Kuat Pangan ala Jalan Piet A. Tallo Oleh : Gerardus D Tukan Dosen di Program Studi Teknologi Pangan FST UNWIRA Kupang WARTA-NUSANTARA.COM— Kota Kupang sesungguhnya memiliki sebuah ruang pembelajaran yang terbentang nyata di depan mata kita, saat kita kini ada di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap ketahanan pangan nasional. Ruang itu adalah kawasan lahan kosong di sepanjang Jalan Piet A. Tallo, dari Jembatan Kembar Liliba hingga Bundaran Burung Penfui. Hamparan lahan pada sisi utara dan selatan jalan tersebut mencapai puluhan hektar, relatif datar, mudah diakses, namun selama bertahun-tahun lebih banyak menjadi padang ilalang daripada sumber pangan. Pemandangan kawasan ini selalu menghadirkan dua wajah yang kontras. Pada musim hujan, ilalang tumbuh hijau dan subur, menciptakan bentang alam yang indah. Namun ketika kemarau tiba, seluruh hamparan berubah kuning kecokelatan, kering, dan rentan terbakar. Setiap tahun, masyarakat Kota Kupang, bahkan masyarakat NTT, menyaksikan siklus yang sama, yakni lahan luas yang memiliki potensi ekonomi dan pangan, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, di tengah meningkatnya kebutuhan pangan perkotaan, lahan-lahan tidur seperti ini seharusnya dipandang sebagai aset strategis. Ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang produksi beras nasional atau impor bahan makanan, tetapi juga tentang kemampuan masyarakat memanfaatkan sumber daya lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan secara berkelanjutan. Gagasan memanfaatkan kawasan kosong tersebut sesungguhnya sederhana. Selama pemilik lahan belum mengelolanya, lahan dapat dikerjasamakan secara produktif dengan komunitas masyarakat, sekolah, kelompok tani muda, organisasi keagamaan, maupun lembaga pemerintah. Kawasan itu dapat diubah menjadi kebun edukasi yang menghasilkan jagung, kacang-kacangan, sayuran, pepaya, hingga tanaman hortikultura lainnya (tanaman non umur panjang), yang sesuai dengan kondisi iklim Kupang. Gagasan ini kini mulai menemukan bentuk nyata. Pada musim hujan 2025–2026, sebagian lahan di sisi selatan Jalan Piet A. Tallo mulai dikelola oleh Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kupang. Inisiatif tersebut dimotori oleh Ketut Herry Achjar selaku Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan NTT bersama Wawan Irawan selaku Kepala Lapas Kelas IIA Kupang. Lahan yang sebelumnya hanya ditumbuhi ilalang mulai ditanami jagung, pepaya, dan berbagai jenis sayuran. Langkah ini memiliki makna yang jauh melampaui sekadar kegiatan bercocok tanam. Ia menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari keberanian mengubah lahan terlantar menjadi ruang produktif. Ketika masyarakat setiap hari melintasi jalan tersebut dan melihat hamparan tanaman pangan tumbuh di kanan-kiri jalan, sesungguhnya sedang terjadi proses pendidikan sosial yang sangat kuat. Kebun bukan lagi urusan petani semata, melainkan menjadi kesadaran bersama. Urgensi gerakan semacam ini semakin relevan ketika dunia menghadapi ketidakpastian ekonomi dan iklim. Badan Pangan Nasional mencatat bahwa Indeks Ketahanan Pangan Indonesia tahun 2025 berada pada angka 73 poin. Meskipun menunjukkan kondisi yang relatif baik, tantangan besar masih terdapat pada aspek ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan di berbagai daerah. Ketahanan pangan juga menjadi isu multidimensional yang berkaitan dengan kemiskinan, akses lahan, perubahan iklim, hingga distribusi pangan. Persoalan pangan di Nusa Tenggara Timur bahkan menjadi perhatian strategis pemerintah daerah. Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (FSVA) NTT menunjukkan bahwa kondisi pangan dipengaruhi oleh berbagai indikator yang mencakup ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan kerentanan pangan pada tingkat wilayah yang lebih kecil hingga kecamatan. Karena itu, solusi ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pusat, tetapi membutuhkan gerakan lokal yang konkret dan partisipatif. Penelitian tentang urban farming di Kota Kupang yang dilakukan oleh akademisi IPB University juga menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk dan urbanisasi telah mengurangi ruang pertanian perkotaan. Karena itu, pemanfaatan lahan kosong berbasis masyarakat dipandang sebagai salah satu strategi penting untuk mendukung ketahanan pangan kota sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jalan Piet A. Tallo dapat menjadi model nyata urban farming skala besar di NTT. Bayangkan jika puluhan hektar lahan di sepanjang jalur strategis tersebut ditata menjadi kawasan pertanian edukatif. Setiap sekolah dapat mengelola petak kebun tertentu. Para siswa belajar menanam, merawat, dan memanen tanaman pangan. Mereka tidak hanya mempelajari teori ketahanan pangan di ruang kelas, tetapi mengalaminya secara langsung di lapangan. Lebih jauh lagi, kawasan itu dapat berkembang menjadi laboratorium hidup bagi pendidikan lingkungan, kewirausahaan pertanian, dan penguatan ekonomi lokal. Hasil panen dapat digunakan untuk mendukung program makan bergizi di sekolah, kegiatan sosial masyarakat, maupun pasar lokal. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya ekologis, tetapi juga sosial dan ekonomi. Karena itu, sudah saatnya pemerintah kota, pemerintah kabupaten, dan pemerintah provinsi menjadikan pemanfaatan lahan tidur sebagai gerakan pembangunan bersama. Ketahanan pangan tidak selalu membutuhkan proyek besar dengan biaya tinggi. Bisa dimulai dari keberanian melihat peluang pada hamparan ilalang yang selama ini dianggap biasa. Apa yang sedang tumbuh di sepanjang Jalan Piet A. Tallo sesungguhnya bukan sekadar jagung, pepaya, tomat, atau sayur-mayur. Yang sedang tumbuh adalah kesadaran baru bahwa masa depan pangan Indonesia dapat dibangun dari lahan-lahan kosong di setiap daerah, di sekitar rumah kita, yang selama ini terabaikan. Para pekerja, petani yang sedang menggarap tanah kosong tersebut dan menanam berbagai tanaman umur pendek yang bisa kita lihat ketika melintasi jalan raya dua jalur tersebut, sesungguhnya sedang mengajak kita untuk turut bergerak mempertahankan ketersediaan pangan dengan berinovasi. Tulisan pada baliho yang terpampang di depan jalan dan berusaha menyeret perhatian kita untuk melihat tanaman-tanaman itu, berbunyi; “Sarana Asimilasi dan Edukasi; Dengan semangat ketahanan pangan, kami mengubah lahan batu karang menjadi lahan pertanian”. Suatu seruan yang sangat menggugah dan mengajak. Dari Kupang, dari Jalan Piet A. Tallo, lahir sebuah pelajaran sederhana: ketahanan pangan dimulai ketika tanah tidak lagi dibiarkan tidur. *** Post Views: 11 Navigasi pos Tolak Geothermal Atadei, Lawan Teror Penipuan