Provinsi NTT Sabet Penghargaan PIN Swasembada Pangan

JAKARTA : WARTA-NUSANTARA.COM– Upaya panjang memperkuat ketahanan pangan di wilayah beriklim kering akhirnya membuahkan hasil. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi menerima Penghargaan PIN Swasembada Pangan Nasional dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia, bersama empat provinsi lainnya yakni Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, dan Papua Pegunungan.
Penghargaan tersebut diserahkan di Jakarta pada 12 Januari 2026, sebagai bentuk apresiasi pemerintah pusat kepada daerah yang dinilai berhasil menunjukkan lonjakan signifikan dalam produksi dan kinerja pembangunan pertanian, khususnya pada komoditas strategis padi dan jagung.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif lintas sektor, mulai dari perumusan kebijakan hingga implementasi di tingkat tapak.
“Pemasangan PIN Swasembada Pangan ini adalah buah dari kerja keras dan kerja cerdas seluruh jajaran pertanian, mulai dari dinas provinsi dan kabupaten, penyuluh, petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan, operator alsintan, hingga para petani. Swasembada pangan di NTT pasti bisa,” ujar Gubernur Melki.
Dia menambahkan, keberhasilan NTT sejalan dengan misi besar Presiden, Wakil Presiden, dan Menteri Pertanian RI untuk mewujudkan swasembada pangan nasional, terutama komoditas padi dan jagung.
Lonjakan Produksi di Tengah Tantangan Lahan Kering
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Joaz Bily Oemboe Wanda, yang menerima langsung penghargaan tersebut, menyampaikan bahwa capaian NTT menjadi istimewa karena ditopang oleh karakter wilayah yang didominasi lahan kering.
“NTT memiliki lahan kering sekitar 1,8 juta hektare, sementara lahan sawah hanya sekitar 309 ribu hektare. Dengan arahan Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur melalui Dasa Cita Melki-Johni, khususnya Dari Ladang Menuju Pasar dan Ayo Bangun NTT, kami melakukan gerakan masif pengembangan padi sawah dan padi gogo sepanjang 2025,” jelas Joaz.
Hasilnya, luas tambah tanam padi tahun 2025 mencapai 250.528 hektare atau 96,11 persen dari target, sementara luas panen meningkat 25,92 persen dibandingkan tahun 2024. Produksi padi NTT bahkan tercatat meningkat sekitar 35–40 persen, menjadikannya salah satu yang tertinggi secara nasional berdasarkan data prognosa BPS dan Kementerian Pertanian.
Dukungan Benih, Alsintan, dan Brigade Pangan
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan sarana produksi dan modernisasi pertanian. Sepanjang 2024–2025, NTT menerima 3.072 unit alat dan mesin pertanian (alsintan), mulai dari traktor roda dua dan empat, pompa air, rice transplanter, hingga combine harvester.
Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan benih 100 persen untuk lahan seluas 17.567 hektare, mencakup benih padi gogo, padi biofortifikasi, dan program intensifikasi.
Transformasi pertanian di NTT semakin diperkuat melalui pembentukan 81 Brigade Pangan dari target 88 unit yang tersebar di 17 kabupaten/kota. Brigade ini menjadi motor penggerak mekanisasi pertanian sekaligus wadah regenerasi petani muda berbasis korporasi.
Optimasi Lahan dan Cetak Sawah Rakyat
Program Optimalisasi Lahan Kering (Oplah) seluas 28.723 hektare serta Cetak Sawah Rakyat (CSR) turut menjadi fondasi penting peningkatan indeks pertanaman. Di Kabupaten Kupang, misalnya, pembangunan sawah baru pada 2025 telah mencapai 423 hektare dari target 500 hektare.
Didukung peningkatan curah hujan, perbaikan jaringan irigasi tersier, bantuan pompa air, serta peran aktif penyuluh yang kini memperoleh dukungan biaya operasional dari APBD petani di sejumlah daerah mampu menanam hingga dua bahkan tiga kali dalam setahun.
Pengakuan Nasional
Sebagai bagian dari penghargaan tersebut, Kementerian Pertanian RI juga memberikan apresiasi kepada PJ Swasembada Pangan Provinsi NTT Andi Faisal serta Kepala Dinas Pertanian NTT Joaz Bily Oemboe Wanda atas peran mereka dalam mengawal agenda strategis swasembada pangan.
Penghargaan PIN Swasembada Pangan Nasional ini menegaskan posisi NTT sebagai contoh nyata transformasi pertanian di wilayah dengan keterbatasan agroklimat. Dari Bumi Flobamora, NTT kini melangkah mantap menuju kemandirian pangan berkelanjutan, sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan Indonesia. *** (*/WN-01)








