Analisis Puisi “Ballada Bintang Kejora” karya Yoseph Yapi Taum dalam Perspektif Formalisme Rusia Oleh : Devi Nur Rahma Wati Mahasiswi Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Jogjakarta BALLADA BINTANG KEJORA : Martinus Yohamme Siapakah yang melaut itu, Ibu? Mengapa dia tak takut hiu-hiu buas yang haus meminum darah Ayah? Bukankah hari ini langit mendung, Ombak dan buih gelisah menerpa karang, dan laut bergelora sepanjang malam? Siapakah yang melaut itu, Ibu? Doa seribu cendrawasih teronggok di perahu kecilnya. Dihadangnya hiu-hiu lapar. Mimpi melihat Bintang Kejora membakar jiwa dan merasuk sukmanya. Dikayuhnya perahu menuju ke timur, Menyongsong mimpi dan rindu dendamnya. Siapakah yang melaut itu, Ibu? Hiu-hiu buas menatapnya tanpa berkedip dengan perut lapar dan taring berdarah. Matahari terakhir menyiramkan bara penghabisan ke tubuhnya yang lapar. Dikayuhnya perahu menuju ke timur, Menyongsong mimpi dan rindu dendamnya. Siapakah yang melaut itu, Ibu? Mengapa ombak tak memberinya jalan? Ia tak pernah punya perhitungan dengan laut, hiu, buih, dan karang. Dikayuhnya perahu menuju ke timur, Menyongsong mimpi dan rindu dendamnya. Siapakah yang melaut itu, Ibu? Hari sudah mulai malam, Ia tak membawa lampu nelayan dan bekal, Padahal sendirian di laut lepas. Dikayuhnya perahu menuju ke timur, Menyongsong mimpi dan rindu dendamnya. Siapakah yang melaut itu, Ibu? Digantungnya mimpi seribu cendrawasih di buritan. Ombak dan hiu-hiu mengurung perahu kecilnya. Seribu hiu dan seribu buih menyergapnya. Pertarungan jelas tak berimbang. Laut berubah merah. Dia terbujur, terluka, dan berdarah. Siapakah yang melaut itu, Ibu? Perahunya tenggelam di pusaran hiu. Sebelum laut membekap sukmanya, lantang ia berteriak menunjuk ke timur, “Ibu, telah kulihat Bintang Kejora. Cahayanya terang di bumi hitam ini!” Di bawah, laut merah menjadi teduh dan berkaca Bintang Kejora. Yogyakarta, 28 Agustus 2014 (Dari Antologi Ballada Orang-Orang Arfak, 2019) 1. Identifikasikan Hal-hal yang Mengelirukan/Problematik Dalam puisi ini, penyair “menyulap” kata-kata sehingga kita tidak dapat secara langsung memahami maksudnya. Judul puisi ini, “Ballada Bintang Kejora”, menciptakan ambiguitas; apakah ini cerita tentang sebuah pelayaran nelayan biasa, pencarian rasi bintang astronomis, ataukah sebuah metafora perlawanan? Penyulapan itu membuat kita merasa asing dengan diksi seperti “doa seribu cendrawasih”, “menyongsong rindu dendamnya”, dan “bumi hitam”. Terdapat pula pertanyaan retoris yang terus diulang di awal bait mengenai “Siapakah yang melaut itu, Ibu?”. Pertanyaan ini muncul berulang kali di tengah adegan kepatuhan dan kenekatan tokoh, menciptakan gangguan persepsi bagi pembaca mengenai identitas asli sang pelaut. Penyair juga bercerita tentang pelaut yang tiba-tiba melaut tanpa “membawa lampu nelayan dan bekal” di tengah kepungan “seribu hiu”. Apa makna melaut tanpa bekal dan lampu? Apa arti dari laut yang “berubah merah” namun di akhir cerita menjadi “teduh dan berkaca Bintang Kejora”? Penyulapan-penyulapan ini menciptakan efek defamiliarisasi yang membuat pembaca harus berhenti sejenak untuk menafsirkan makna di balik keindahan bahasanya. 2. Teknik Pengungkapan Rahasia Dengan teknik ‘penyingkapan rahasia’, pembaca dapat meneliti sarana bahasa yang digunakan penyair dengan menunda dan memperlambat informasi agar tidak ditanggapi secara otomatis. Analisis Judul dan Subjudul Judul “Ballada Bintang Kejora” diikuti oleh subjudul dedikasi “: Martinus Yohamme”. Subjudul ini adalah kunci utama penyingkapan rahasia dalam teks. Dalam realitas historis, Martinus Yohame adalah seorang aktivis kemerdekaan sekaligus Ketua Dewan Adat Daerah pimpinan komite nasional Papua Barat di Sorong yang diculik, disiksa, dan jenazahnya ditemukan mengapung di dalam karung di laut lepas dekat Pulau Doom. Kehadiran nama tokoh riil ini di bawah judul berfungsi sebagai defamiliarisasi terhadap fiksionalitas puisi itu sendiri. Nama tersebut merangsang pembaca untuk menolak pencerapan otomatis (bahwa ini sekadar dongeng nelayan) dan mulai membaca seluruh tanda di dalam teks secara alegoris. Maka melalui struktur penundaan ini, metafora pelayaran perahu kecil bertransformasi menjadi representasi perjuangan ideologis yang sunyi, kepungan “hiu-hiu buas” dibaca sebagai perwujudan dari para pemburu atau ancaman kekerasan, dan laut yang “berubah merah” ditafsirkan sebagai representasi estetis dari tumpahnya darah yang berujung pada pengorbanan nyawa. Bait 1 & 2 Bait pertama dan kedua menggambarkan suasana konflik awal dan keteguhan tekad yang besar. Penggunaan kata “hiu-hiu buas”, “ombak dan buih gelisah”, serta “laut bergelora” menunjukkan situasi penuh ancaman marabahaya. Namun, tokoh digambarkan memiliki “mimpi melihat Bintang Kejora” yang “membakar jiwa”, sebuah simbol bagi gairah dan keteguhan prinsip manusia yang sudi menantang bahaya demi sebuah cita-cita luhur. Bait 3, 4, & 5 Pada bait-bait tengah ini, teknik interupsi dan perlambatan tempo digunakan melalui penggambaran tindakan tokoh yang tidak rasional bagi ukuran pelaut biasa. Tokoh tetap mendayung “menuju ke timur” tanpa “membawa lampu nelayan dan bekal”, serta “tak pernah punya perhitungan” dengan bahaya alam. Ini adalah simbol dari kepasrahan total, keberanian mutlak, dan kesediaan menempuh jalan sunyi demi sebuah fajar perubahan (simbol arah timur). Bait 6 & 7 Bait keenam memperlambat tempo dengan motif pertarungan tragis yang tidak seimbang. Pengepungan oleh “seribu hiu” dan frasa “laut berubah merah” adalah metafora bagi tumpahnya darah dan terjadinya kematian yang mengenaskan. Penyingkapan rahasia memuncak pada bait terakhir melalui teriakan lantang sang tokoh sebelum tenggelam: “Ibu, telah kulihat Bintang Kejora. Cahayanya terang di bumi hitam ini!”. Bintang Kejora ditafsirkan sebagai simbol harapan atau kemerdekaan batin yang berhasil digapai pada detik-detik terakhir hidupnya. Kematian tidak lagi digambarkan sebagai sebuah kekalahan yang sia-sia, melainkan sebuah kemenangan spiritual yang membuat laut yang merah berdarah berubah menjadi “teduh”. 3. Kesimpulan Puisi ini menggambarkan kematian tragis seorang pejuang sebagai sebuah pencapaian eskatologis yang mulia dan penuh cahaya. Melalui perspektif formalisme, maut tidak dihadirkan sebagai sebuah kekalahan fisik yang menyedihkan atau sekadar duka yang cengeng, melainkan disulap menjadi sebuah narasi pelayaran balada yang heroik. Gairah perjuangan yang membakar jiwa pada akhirnya bermuara pada keteduhan kosmis setelah sang pelaut berhasil menyaksikan “Bintang Kejora”. Kematian di tengah pusaran hiu adalah pelabuhan terakhir di mana sang pejuang berhasil menuntaskan misinya dan meninggalkan pantulan cahaya abadi di atas laut yang semula kelam. *** Devi Nur Rahma Wati, Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Jogjakarta Post Views: 24 Navigasi pos Benteng Terakhir Pisang NTT