KASIH YANG TERLALU…
KASIH YANG TERLALU…
Renungan untuk Misa Pentakosta,31 Mei 2025, Injil Yohanes . oh 3:16-18
Oleh : Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM— Saat mendengar kata “terlalu”, mungkin sebagian dari kita langsung teringat gaya khas Rhoma Irama. Kata ini biasanya dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang sudah begitu dalam, begitu kuat, sampai sulit dijelaskan dengan logika. Terlalu sedih. Terlalu sakit. Terlalu cinta.



Dan rasanya, kata itulah yang paling cocok untuk menggambarkan Injil hari ini: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” (Yohanes 3:16)
Ini bukan kasih biasa. Ini kasih yang terlalu besar. Bayangkan. Allah sebenarnya sudah memberikan segalanya kepada manusia. Dunia diciptakan begitu indah. Manusia diberi akal budi, hati, dan kebebasan untuk memilih yang baik.
Tetapi kenyataannya berbeda. Manusia jatuh dalam dosa. Manusia lebih sering mengikuti ego, keinginan diri, dan kesenangan sesaat. Hubungan dengan Tuhan rusak.
Lalu apa yang dilakukan Allah? Apakah Ia marah lalu meninggalkan manusia? Tidak.
Justru dalam keadaan inilah dapat terlihat betapa kasih yang ‘terlalu’ besar. Allah tidak menjauh. Ia justru mendekat. Ia rela memberikan Putra-Nya sendiri untuk menyelamatkan manusia. Tuhan tidak hanya berbicara tentang cinta dari surga. Ia datang sendiri ke dunia. Ia berjalan bersama orang-orang kecil. Ia memeluk yang terluka. Ia menangis bersama yang menderita. Bahkan Ia rela wafat di kayu salib demi manusia.
Lalu, apakah setelah menunjukkan kasihNya yang terlalu besar itu, Ia berhenti berkrya? Tuhan tidak berhenti di sana. Sesudah menyelamatkan manusia, Tuhan juga tidak membiarkan manusia berjalan sendirian. Ia memberikan Roh Kudus — kehadiran Tuhan yang terus menghangatkan, menguatkan, dan menemani hidup manusia setiap hari.
Karena itu, Pesta Tritunggal Mahakudus sebenarnya bukan pertama-tama soal rumus yang sulit dipahami. Pesta ini berbicara tentang kasih Allah yang luar biasa besar. Tritunggal bisa kita bayangkan seperti matahari.
Allah Bapa adalah mataharinya — sumber kehidupan dan sumber kasih. Tanpa matahari, dunia menjadi gelap dan dingin. Tanpa Tuhan, hidup manusia kehilangan arah.
Yesus Kristus adalah cahaya matahari yang sampai ke bumi. Kita memang tidak bisa menyentuh matahari secara langsung, tetapi kita bisa merasakan sinarnya. Begitu juga Allah yang tidak kelihatan menjadi dekat dan nyata lewat Yesus. Dalam diri Yesus, kita melihat wajah Allah yang penuh kasih
Sedangkan Roh Kudus adalah kehangatan matahari. Kehangatan itu tidak terlihat, tetapi bisa dirasakan. Ia hadir saat hati kita lelah. Ia menghibur ketika kita kecewa. Ia memberi kekuatan saat kita hampir menyerah. Dan menariknya, matahari tidak memilih kepada siapa ia bersinar. Orang baik maupun orang jahat tetap mendapat cahaya dan kehangatan yang sama.
Begitu juga kasih Tuhan. Yohanes 3:16 tidak mengatakan bahwa Allah hanya mengasihi orang suci atau orang sempurna. Injil berkata bahwa Allah mengasihi dunia — dunia yang sering jatuh, sering lupa, bahkan kadang menjauh dari-Nya.
Itulah kasih yang terlalu.
Terlalu besar untuk dimengerti sepenuhnya.
Terlalu dalam untuk diukur.
Terlalu setia untuk berhenti mengasihi manusia.
Kadang kita merasa tidak layak dicintai Tuhan karena dosa dan kegagalan kita. Tetapi salib Kristus membuktikan bahwa kasih Tuhan selalu lebih besar daripada kelemahan manusia. Tuhan tidak menunggu kita sempurna baru mengasihi kita. Ia lebih dahulu datang mencari dan menyelamatkan kita.
Karena itu, Injil hari ini bukan terutama tentang hukuman, melainkan tentang kasih.
Mungkin hari ini ada yang sedang lelah. Ada keluarga yang sedang retak. Ada orang yang merasa doanya tidak didengar Tuhan.
Ingatlah matahari. Kadang awan menutupi langit, tetapi matahari sebenarnya tetap ada. Begitu juga kasih Tuhan. Kadang hidup terasa gelap, tetapi kasih-Nya tidak pernah padam.
Maka pada Pesta Tritunggal Mahakudus ini, kita diajak bukan hanya memahami Tuhan dengan pikiran, tetapi merasakan-Nya dengan hati. Dan kalau kita sudah disentuh oleh kasih itu, kita juga dipanggil menjadi seperti “matahari kecil” bagi sesama: membawa terang, memberi kehangatan, dan menghadirkan harapan. Sebab dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar. Dunia sedang kekurangan kasih.
Kasih yang terlalu.
Robert Bala. Penulis buku: Successful Aging, Sukses di Usia Senja. Penerbit Gramedia Pustaka Utama.
