H. M. Thahir Maloko

Membangun Masa Depan Peradaban Lamakera

Oleh : H.M. Thahir Maloko

1. Satu Masjid Lahir Sebuah Peradaban

WARTA-NUSANTARA.COM—   Lamakera pada zaman dahulu hanya mempunyai satu masjid, bangunannya sederhana, bedugnya tua, lantainya semen menjadi cahaya Islam menyebar ke kampng Lamakera. Di situ orang tua (muadzim) mengmandangkan adzan, disitulah anak-anak belajar alif, ba, ta, disitulah setiap masalah diselesaikan dengan musyawarah setelah selesai salat lima waktu. Satu masjid, tetapi cukup untuk menjaga satu kampung tetap istiqamah, karena yang menjaga bukan temboknya melainkan iman terpatri dalam kalbunya.

Bupati Lembata, Kanis Tuaq dan Wakil Bupati, Muhamad Nasir mengucapkan Dirgahayu HUT RI Ke-81

2. Mengaji di Jou: Sekolah Pertama Peradaban

Masa lalu Lamakera tidak mempunyai gedung madrasah yang megah, tidak ada proyektor, yang ada hanyalah Jou, suara kecil disamping rumah. Disanalah kita mengaji magrib sampai isya, lampu pelita, tikar terbuat dari daun lontar. Guru mengaji “Jou” bukan bergelar “S.Ag,” tetapi kuat hafalannya, makhrajnya bagus, suaranya mardu, akhlaknya menjadi teladan. Dari Jou itulah lahir para imam, khotib dan guru. Dari Jou itulah ajaran Islam dijaga, bukan ceramah besar, tetapi dengan bisikan “nak shalat dulu (ISLAM= Isya, Subuh, Lohor, Asar, Magrib). Masa itu miskin harta tetapi kaya iman, miskin fasilitas tetapi kaya adab.

3. Rumah Ibadah Bertambah, Ajaran Harus Tetap Dijaga

Alhamdulillah, hari ini Lamakera berubah, satu masjid, satu mushala, satu rumah Qur’an (insya Allah dua mushala segera dibangun, yaitu di Madrasah Aliyah Negeri dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri), pengajian ibu-ibu rutin, lima titik Taman Pendidikan Al-Qur’an. Dengan sarana tersebut merupakan nikmat yang besar dari Allah swt. Ini semua buah dari do’a orang tua kita dahulu satu masjid. Generasi hari ini harus jujur pada diri sendiri bahwa bertambah rumah ibadah, jangan sampai mengurangi kualitas iman. Jangan sampai masjid, mushala, rumah Qur’an megah, tetapi shalat subuh sepi, jangan sampai TPA-nya banyak, tetapi anak-anak tidak hafal al-Fatihah, jangan sampai pengajiannya ramai, tetapi akhlaknya di pasar masih kasar. Dahulu satu masjid mampu menjaga satu kampung, maka hari ini dengan satu masjid, satu mushala, satu rumah Qur’an, lima kelompok TPA, pengajian rutin ibu-ibu, kita harus menjaganya 100 kali lipat.

4. Menatap Masa Depan Peradaban Lamakera

Masa depan peradaban Lamakera bukan diukur dari berapa rumah ibadah, berapa banyak Taman Pendidikan Al-Qur’an, berapa banyak kelompok pengajian ibu-ibu, tetapi diukur dari: a) berapa anak Lamakera yang menghafal 30 juz, tilawah, menjadi dokter, ulama dan guru, b), berapa rumah ibadah yang makmur dengan kegiatan, bukan hanya megah bangunan. c), berapa kelaurga yang rumahnya menjadi “Jou Modern” tempat mengaji, diskusi, dan mendidik anak. Masyarakat Lamakera mandiri ekonominya, cerdas ilmunya, beradab akhlaknya.

5. Penutup

Masa lalu mengajar kita Dengan Iman, Satu Masjid Cukup. Masa depan menuntut kita Dengan Iman, Seribu Masjid-pun harus Makmur. Jangan lupakan Jou, jangan berdiam diri ketika mendengar suara adzan di menara, mari kita jaga “api,” kita besarkan menjadi cahaya untuk anak cucu kita di masa depan.

Tentang Penulis:
Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *