Rifai Mukin: Dari Cita-cita Pengacara Menjadi Pengawas Sekolah, Sebuah Takdir dan Dedikasi

Rifai Mukin: Dari Cita-cita Pengacara Menjadi Pengawas Sekolah, Sebuah Takdir dan Dedikasi

LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM—   Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026 tidak hanya menjadi seremonial, tetapi juga momen untuk mengenal sosok-sosok di balik layar kemajuan pendidikan di Kabupaten Lembata. Di sela-sela kesibukan usai pelaksanaan Apel Hardiknas di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata, awak media berkesan berbincang hangat dengan Rifai Mukin, M.Pd., Pengawas Sekolah Ahli Madya Tingkat Menengah Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti.

Takdir yang Mengantarkan pada Dunia Pendidikan

Berbeda dengan kebanyakan pendidik yang sejak awal bercita-cita menjadi guru, Rifai Mukin justru memiliki jalan hidup yang unik. Lahir di Ende, 27 April silam, pria yang pernah aktif di FKPPI, Kasgoro NTT, Gemuis NTT, IMM dan Pemuda Muhammadiyah NTT ini mengaku bahwa menjadi guru atau pengawas bukanlah impian awalnya.

Oplus_16908288

“Dulu saya ingin menjadi pengacara atau businessman. Saya ingin kuliah di Fakultas Hukum atau Ekonomi. Namun, kata Ayah, lebih baik kuliah di keguruan. Sebagai anak, saya ikut saja kemauan orang tua. Ternyata, pilihan orang tua itulah yang mengantarkan saya pada posisi hari ini sebagai pengawas sekolah,” ujarnya dengan santai.

Bagi Rifai, hidup ini soal pilihan dan dipilih. “Kadang kita bersungguh-sungguh membuat pilihan, tapi Tuhan punya hak memilih. Dia yang Maha Kehendak, kita dipilih menurut kehendak-Nya. Inilah takdir,” tambahnya bijak.

Sosoknya yang humoris terlihat ketika ditanya mengenai nama lengkapnya, Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, yang terbilang cukup panjang. “Itu dua ekor kambing lho,” candanya disambut tawa lepas. “Artinya aqiqah dalam Islam menyebutnya begitu, makanya nama saya yang panjang dan lumayan berat ‘mikul’ nama sepanjang itu,” jelasnya, sembari memberikan senyum khas anak Kampung Baru Larantuka.

Hardiknas 2026: Momentum Refleksi Mendalam

Ditanya mengenai kesan Hardiknas tahun ini, Rifai menilai pelaksanaannya “biasa saja” namun memiliki makna yang berbeda. Jika tahun-tahun sebelumnya Kemenag Lembata bergabung dalam satu wadah bersama madrasah, tahun ini pelaksanaan apel dilakukan di masing-masing Satuan Pendidikan.

Menurutnya, hal ini justru memberikan ruang yang lebih luas. “Tidak menafikan kebersamaan, namun ada hal lain yang harus dilakukan, yaitu merefleksi diri lebih dalam bersama civitas madrasah dan komite. Mengurai apa, bagaimana, untuk apa, dan buat apa, sebagaimana visi misi madrasah dalam analisis SWOT. Mau dibawa ke mana madrasah ini? Di Hardiknas inilah momen yang tepat untuk introspeksi,” tegas pria asal Lamakera negeri menara Paus.

Mengakhiri wawancara Rifai Mukin berpesan “Jangan kau sia-siakan gurumu, bukan berarti mengabaikan muridmu” tandasnya.

#RAM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *