Warga Lamaau Kesulitan Air Bersih, Pemda Lembata dan PT Cendana Indopearls Distribusi 15.000 Liter Air
LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM-— Warga Desa Lamaau, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, menghadapi kesulitan air bersih akibat kekeringan yang mulai melanda wilayah tersebut. Merespons kondisi itu, Pemerintah Kabupaten Lembata berkolaborasi dengan PT Cendana Indopearls menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat, Jumat (17/4/2026).




Sebanyak tiga mobil tangki dengan total kapasitas 15.000 liter air didistribusikan langsung kepada warga terdampak. Penyaluran dilakukan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lembata sebagai bagian dari upaya tanggap darurat menghadapi krisis air bersih.
Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq, yang turun langsung ke lokasi mengatakan, kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta menjadi langkah penting dalam menjawab kebutuhan mendesak masyarakat.




“Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap warga yang mengalami kesulitan air bersih. Kami berharap kolaborasi seperti ini terus diperkuat,” ujar Bupati Kanis.
Pimpinan PT Cendana Indopearls, Haris, menegaskan bahwa keterlibatan perusahaan dalam aksi kemanusiaan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sosial.
“Kami ingin hadir di tengah masyarakat, terutama saat menghadapi kondisi sulit seperti sekarang. Air bersih adalah kebutuhan dasar, dan kami merasa terpanggil untuk membantu,” kata Haris.




Ia menambahkan, pihaknya siap melanjutkan dukungan apabila kondisi kekeringan masih berlanjut, dengan tetap berkoordinasi bersama pemerintah daerah dan BPBD.
Warga menyambut baik bantuan tersebut. Saleh Solan, tokoh masyarakat Desa Lamaau, mengaku bantuan air bersih sangat membantu kebutuhan sehari-hari warga.
“Terima kasih kepada pemerintah dan pihak perusahaan. Bantuan ini sangat berarti bagi kami yang sedang kesulitan air,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Wati, warga setempat, yang mengaku kesulitan memperoleh air bersih dalam beberapa waktu terakhir.



“Dengan adanya bantuan ini, kami sangat terbantu untuk kebutuhan rumah tangga,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Lembata, Andris Koban, menjelaskan bahwa kekeringan yang terjadi dipengaruhi oleh perubahan iklim yang menyebabkan musim kemarau datang lebih awal dan lebih kering dari biasanya.
“Berdasarkan peringatan dini dari BMKG, Lembata termasuk wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan meteorologis pada 2026,” kata Andris.
Ia menyebutkan, curah hujan di sejumlah wilayah NTT, termasuk Ile Ape Timur, berada pada kategori rendah, yakni 0–50 milimeter per dasarian. Kondisi ini berpotensi memicu krisis air bersih yang berkepanjangan, dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga Oktober mendatang.
Selain faktor iklim, kondisi di Ile Ape Timur juga dipengaruhi aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok yang fluktuatif, sehingga turut berdampak pada ketersediaan sumber air di sejumlah desa, seperti Jontona, Lamatokon, dan Baolaliduli.
Pemerintah daerah mengapresiasi keterlibatan sektor swasta dalam membantu masyarakat dan berharap kolaborasi serupa dapat terus dilakukan untuk mengatasi dampak kekeringan yang meluas di wilayah Lembata.
“Diperlukan kerja bersama agar masyarakat dapat melewati kondisi ini dengan baik,” pungkas Bupati Kanis Tuaq. ***Prokompimkablembata)












