Analisis Puisi “Tangga Terakhir¹” Karya Yosep Yapi Taum dalam Perspektif Formalisme Rusia Oleh: Florentina Veni Mayasari Mahasiswi Program Studi Sastra Universitas Sanata Dharma Jogjakarta TANGGA TERAKHIR¹ Ada ruang lengang dan panjang, ketika mereka tiba juga di tangga terakhir. Ternyata ruangan itu terlalu kecil, untuk menyimpan semua kenangan. Tak ada yang bisa menghentikan rangkulan dan air mata. Angin timur menerpa ulu hati, padahal langit masih terang benderang. Siapa dulu yang mengulurkan tangan! Karena baru saja mereka bertemu, bercinta, dan bermain dengan bocah-bocah kecil. Tiba-tiba saja mereka sudah berada di tangga terakhir. Siapa dulu yang menabur kembang! Di saat hari masih benderang, tak ada kabut, dan di langit awan biru masih bercanda. Mengapa dia melangkah juga, terburu-buru, sedang kami hanya menatap punggungnya. Ada angin yang asing menyelinap. Tangga terakhir terlalu rendah, buat menggenggam awan biru. Duka itu menanti juga di tangga terakhir! Wisma Santi Dharma, Godean, 15 November 2015 Pembahasan A. Identifikasi Hal-hal Problematik atau Membingungkan Puisi ini memuat beberapa unsur membingungkan yang memperkuat efek estetikanya. Frasa “tangga terakhir” berulang kali muncul tanpa penjelasan yang pasti, sehingga menimbulkan ambiguitas makna dan menjadi bagian dari strategi penyembunyian informasi dalam alur . Selain itu, terdapat pertentangan antara suasana duka dan gambaran alam yang tetap cerah, yang sengaja digunakan untuk memperkuat kesan emosional puisi. Pergeseran sudut pandang dari “mereka” menjadi “kami” dan “dia” juga menciptakan ketidakpastian naratif yang mendorong pembaca untuk menafsirkan teks secara lebih aktif. Kalimat-kalimat retoris yang tidak memperoleh jawaban semakin menegaskan suasana kepanikan dan ketidakberdayaan persona lirik. Sementara itu, paradoks “tangga terakhir terlalu rendah buat menggenggam awan biru” menunjukkan pergeseran makna dari ranah fisik ke emosional, sebagai simbol ketidakmampuan manusia menahan kepergian seseorang. B. Teknik Pengungkapan Rahasia Rahasia utama dalam puisi ini tidak disampaikan secara langsung oleh penyair, melainkan diungkapkan secara bertahap melalui judul dan setiap bait. Oleh karena itu, teknik pengungkapan rahasia dapat dilihat dari perkembangan makna berikut. Judul: Tangga Terakhir¹ Judul puisi ini menjadi petunjuk utama sekaligus menyimpan makna yang tidak dijelaskan secara langsung. Kata “tangga” menunjukkan proses atau perjalanan yang bertahap, sedangkan kata “terakhir” menandakan akhir yang pasti dan tidak dapat dihindari. Meskipun tidak menyebut kematian atau perpisahan secara langsung, judul ini mengarahkan pembaca untuk memahami puisi sebagai kisah perjalanan menuju suatu akhir. Di sisi lain, judul ini juga bersifat paradoks karena tangga biasanya melambangkan kemajuan, tetapi di sini justru menjadi simbol batas dan penghentian. Puisi ini terdiri dari lima bait yang membentuk perkembangan makna. Bait 1 Bait pertama menggambarkan suasana awal yang sepi dan penuh tanda tanya. Ungkapan “ruang lengang dan panjang” menciptakan kesan tempat yang luas tetapi kosong. Namun, ruang yang tampak besar itu kemudian dianggap terlalu kecil untuk menampung semua kenangan. Hal ini menunjukkan bahwa ruang tidak lagi dipahami secara fisik, melainkan secara emosional. Pada bagian ini, penyair belum menjelaskan siapa yang akan pergi atau apa yang sebenarnya terjadi, sehingga pembaca diajak untuk terus mencari makna. Bait 2 Pada bait kedua, kesedihan mulai terlihat lebih jelas melalui gambaran pelukan dan air mata. Namun, suasana duka ini bertentangan dengan keadaan alam yang tetap cerah. Penyair sengaja tidak menggunakan hujan atau cuaca mendung yang biasanya identik dengan kesedihan. Langit yang terang menunjukkan bahwa dunia tetap berjalan seperti biasa meskipun seseorang sedang mengalami kehilangan yang mendalam. Dari sini mulai terlihat bahwa perpisahan yang terjadi terasa mendadak dan tidak dipersiapkan. Bait 3 Bait ketiga menjadi bagian paling emosional dalam puisi. Penyair menggambarkan bahwa orang-orang yang baru saja menikmati kebersamaan, cinta, dan kebahagiaan bersama keluarga tiba-tiba sudah berada di tangga terakhir. Perubahan yang sangat cepat ini menunjukkan bagaimana kehilangan sering datang tanpa peringatan. Pertanyaan retoris tentang mengulurkan tangan dan menabur bunga mengingatkan pada suasana perpisahan atau pemakaman, meskipun tidak disebutkan secara langsung. Pada bagian ini, makna “tangga terakhir” mulai mengarah pada kematian. Bait 4 Bait keempat kembali menampilkan langit yang cerah, tetapi kali ini setelah pembaca semakin memahami situasi yang sedang terjadi. Kalimat “Mengapa dia melangkah juga” menunjukkan kesedihan orang-orang yang ditinggalkan. Kata “dia” mulai merujuk pada sosok yang pergi, sementara “kami” menunjukkan mereka yang hanya bisa menyaksikan kepergian tersebut. Gambaran “menatap punggungnya” memperlihatkan bahwa orang yang pergi tidak dapat dihentikan dan terus menjauh. Bait 5 Bait terakhir menjadi penutup yang tetap menyisakan ruang tafsir bagi pembaca. “Angin yang asing” melambangkan sesuatu yang tidak dikenal, seperti kematian atau kehilangan. Kalimat “Tangga terakhir terlalu rendah buat menggenggam awan biru” menunjukkan keterbatasan manusia untuk mempertahankan seseorang yang akan pergi. Sementara itu, ungkapan “Duka itu menanti juga di tangga terakhir” menunjukkan bahwa kesedihan telah ada sejak awal dan tidak dapat dihindari. Pada akhirnya, “tangga terakhir” menjadi simbol tempat bertemunya kepergian dan duka yang tidak bisa diubah oleh siapa pun. Kesimpulan Berdasarkan perspektif Formalisme Rusia, puisi Tangga Terakhir membangun makna kehilangan dan kematian melalui pengolahan bentuk bahasa yang khas, seperti simbol, paradoks, pertanyaan retoris, kontras suasana, dan pergeseran sudut pandang. Teknik pengungkapan rahasia yang dilakukan secara bertahap membuat pembaca aktif menafsirkan makna “tangga terakhir” sebagai simbol perpisahan atau kematian. Dengan demikian, keindahan puisi ini terletak pada cara unsur-unsur formalnya menciptakan efek emosional dan memperkuat pengalaman kehilangan. *** Florentina Veni Mayasari, Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Sastra Universitas Sanata Dharma Jogjakarta Post Views: 20 Navigasi pos Membedah Luka di Balik Dinding Rumah: Analisis Segitiga Kekerasan Johan Galtung dalam Film “Rumah untuk Alie”