Uskup Mgr. Yohanes Hans Monteiro : “Sebagai Uskup Bukan Kehendak Saya, Melainkan Panggilan dan Rahmat Allah”

LARANTUKA : WARTA-NUSANTARA.COM– Romo Yohanes Hans Monteiro, Pr usai ditahbiskan menjadi Uskup Larantuka oleh Uskup Emeritus Mgr. Ftansiskus Kopong Kung, Pr menyampaikan sambutan perdana dihadapan ribuan umat dan para Uskup se-Indonesia, para Imam dan biarawan sungguh filosofif-teologis untuk disimak secara lengkap oleh kita semua.

Tahbisan Uskup Larantuka yang baru itu, berlangsung di Gereja Katedral Larantuka, Rabu, 11 Pebruari 2026. 𝗠𝗴𝗿. 𝗠𝗶𝗰𝗵𝗮𝗲𝗹 𝗔. 𝗣𝗮𝗵𝗹𝗼𝘄𝗶𝗰𝘇, pejabat yang mewakili Nunsio Apostolik Kedubes Vatikan untuk indonesia, 𝗞𝗲𝘁𝘂𝗮 𝗞𝗪𝗜 𝗠𝗴𝗿. 𝗔𝗻𝘁𝗼𝗻𝗶𝘂𝘀 𝗦𝘂𝗯𝗶𝗮𝗻𝘁𝗼 𝗕𝘂𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻, Anggota DPR RI, Melki Mekeng, Gubernur NTT, Melki Laka Lena, Ketua DPRD NTT, Emy Nomleni, Anggota DPRD NTT, Viktor Mado Watun, Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dien, Bupati Lembata, Petrus Knisius Tuaq, Bupati Sikka, Yuventus Prima Yoris Kago. Hadir pula, Ketua DPRD Lembata, Syarifudin, Sira, Wakil Ketua DPRD, Gewura Fransiskus, FX Namang, dan anggota DPRD Lembata, Petrus Gero, Yos Beda Hayon, Gaspar Sio Apelabi.

Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengawali sambutannya mengatakan, “Dengan hati penuh syukur dan kerendahan hati, pada hari yang penuh rahmat ini saya berdiri di hadapan Anda sekalian sebagai seorang uskup yang baru ditahbiskan, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗸𝗲𝗵𝗲𝗻𝗱𝗮𝗸 𝘀𝗮𝘆𝗮 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶, 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗶𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗽𝗮𝗻𝗴𝗴𝗶𝗹𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂𝗶 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮-𝗡𝘆𝗮.”.

Tahbisan episkopal bukan pertama-tama suatu kehormatan pribadi, melainkan sebuah 𝗽𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗴𝗶 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮. Dalam terang ajaran 𝗞𝗼𝗻𝘀𝗶𝗹𝗶 𝗩𝗮𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗜, 𝗟𝘂𝗺𝗲𝗻 𝗚𝗲𝗻𝘁𝗶𝘂𝗺 𝟮𝟭, dinyatakan bahwa 𝙚𝙥𝙞𝙨𝙠𝙤𝙥𝙖𝙩 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙥𝙚𝙣𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙠𝙧𝙖𝙢𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙝𝙗𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙪𝙨𝙠𝙪𝙥 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙨𝙞𝙣𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙧𝙖 𝙧𝙖𝙨𝙪𝙡 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙩𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙠𝙚𝙝𝙖𝙙𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙆𝙧𝙞𝙨𝙩𝙪𝙨 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙙𝙞 𝙩𝙚𝙣𝙜𝙖𝙝 𝙪𝙢𝙖𝙩-𝙉𝙮𝙖.


Melalui penumpangan tangan dan doa tahbisan, Gereja memohon agar Roh Kudus, Spiritus Principalis, dicurahkan kepada saya, supaya saya dapat menjalankan tugas sebagai 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮𝗿 𝗶𝗺𝗮𝗻, 𝗽𝗲𝗻𝗴𝘂𝗱𝘂𝘀 𝘂𝗺𝗮𝘁, 𝗱𝗮𝗻 𝗴𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗮 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮. Dengan demikian saya tidak datang sebagai pemilik Gereja, melainkan sebagai 𝗽𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘀𝗲𝗸𝘂𝘁𝘂𝗮𝗻, 𝗽𝗲𝗻𝗷𝗮𝗴𝗮 𝗸𝗲𝘀𝗮𝘁𝘂𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗸𝘀𝗶 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗿𝗮𝗽𝗮𝗻.
Bagi Gereja lokal Keuskupan Larantuka, tahbisan ini menegaskan bahwa Kristus sendiri terus menyertai umat-Nya sejak benih iman ditaburkan oleh para 𝗺𝗶𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗗𝗼𝗺𝗶𝗻𝗶𝗸𝗮𝗻, 𝗬𝗲𝘀𝘂𝗶𝘁, 𝗱𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝘁 𝗦𝗮𝗯𝗱𝗮 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵, hingga pertumbuhan iman hari ini yang 𝗱𝗶𝗷𝗮𝗴𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗱𝗶𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗶 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝘂𝗺𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗱𝗲𝗿𝗵𝗮𝗻𝗮 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂𝗶 𝗱𝗲𝘃𝗼𝘀𝗶 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗧𝘂𝗮𝗻 𝗠𝗮 𝗥𝗲𝗶𝗻𝗵𝗮 𝗟𝗮𝗿𝗮𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮, persaudaraan awam, komunitas basis gereja, serta karya pelayanan para imam, biarawan, dan biarawati di keuskupan ini.


Tahbisan ini berlangsung di 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝗞𝗮𝘁𝗲𝗱𝗿𝗮𝗹 𝗟𝗮𝗿𝗮𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮—tempat saya 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝗺𝗮𝗻𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻, tempat saya menerima 𝗞𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮, tempat saya menerima 𝗦𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 𝗧𝗼𝗯𝗮𝘁 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮, tempat saya menerima 𝗦𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 𝗞𝗿𝗶𝘀𝗺𝗮, tempat saya 𝗶𝘁𝗮𝗵𝗯𝗶𝘀𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗶𝗺𝗮𝗺, dan hari ini menerima 𝗸𝗲𝗽𝗲𝗻𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝘁 𝗶𝗺𝗮𝗺𝗮𝘁. Sebagai anak nagi, anak Kota Reinha, gereja katedral ini menyimpan sejarah rohani perjalanan panggilan saya.


Namun terpilih dan ditahbiskan hari ini juga menyadarkan saya akan sabda Tuhan: “𝗦𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗻𝗮𝗯𝗶 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗶𝗵𝗼𝗿𝗺𝗮𝘁𝗶 𝗱𝗶 𝗻𝗲𝗴𝗲𝗿𝗶 𝗮𝘀𝗮𝗹𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶.” Di tengah sambutan hangat dan dukungan umat lintas agama pada 3 Februari kemarin, saya membaca sebuah postingan berjudul: 𝗠𝗮𝗵𝗸𝗼𝘁𝗮 𝗱𝘂𝗿𝗶 𝗱𝗶 𝗯𝗮𝗹𝗶𝗸 𝘀𝗼𝗿𝗮𝗸-𝘀𝗼𝗿𝗮𝗶. 𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗶𝗻𝗶 𝗱𝗶𝘀𝗮𝗺𝗯𝘂𝘁, 𝗲𝘀𝗼𝗸 𝘀𝗶𝗮𝗽 𝗱𝗶𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯𝗸𝗮𝗻.
Ya, 𝗶𝗺𝗮𝗺𝗮𝘁 𝘁𝗮𝗻𝗽𝗮 𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗸𝗲𝗸𝘂𝗮𝘀𝗮𝗮𝗻. 𝗜𝗺𝗮𝗺𝗮𝘁 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗽𝗲𝗻𝘆𝗲𝗿𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻𝗮𝗻. Disalib dan melalui salib, panggilan dimurnikan.
Saudara-saudari yang terkasih, saya menyadari bahwa perayaan tahbisan ini berlangsung di tengah situasi 𝗸𝗲𝘂𝘀𝗸𝘂𝗽𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗹𝘂𝗸𝗮. Saudara-saudari kita, umatku, 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗽𝗲𝗻𝘆𝗶𝗻𝘁𝗮𝘀 𝗲𝗿𝘂𝗽𝘀𝗶 𝗚𝘂𝗻𝘂𝗻𝗴 𝗟𝗲𝘄𝗼𝘁𝗼𝗯𝗶 𝗺𝗮𝘀𝗶𝗵 𝘁𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 𝗱𝗶 𝗵𝘂𝗻𝗶𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮, 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗴𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗹𝘂𝗺𝗽𝘂𝗿 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗲𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸𝗽𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗱𝗲𝗽𝗮𝗻. 𝗗𝗲𝗺𝗶𝗸𝗶𝗮𝗻 𝗽𝘂𝗹𝗮 𝗚𝘂𝗻𝘂𝗻𝗴 𝗜𝗹𝗲 𝗟𝗲𝘄𝗼𝘁𝗼𝗹𝗼𝗸 𝗱𝗶 𝗟𝗲𝗺𝗯𝗮𝘁𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗳𝗹𝘂𝗸𝘁𝘂𝗮𝘁𝗶𝗳. Dalam situasi ini, Gereja dipanggil untuk hadir, mendengarkan, dan menemani dengan kasih.
Hari ini kita juga mengakui iman Gereja yang kita hidupi bersama. Kita percaya kepada Gereja yang kudus, namun sekaligus kita mengakui bahwa Gereja terdiri dari manusia yang rapuh dan berdosa. Kekudusan Gereja bersumber dari 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀, Kepala Tubuh, dan dari Roh Kudus yang menghidupkan Gereja. Namun pada saat yang sama Gereja memikul luka-luka sejarah, kelemahan manusia, dan kegagalan para pelayannya.
Justru dalam ketegangan inilah kita dipanggil untuk tetap berharap, karena Allah setia membentuk kembali dan menyempurnakan bejana tanah liat yang rapuh ini. Pada titik ini, Iman meyakinkan kita bahwa 𝗱𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮, 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗽𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹𝗸𝗮𝗻 𝘂𝗺𝗮𝘁-𝗡𝘆𝗮.
Sebagai uskup, saya dipanggil untuk 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂 𝘀𝗲𝗺𝗽𝘂𝗿𝗻𝗮, 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗶𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗧𝘂𝗯𝘂𝗵 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗱𝗶𝗺𝘂𝗿𝗻𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵. Saya ingin berjalan bersama umat, bukan di atas umat; mendengarkan, bukan hanya berbicara; menyembuhkan, bukan menghakimi; dan membangun persekutuan, bukan perpecahan.
Pada kesempatan yang penuh rahmat ini, saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Bapak Suci 𝗣𝗮𝘂𝘀 𝗟𝗲𝗼 𝗫𝗜𝗩 yang telah mengangkat saya sebagai Uskup Larantuka, meneruskan kegembalaan 𝗠𝗴𝗿. 𝗙𝗿𝗮𝗻𝘀𝗶𝘀𝗸𝘂𝘀 𝗞𝗼𝗽𝗼𝗻𝗴 𝗞𝘂𝗻𝗴. Kepada Bapa Suci, 𝘀𝗮𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗸𝘁𝗶, 𝗸𝗲𝘁𝗮𝗮𝘁𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘀𝗲𝗸𝘂𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗵 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗸𝗵𝘁𝗮 𝗣𝗲𝘁𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂𝗶 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗠𝘂𝗹𝗶𝗮 𝗡𝘂𝗻𝘀𝗶𝘂𝘀 𝗔𝗽𝗼𝘀𝘁𝗼𝗹𝗶𝗸 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝘄𝗮𝗸𝗶𝗹𝗶 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗠𝗴𝗿. 𝗠𝗶𝗰𝗵𝗮𝗲𝗹.
Kepada uskup konsekrator, para uskup ko-konsekrator, Bapak Kardinal, serta para uskup yang hadir, saya mengucapkan terima kasih atas persaudaraan episkopal dan kesaksian iman yang menguatkan saya.
Secara khusus saya menyampaikan terima kasih yang tulus dan mendalam kepada Uskup Emeritus Keuskupan Larantuka, 𝗠𝗴𝗿. 𝗙𝗿𝗮𝗻𝘀𝗶𝘀𝗸𝘂𝘀 𝗞𝗼𝗽𝗼𝗻𝗴 𝗞𝘂𝗻𝗴 yang selama 24 tahun telah menggembalakan umat Allah dengan kesetiaan, kesabaran, dan pengorbanan. Jejak pelayanan Bapak Uskup akan selalu menjadi bagian dari sejarah iman keuskupan ini.
Kepada para imam, biarawan, dan biarawati, terima kasih atas kesetiaan pelayanan Anda. Anda adalah 𝘁𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗽𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗮𝗻 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮.
Kepada para pemimpin pemerintah pusat dan daerah, para anggota Dewan Perwakilan Rakyat, para pimpinan perguruan tinggi, para tokoh agama, tokoh adat, masyarakat, sahabat, dan kenalan, serta seluruh umat beriman, terima kasih atas doa, dukungan, dan kerja sama demi kebaikan bersama dan martabat manusia.
Kepada panitia perayaan tahbisan uskup ini, saya mengucapkan terima kasih atas seluruh pengorbanan dan pelayanan Anda. Tak lupa tangan-tangan tak kelihatan. 𝗢𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘁𝘂𝗮 𝘀𝗮𝘆𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴. 𝗦𝗮𝘂𝗱𝗮𝗿𝗮 𝘀𝗮𝘆𝗮 𝗮𝗱𝗮 𝗱𝗶 𝘀𝗶𝗻𝗶, 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶 𝗸𝘂𝗿𝘀𝗶 𝗿𝗼𝗱𝗮 𝗶𝗻𝗶, 𝘀𝗮𝘂𝗱𝗮𝗿𝗮 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗕𝗮𝗽𝗮𝗸 𝘀𝗮𝘆𝗮 𝗺𝗮𝘀𝗶𝗵 𝘁𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗧𝗮𝗻𝘁𝗲.
𝗦𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂𝗵 𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗯𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮𝗻, Terima kasih atas doa, dukungan dan kerja sama demi kebaikan kita semua. Saya mengucapkan terima kasih atas pengorbanan pelayanan anda sekalian yang telah membantu dengan cara yang istimewa.
Sebagai uskup yang baru ditahbiskan, saya datang dengan moto pelayanan: 𝗨𝗻𝘂𝗺 𝗖𝗼𝗿𝗽𝘂𝘀, 𝗨𝗻𝘂𝘀 𝗦𝗽𝗶𝗿𝗶𝘁𝘂𝘀, 𝗨𝗻𝗮 𝗦𝗽𝗲𝘀 — 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝘁𝘂𝗯𝘂𝗵, 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗿𝗼𝗵, 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗵𝗮𝗿𝗮𝗽𝗮𝗻. Saya berharap Keuskupan Larantuka sungguh menjadi 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝘁𝘂𝗯𝘂𝗵 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀, 𝗱𝗶𝗴𝗲𝗿𝗮𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗥𝗼𝗵 𝗞𝘂𝗱𝘂𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗱𝗮𝗻 𝗱𝗶𝗮𝗿𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗵𝗮𝗿𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗸𝗲𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁𝗮𝗻.
Saya ingin berjalan bersama umat sebagai Gereja peziarah yang setia pada 𝘄𝗮𝗿𝗶𝘀𝗮𝗻 𝗶𝗺𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗱𝗲𝘃𝗼𝘀𝗶 𝗸𝗵𝗮𝘀 𝗟𝗮𝗿𝗮𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮, namun sekaligus terbuka terhadap tantangan zaman demi pewartaan Injil yang penuh kasih dan membebaskan.
Saya memohon doa dari seluruh umat agar saya setia pada panggilan ini, rendah hati dalam pelayanan, teguh dalam iman, dan penuh kasih dalam penggembalaan.
Akhirnya, saya mempercayakan seluruh pelayanan ini kepada 𝗕𝘂𝗻𝗱𝗮 𝗠𝗮𝗿𝗶𝗮 yang dihormati sebagai 𝗧𝘂𝗮𝗻 𝗠𝗮 𝗥𝗲𝗶𝗻𝗵𝗮 𝗟𝗮𝗿𝗮𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮, teristimewa pada hari ini, pada hari 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗮𝘄𝗮𝗻 𝗠𝗮𝗿𝗶𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗱𝗶 𝗟𝗼𝘂𝗿𝗱𝗲𝘀. Maria yang menampakkan diri pada tahun 1858 kepada Bernadette menyatakan diri sebagai 𝗜𝗺𝗺𝗮𝗰𝘂𝗹𝗮𝘁𝗮 𝗖𝗼𝗻𝗰𝗲𝗽𝘁𝗶𝗼 — 𝗕𝘂𝗻𝗱𝗮 𝗠𝗮𝗿𝗶𝗮 𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻𝗱𝘂𝗻𝗴 𝘁𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗻𝗼𝗱𝗮 𝗮𝘀𝗮𝗹.
Di Larantuka menjadi bagian dari doa devosional umat, dalam doa tua 𝗟𝗲𝘂𝘃𝗮𝗱𝗼 𝗦𝗲𝗷𝗮, “𝙈𝙖𝙧𝙞𝙖, 𝙎𝙚𝙣𝙝𝙤𝙧𝙖 𝙉𝙤𝙨𝙨𝙖 𝘾𝙤𝙣𝙘𝙚𝙗𝙞𝙙𝙖 𝙨𝙚𝙢 𝙈á𝙘𝙪𝙡𝙖”
𝗣𝗮𝘁𝗲𝗿 𝗣𝗶𝗲𝘁 𝗛𝗲𝗿𝗸𝗲𝗻𝘀, 𝗦𝗩𝗗 dalam karyanya 𝗟𝗲𝗮𝗱𝗲𝗿 𝘁𝗵𝗲 𝗙𝗹𝗼𝗿𝗶𝗻 𝗡𝗮𝘁𝗶𝗼𝗻, 𝗞𝘂𝗺𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻 𝗟𝗮𝗴𝘂-𝗹𝗮𝗴𝘂 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗸𝘀-𝘁𝗲𝗸𝘀 𝗼𝗳 𝗙𝗹𝗼𝗿𝗲𝘀 (𝟭𝟵𝟱𝟯) menulis tentang 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘯𝘴𝘦𝘱 𝘐𝘮𝘮𝘢𝘤𝘶𝘭𝘢𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘦𝘳𝘯𝘢𝘥𝘦𝘵𝘵𝘦 𝘚𝘰𝘶𝘣𝘪𝘳𝘰𝘶𝘴 (1858) 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘥𝘦𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘵𝘦𝘰𝘭𝘰𝘨 𝘒𝘢𝘵𝘰𝘭𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘥𝘰𝘨𝘮𝘢. 𝘋𝘰𝘮𝘪𝘯𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘗𝘰𝘳𝘵𝘶𝘨𝘢𝘭 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘔𝘢𝘳𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘯𝘰𝘥𝘢. 𝘜𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘢𝘣𝘢𝘥 𝘬𝘦-16 𝘥𝘪 𝘓𝘢𝘳𝘢𝘯𝘵𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘚𝘪𝘬𝘬𝘢, 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘪𝘵𝘶𝘢𝘴𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘐𝘮𝘢𝘮.
𝗦𝗲𝗺𝗼𝗴𝗮 𝗕𝘂𝗻𝗱𝗮 𝗠𝗮𝗿𝗶𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗯𝗮𝗱-𝗮𝗯𝗮𝗱 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗻𝘁𝘂𝗻 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝗞𝗲𝘂𝘀𝗸𝘂𝗽𝗮𝗻 𝗟𝗮𝗿𝗮𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗽𝗲𝗿𝘇𝗶𝗮𝗿𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗶𝗺𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝘄𝗮 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘀𝗲𝗺𝘂𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗮𝗽𝗮𝗶 𝗸𝗲𝗽𝗲𝗻𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀.
Terima kasih atas doa, dukungan, dan kasih Anda semua.
Tuhan memberkati. *** (*/WN-Karolus Kia Burin)







