Agama  

TAK LANGSUNG JADI

TAK LANGSUNG JADI
(Ide Inspiratif Homili Minggu Paskah 5 April 2026, Injil Yoh 20: 1 – 9)

Oleh : Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM— Pagi itu masih gelap. Tidak hanya secara suasana, tetapi juga dalam hati para murid. Kehilangan, ketakutan, dan kebingungan menyelimuti mereka. Maria Magdalena datang ke kubur dengan hati yang penuh duka. Ketika ia melihat batu sudah terguling, pikirannya langsung menuju kemungkinan terburuk: “Tuhan diambil orang.” Ia tidak langsung mengerti.

Ketika Petrus dan Yohanes mendengar kabar itu, mereka berlari ke kubur. Bayangkan suasananya: napas terengah-engah (orang Flores bilang “napas satu-satu”), hati berdebar, pikiran penuh tanda tanya. Mereka tidak berlari dengan iman yang sempurna. Mereka berlari dengan rasa penasaran, kebingungan, dan mungkin juga sedikit harapan. Mereka juga tidak langsung mengerti. Namun justru di situlah keindahan kisah Paskah ini: iman tidak muncul secara instan. Iman tidak langsung jadi. Iman bertumbuh dalam proses.

Oplus_16908288

Sering kali kita berpikir bahwa iman harus kuat sejak awal. Kita merasa bersalah ketika ragu, ketika tidak mengerti, ketika hati kita penuh pertanyaan. Kita berpikir bahwa menjadi orang beriman berarti harus selalu yakin tanpa goyah. Itu juga barangkali muncul saat kita mengucapkan kembali janji baptis kita dan mendoakan kredo. Kita menjadi ragu dengan diri kita: hari ini ucap tetapi besok akan jatuh dan jatuh lagi seperti sepenggal lirik Ariel Noah: Terjatuh dan terjatuh lagi.

Tetapi kalau kita masuk dalam pengalaman para murid saat mendengar kisah kebangkitan maka justru hal inilah yang terjadi hal mana terjadi dengan Maria Magdalena. Ia salah mengerti. Petrus bingung. Yohanes pun baru mulai percaya setelah melihat tanda-tanda. Tidak ada yang langsung memahami rencana Tuhan secara utuh. Tidak ada yang langsung memiliki iman yang sempurna.Dan itu tidak masalah. Karena iman sejati bukan tentang “langsung jadi,” tetapi terbentuk setelah jatuh tidak hanya sekali. Karena itu iman lebih dimaknai sebagai keberanian untuk terus melangkah, meski belum mengerti sepenuhnya.Ada sesuatu yang sangat indah dari tindakan mereka: mereka tetap datang, mereka tetap berlari, mereka tetap mencari. Mereka tidak berhenti hanya karena bingung.

Di sinilah pesan penting bagi kita hari ini: Tuhan tidak menuntut kita untuk langsung memiliki iman yang sempurna. Tuhan tidak meminta kita untuk memahami segalanya sekaligus. Yang Tuhan inginkan adalah hati yang mau mencari, langkah yang mau bergerak, dan kesediaan untuk terus datang kepada-Nya. Iman adalah kesediaan dan optimisme untuk terus melangkah meski masih terus tersandung dan jatuh tidak hanya sekali: jatuh dan jatuh lagi.

Mungkin saat ini kita sedang berada dalam “pagi yang gelap” dalam hidup kita:
• doa yang terasa tidak dijawab
• masalah yang belum selesai
• rencana yang tidak berjalan sesuai harapan
• atau hati yang masih penuh tanda tanya

Bagusnya, kita datang kepada Tuhan, tetapi belum mengerti. Kita berdoa, tetapi masih bingung. Kita percaya, tetapi juga ragu. Dan itu manusiawi. Jadi yang menjadi pertanyaan bukanlah: “Apakah iman saya sudah sempurna?” Tetapi: “Apakah saya tetap datang? Apakah saya tetap mencari?” Karena iman yang hidup adalah iman yang bergerak.

Seperti Petrus dan Yohanes yang berlari ke kubur, kita pun dipanggil untuk terus melangkah:
• tetap berdoa meski belum melihat jawaban
• tetap berharap meski situasi belum berubah
• tetap percaya meski belum memahami

Dalam proses itulah, perlahan-lahan, kita mulai melihat. Dan dari melihat, kita mulai percaya. Iman tidak selalu dimulai dari keyakinan penuh. Kadang iman dimulai dari langkah kecil: datang, melihat, lalu perlahan mengerti.

Dan sering kali, justru dalam perjalanan itu, kita mengalami Tuhan secara lebih nyata. Maka hari ini, jangan takut jika iman kita masih “dalam proses.” Jangan merasa gagal hanya karena kita masih bertanya. Jangan menyerah hanya karena kita belum memahami.Teruslah datang. Teruslah mencari. Teruslah berjalan. Karena Tuhan tidak menunggu Anda menjadi sempurna untuk datang kepada-Nya. Tuhan justru menemui Anda di tengah proses itu.

Dan seperti para murid di pagi Paskah, suatu hari nanti Anda akan sampai pada titik itu—melihat, dan akhirnya percaya. Kata kuncinya kira-kira ini: Iman bukan tentang langsung mengerti, tetapi tentang tetap berjalan sampai akhirnya percaya.

Keyakinan inilah yang menjadi inspirasi bagi saya ketika menulis buku: RANCANG DIRI, RAIH KARIER, buku panduan mata kuliah Pengembangan Diri. Pada buku yang ditujukkan untuk mata kuliah umum yang tentu saja dibaca tidak saja orang Katolik, saya terinspirasi dengan kejatuhan Yesus sampai tiga kali. Kejatuhani tu tidak tertulis dalam Kitab Suci bahwa sampai tiga kali. Tetapi sejarah kejatuhan manusia yang terus terjadi hingga kini mengingatkan bahwa yang mau ditekankan, Yesus jatuh tetapi bangun lagi untuk meneruskan perjalanan salib.

Kalau demikian kejatuhan kita adalah bagian dari proses untuk menggapai iman. Iman kita tidak langsung jadi tetapi Tuhan mengajak kita untuk bangkit dan bergerak, berjalan, malah berlari lagi. Kita berlari bersama Maria Magdalena yang tak paham, Petrus yang bingung tetapi berlari, Yohanes yang terus melangkah meski ia ragu. Amin

Robert Bala. Penulis Buku RANCANG DIRI, RAIH KARIER, Jan 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *