Agustin Risti Prasetyo

Membedah Luka di Balik Dinding Rumah: Analisis Segitiga Kekerasan Johan Galtung dalam Film “Rumah untuk Alie”

Oleh : Agustin Risti Prasetyo

Mahasiswi Program Studi Sastra Universitas Sanata Dharma Jogjagarta

Pendahuluan

WARTA-NUSANTARA.COM—  Film Rumah untuk Alie (2025) yang disutradarai oleh Herwin Novianto merupakan cermin retak dari sebuah potret keluarga modern yang kehilangan orientasi kasih sayang pasca tragedi kematian ibunya. Narasi film ini menyoroti perjalanan hidup Alie Ishala Samantha, seorang remaja perempuan yang kehilangan identitas, ruang aman, dan harga dirinya akibat serangkaian ketidakadilan sistemik pasca-kematian sang ibu. Alih-alih menemukan duka yang dibagi bersama dalam dekapan orang terkasih, Alie justru menjadi sasaran pelampiasan dari ayah dan kakaknya yang seharusnya menjadi benteng perlindungan untuk alie.

Penderitaan yang dialami Alie bukanlah sekadar konflik emosional yang terjadi sesaat, melainkan sebuah pola kekerasan yang telah mengakar, terinstitusionalisasi, dan terorganisir di dalam rumahnya. Untuk menelaah mekanisme penindasan ini secara mendalam, kita dapat menggunakan lensa Segitiga Kekerasan (Violence Triangle) yang dicetuskan oleh Johan Galtung. Teori ini membagi kekerasan menjadi tiga dimensi yang saling mengikat: kekerasan kultural, kekerasan struktural, dan kekerasan langsung. Esai ini bertujuan untuk membedah bagaimana ketiga bentuk kekerasan tersebut berkolaborasi untuk mengurung eksistensi Alie, sekaligus menggugat kegagalan sistem domestik dan sosial dalam menyediakan ruang bagi pertumbuhan seorang anak perempuan yang bermartabat.

Kekerasan Kultural

Menurut Galtung, kekerasan kultural berfungsi sebagai “pembenaran” atau landasan ideologis yang membuat tindak kekerasan seolah-olah menjadi sesuatu yang wajar, lazim, atau bahkan diharuskan secara moral. Dalam narasi film ini, kekerasan kultural terwujud dalam bentuk pembentukan mitos yang menyudutkan Alie. Ayah dan kakak-kakak Alie membangun narasi tunggal bahwa Alie adalah manifestasi dari bencana itu sendiri.

Dengan menyebarkan pandangan bahwa Alie adalah “sumber malapetaka” atau “pembawa sial”, keluarga tersebut menciptakan sebuah dogma yang diterima oleh semua orang di dalam rumah. Cara pandang ini sangat mematikan karena ia membungkam hati nurani. Ketika seseorang dianggap sebagai “noda” bagi keluarga, maka setiap tindakan kasar yang diarahkan kepadanya dianggap sebagai “tindakan yang sepatutnya”. Inilah bentuk kekerasan kultural yang paling kejam: ketika kebencian berubah menjadi kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat. Bahasa-bahasa merendahkan seperti “anak pembawa sial” atau “pembantu” yang terus diulang tidak hanya menyakiti perasaan Alie secara fisik, tetapi juga secara perlahan-lahan menghapus kemanusiaannya. Para pelaku merasa bahwa mereka sedang “menjalankan tugas moral” untuk menghukum orang yang mereka anggap telah menghancurkan hidup mereka.

Kekerasan Struktural

Kekerasan struktural berkaitan dengan sistem yang timpang dan menutup akses korban untuk mendapatkan keadilan. Dalam Rumah untuk Alie, struktur keluarga tidak lagi berfungsi sebagai tempat pengayoman, melainkan menjadi mesin kekuasaan yang sangat patriarkis. Ayah, yang menduduki puncak hierarki, memiliki wewenang penuh namun gagal menjalankan perannya sebagai pengayom. Ia justru menjadi saksi bisu atau pembiar yang melegitimasi tindakan agresif anak-anaknya yang lain. Sistem di rumah tersebut dirancang untuk menguntungkan pihak-pihak yang memiliki kuasa besar—dalam hal ini, laki-laki sementara posisi Alie diletakkan pada titik paling marginal dan subordinat. Tidak ada celah bagi Alie untuk membela diri atau mencari keadilan. Sistem keluarga ini menjadi aparatus yang opresif karena ia menuntut kepatuhan total dari Alie, sementara ia sendiri dirampas hak-hak dasarnya untuk hidup tenang. Ketidakmampuan lingkungan sekolah atau institusi sekitar untuk melakukan intervensi terhadap perlakuan tidak adil ini menunjukkan bahwa kekerasan tersebut sudah menjadi bagian dari struktur yang mapan dan tidak terjamah. Alie berada dalam jebakan sistem di mana ia harus melayani keluarga yang justru membencinya, tanpa memiliki peluang atau akses untuk keluar dari belenggu tersebut.

Kekerasan Langsung

Kekerasan langsung adalah bentuk nyata yang bisa kita amati secara kasat mata, yang muncul sebagai dampak kumulatif dari kekerasan kultural dan struktural yang telah berjalan lama. Dalam film ini, Alie secara konsisten menerima serangan fisik yang meninggalkan luka permanen di tubuhnya, serta serangan verbal yang menggerogoti kesehatan mentalnya setiap hari.

Namun, yang lebih menyakitkan dari sekadar pukulan adalah tindakan penolakan secara terusmenerus. Alie mengalami kekerasan langsung melalui pengucilan emosional. Keberadaannya dianggap tidak ada, suaranya diabaikan, dan keinginannya untuk diterima selalu dimentahkan dengan kekejaman. Ini bukan lagi sekadar konflik saudara, melainkan sebuah upaya sistematis untuk meruntuhkan eksistensi Alie. Trauma yang dialami Alie merupakan akumulasi dari pengkhianatan orang-orang yang paling ia percayai. Kekerasan langsung ini membuat Alie kehilangan pegangan hidup, mengubah dirinya menjadi sosok yang terus-menerus harus memohon belas kasihan di tempat yang seharusnya ia panggil “rumah”. Kondisi ini memaksa Alie untuk hidup dalam ketakutan, di mana setiap detik di dalam rumah tersebut adalah pertempuran untuk mempertahankan kewarasan.

Kesimpulan

Melalui teori Segitiga Kekerasan Johan Galtung, kita dapat melihat bahwa nasib tragis Alie bukanlah takdir yang kejam, melainkan hasil dari kegagalan sistem keluarga yang telah kehilangan kemanusiaannya. Apa yang dialami Alie adalah bukti bahwa duka yang tidak diproses dengan dewasa dapat berubah menjadi bentuk kekerasan yang sangat destruktif.

Kekerasan kultural berupa stigma menyesatkan menjadi landasan pembenaran; hal ini diperkuat oleh kekerasan struktural dalam sistem keluarga yang sangat timpang; yang akhirnya berujung pada kekerasan langsung berupa perundungan fisik, verbal, serta pengabaian emosional yang konstan.

Esai ini menyimpulkan bahwa Rumah untuk Alie memberikan pesan yang sangat tajam mengenai tanggung jawab moral dalam sebuah keluarga. Film ini menuntut penonton untuk merenungkan bahwa definisi keluarga yang sesungguhnya melampaui ikatan darah. Rumah yang ideal haruslah menjadi ruang bagi keadilan, penerimaan, dan kasih sayang yang tulus. Untuk mewujudkan perdamaian positif (positive peace), masyarakat harus berani melawan pola pikir yang menyalahkan korban, memperbaiki sistem keluarga yang tidak adil, dan menghentikan segala bentuk kekerasan domestik yang sering kali tersembunyi di balik pintu rumah. Martabat seorang anak harus selalu ditempatkan di atas duka dan dendam pribadi siapa pun. Membiarkan kekerasan terus berlangsung berarti mengkhianati masa depan generasi mendatang. ***

Agustin Risti Prasetyo, Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Sastra Universitas Sanata Dharma Jogjagarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *