Gerardus D Tukan.

Benteng Terakhir Pisang NTT

Oleh : Gerardus D Tukan

Dosen Prodi Teknologi Pangan Fakultas Sains dan Teknologi UNIKA Widya Mandira Kupang

WARTA-NUSANTARA.COM—  Pisang menjadi salah satu denyut ekonomi rakyat Flores dan Lembata dalam masa-masa yang baru saja berlalu. Kejadian-kejadian yang pernah terlihat waktu itu adalah berbagai kendaraan truk berbadan lebar dan panjang, hilir mudik keluar masuk kampung, dari desa-desa, lalu beriringan memasuki pelabuhan Maumere dan Labuan Bajo, atau parker antri menunggu masuk ke dalam lambung kapal. Di dalam bak-bak truk yang selalu nyaris meluap, terdapat ribuan tandan pisang. Truk-truk padat buah pisang itu  bergerak dalam rantai perdagangan yang menghidupi banyak keluarga. Truk-truk bermuatan penuh melintasi jalan Trans Flores sebelum diberangkatkan ke Surabaya dan berbagai daerah lain. Pisang bukan sekadar buah, melainkan sumber pendapatan, biaya pendidikan anak, serta penggerak ekonomi masyarakat pedesaan.

Kini, cerita itu berubah. Serangan penyakit pada tanaman pisang di berbagai wilayah Flores dan Lembata menyebabkan kerusakan serius pada kebun-kebun rakyat. Produksi menurun, perdagangan terganggu, dan banyak petani kehilangan sumber penghasilan utama. Ironisnya, daerah yang dahulu memasok pisang ke Timor dan berbagai wilayah lain kini justru membutuhkan pasokan dari luar.

Peristiwa ini tidak boleh dipandang sebagai persoalan pertanian semata. Ini adalah masalah ekonomi, sosial, dan ketahanan pangan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyakit virus merupakan salah satu ancaman terbesar bagi budidaya pisang. Salah satu yang paling dikenal adalah Banana Bunchy Top Virus (BBTV), yang telah ditemukan di berbagai sentra produksi pisang di Indonesia. Virus ini dapat menyebabkan tanaman kerdil, gagal berbuah, bahkan kehilangan hasil hingga 100 persen. Penyebarannya terjadi melalui bahan tanam terinfeksi dan kutu daun pisang (Pentalonia nigronervosa).

Informasi lapangan dari Flores dan Lembata menunjukkan gejala yang lebih mengkhawatirkan. Buah yang tampak normal dari luar ternyata rusak di bagian dalam. Daging buah berubah merah kecokelatan, melunak, berlendir, lalu membusuk sehingga tidak layak dikonsumsi. Gejala ini menunjukkan adanya gangguan sistemik yang telah menyebar dari jaringan tanaman ke buah. Patogen berkembang dalam jaringan pembuluh, menghambat distribusi air dan unsur hara, serta mengganggu proses pembentukan buah. Karena kerusakan tidak tampak dari luar, petani dan pedagang sering baru mengetahuinya setelah buah dibelah. Akibatnya, kerugian ekonomi menjadi sangat besar.

Indonesia sesungguhnya tidak asing dengan ancaman ini. Berbagai studi melaporkan keberadaan BBTV di Jawa, Sumatra, Bali, Bengkulu, dan wilayah lainnya. Para peneliti bahkan menyebutnya sebagai salah satu penyakit virus paling merugikan bagi tanaman pisang di kawasan Asia dan Pasifik.

Kejadian di Flores dan Lembata harus dibaca sebagai peringatan keras. Jika tidak dikendalikan, wilayah lain di NTT dapat mengalami nasib serupa. Di sinilah Timor, Sumba, Rote, Sabu Raijua, dan Alor menjadi sangat penting. Wilayah-wilayah ini dapat dianggap sebagai “benteng terakhir” komoditas pisang NTT. Langkah biosekuriti harus diperkuat. Pergerakan bibit, anakan, dan bahan tanam dari daerah terinfeksi perlu diawasi secara ketat. Pengawasan di pelabuhan dan jalur penyeberangan tidak boleh hanya berfokus pada manusia dan barang dagangan, tetapi juga pada material pertanian yang berpotensi membawa patogen.

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa pencegahan selalu lebih murah daripada pemulihan. Setelah penyakit menyebar luas, biaya pengendalian meningkat berkali-kali lipat, sementara produktivitas petani membutuhkan waktu lama untuk pulih.

Pemerintah daerah perlu bergerak cepat melalui pemetaan wilayah terdampak, identifikasi penyakit secara laboratorium, penyediaan bibit sehat, dan edukasi kepada petani mengenai gejala serta penanganan tanaman terinfeksi. Tanpa data yang akurat, kebijakan yang diambil akan cenderung reaktif dan terlambat.

Krisis ini juga mengingatkan pentingnya diversifikasi ekonomi pedesaan. Ketergantungan berlebihan pada satu komoditas membuat masyarakat rentan terhadap penyakit, perubahan iklim, dan gejolak pasar. Pisang tetap perlu dipertahankan sebagai komoditas unggulan, tetapi harus didukung oleh komoditas lain sebagai penyangga ekonomi rumah tangga petani.

Menghadapi ancaman tersebut, pengendalian harus dilakukan secara terpadu. Identifikasi patogen melalui pengujian laboratorium menjadi langkah awal yang penting. Selanjutnya, perlu diterapkan karantina internal antarpulau, pembatasan pergerakan bibit dan bonggol dari daerah terinfeksi, pemusnahan tanaman yang sakit berat, pengendalian serangga vektor, serta penyediaan bibit sehat dan varietas yang lebih toleran. Sistem pemantauan berbasis masyarakat juga perlu dibangun agar gejala baru dapat segera dilaporkan sebelum penyebaran semakin luas.

Hal yang tidak kalah penting adalah penguatan biosekuriti di pelabuhan dan jalur penyeberangan antarpulau. Perpindahan bahan tanam merupakan salah satu jalur utama penyebaran penyakit tanaman. Tanpa pengawasan yang ketat, Timor, Sumba, Rote, Sabu Raijua, dan Alor berpotensi mengalami bencana serupa.

Flores dan Lembata telah memberi pelajaran mahal kepada NTT. Jangan sampai pelajaran itu diabaikan. Ketika satu wilayah terpuruk akibat wabah tanaman, tugas wilayah lain bukan hanya membantu memasok kebutuhan pangan, tetapi juga mencegah agar bencana yang sama tidak ikut menyeberang.

Jika benteng ini jebol, yang hilang bukan sekadar kebun pisang. Yang runtuh adalah penghidupan ribuan keluarga petani, jaringan perdagangan rakyat, dan salah satu fondasi ekonomi pedesaan Nusa Tenggara Timur. Menjaga kesehatan tanaman pisang hari ini sesungguhnya adalah menjaga masa depan NTT***.

Gerardus D Tukan, Penulis adalah Dosen Prodi Teknologi Pangan Fakultas Sains dan Teknologi UNIKA Widya Mandira Kupang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *