Menyingkap Luka di Balik “Entrok”: Mengapa Kekerasan Tak Selalu Berwajah Sangar? Oleh : Zefanya Chrisantya Ningrum Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia – Universitas Sanata Dharma Yogjakarta WARTA-NUSANTARA.COM— Novel Entrok karya Okky Madasari merupakan artefak sastra yang merekam jejak kelam sejarah Indonesia, khususnya pada masa Orde Baru. Lebih dari sekadar kisah keluarga tentang hubungan ibu dan anak, novel ini berfungsi sebagai ruang semiotik yang kompleks, di mana simbol-simbol kehidupan sehari-hari berbenturan dengan narasi kekuasaan yang represif. Untuk membedah narasi di dalamnya, teori “Segitiga Kekerasan” dari Johan Galtung memberikan kerangka kerja yang mumpuni. Galtung memandang kekerasan bukan sebagai fenomena tunggal yang berdiri sendiri, melainkan sebagai gunung es yang memiliki struktur dan akar budaya yang mendalam. Sinopsis: Perjalanan Marni dan Makna di Balik Entrok Entrok berkisah tentang Marni, seorang perempuan desa di Jawa yang lahir dalam kemiskinan ekstrem. Marni adalah representasi ketangguhan individu yang berjuang lepas dari nasib yang dipaksakan oleh kemiskinan. Salah satu momen krusial dalam novel ini adalah ketika Marni melihat dan menginginkan entrok (bra) setelah melihat seorang perempuan di pasar. Bagi Marni, benda tersebut bukan sekadar pakaian dalam, melainkan penanda (signifier) akan modernitas, harga diri, dan kebebasan sebagai perempuan. Perjalanan hidup Marni membawanya pada kesuksesan finansial, namun keberhasilan tersebut harus berbenturan dengan tembok kekuasaan negara yang represif. Novel ini kemudian menyoroti dinamika antara Marni dan putrinya, Rahayu. Jika Marni berjuang melalui kerja keras ekonomi, Rahayu yang tumbuh dengan pendidikan tinggi harus berhadapan langsung dengan tembok politik Orde Baru yang mencekam. Melalui kisah mereka, pembaca diajak menyelami bagaimana negara memanipulasi kehidupan individu, menghancurkan martabat, dan menciptakan rasa takut sebagai alat kontrol sosial yang sistematis. Analisis Segitiga Kekerasan Johan Galtung Untuk memahami bagaimana kekerasan beroperasi dalam Entrok, teori Segitiga Kekerasan Johan Galtung menjadi pisau analisis yang tajam. Kekerasan di sini tidak hanya bersifat fisik, melainkan sistemik. 1. Kekerasan Langsung (Direct Violence) Kekerasan langsung termanifestasi secara brutal dalam novel melalui peristiwa Penembakan Misterius (Petrus) yang menjadi latar sejarah. Ini adalah bentuk kekerasan yang paling kasat mata; bersifat fisik, berdarah, dan dilakukan dengan intensi untuk melukai atau membunuh. Mayat-mayat yang ditemukan di pinggir jalan bukan sekadar objek tragis, melainkan tanda (sign) akan kekuatan negara yang absolut. Tubuh-tubuh tersebut menjadi medium pesan ketakutan yang efektif untuk membungkam aspirasi masyarakat. Kekerasan ini berfungsi sebagai bahasa kekuasaan yang memaksa warga untuk patuh melalui teror fisik yang nyata. 2. Kekerasan Struktural (Structural Violence) Di bawah permukaan kekerasan langsung, terdapat kekerasan struktural. Dalam Entrok, kekerasan ini muncul melalui sistem birokrasi dan kekuasaan militer yang memonopoli akses ekonomi dan sosial. Marni terjepit bukan karena ia kurang berusaha, melainkan karena sistem memang tidak didesain untuk berpihak pada kelas bawah. Penerapan doktrin “Dwi Fungsi ABRI” yang dipotret oleh Okky Madasari adalah kode struktural yang memastikan bahwa militer selalu berada di puncak hierarki sosial. Rakyat sipil ditempatkan sebagai warga kelas dua yang hak-haknya dapat dikorbankan kapan saja demi stabilitas yang didefinisikan oleh penguasa. Kekerasan ini menjadi permanen karena ia menyatu dalam mekanisme negara. 3. Kekerasan Kultural (Cultural Violence) Aspek yang paling krusial adalah kekerasan kultural. Galtung mendefinisikan ini sebagai legitimasi yang membuat kekerasan langsung dan struktural dianggap wajar. Dalam Entrok, kekerasan kultural menjelma dalam bentuk ajaran Jawa tentang nrimo (menerima nasib) dan narasi pembangunan yang dogmatis. Ketika perempuan diajarkan untuk tunduk dan tidak mempertanyakan otoritas atas nama “kodrat” atau “adat,” itulah kekerasan kultural yang bekerja. Mitos-mitos yang menomorduakan perempuan atau menuntut kepatuhan buta pada penguasa berfungsi sebagai alat untuk melanggengkan penindasan tanpa perlu penggunaan senjata. Kesimpulan Membaca Entrok melalui lensa Galtung menyadarkan pembaca bahwa kekerasan tidak selalu berwajah sangar dengan senapan. Sering kali, ia menyamar menjadi tradisi, norma sosial, atau nilai-nilai keluarga yang diyakini kebenarannya. Kekerasan kultural adalah lapisan yang paling berbahaya karena ia “menormalisasi” penderitaan, membuat korban merasa bahwa ketidakadilan adalah bagian dari nasib. Novel ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin bagi masa kini untuk terus mendekonstruksi kekerasan yang terselubung. Meloloskan diri dari kekerasan fisik saja tidak cukup jika norma-norma yang membelenggu tetap hidup dalam kesadaran kolektif. Sebagai simpulan, Entrok mengajarkan bahwa pembaca harus selalu bersikap kritis dan mencurigai “kewajaran” yang dipaksakan oleh struktur kuasa, demi membangun masyarakat yang lebih adil dan manusiawi. *** Zefanya Chrisantya Ningrum, Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia – Universitas Sanata Dharma Yogjakarta Post Views: 88 Navigasi pos Analisis Puisi “Tangga Terakhir¹” Karya Yosep Yapi Taum dalam Perspektif Formalisme Rusia Distorsi Kebijakan Sosial: Membedah Sengkarut Proyek Makan Bergizi Gratis dalam Pusaran Korupsi Sistemik