara
News

Gempa M4,9 Guncang Manggarai Pagi Ini, BMKG: Susulan Gempa Besar Flores dan Tidak Berpotensi Tsunami

Sep 14, 2026 WartaNusantara
News

Uskup Agung Ende: Hentikan Pesta, Temukan Wajah Tuhan pada Sesama yang Menderita, Sentuh Hati Umat Pasca-Gempa Flores

Sep 13, 2026 WartaNusantara

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERKINI

News

WartaNusantara Tidak ada komentar
Polkam

Wacana Reshuffle, PKS: Jangan Ada Lagi Anggota Kabinet Kena Kasus Korupsi

WartaNusantara Tidak ada komentar
Polkam

Surya Paloh Dorong RUU Pemilu Rampung 2026, Usul Dua Fraksi untuk Pilpres

WartaNusantara Tidak ada komentar
Polkam

Krisis Air Bersih Desa Lamawolo Lembata : Frans Gewura Dampingi Yunus Takandewa Kunjungi Warga Terdampak Erupsi Ile Lewotolok

WartaNusantara Tidak ada komentar

Proudly powered by WordPress | Theme: news-host by Themeansar.

  • Home
  • Contact
  • Disclaimer
  • Indeks
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Mengapa Warta Nusantara?
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Redaksi
Exit mobile version