Aurelia Keyodia, Mahasiswi Program Studi Sastra Universitas Sanata Dharma Yogjakarta

Ketika Kemiskinan Menjadi Kekerasan:Membaca “Orang-Orang yang Matanya Enak Dipandang” dengan Kacamata Johan Galtung

Oleh: Aurelia Keyodia

Mahasiswi Program Studi Sastra Universitas Sanata Dharma Yogjakarta

WARTA-NUSANTARA.COM—  Kemiskinan dipahami sebagai kondisi ketidakmampuan individu atau kelompok untuk memenuhi hak-hak dasar dan kebutuhan minimum agar mendapatkan hidup yang layak dan bermartabat. Persoalan ini tidak hanya hadir dalam realitas sosial, tetapi juga kerap menjadi tema yang diangkat dalam karya sastra. Melalui cerita dan tokoh-tokoh, sastrawan sering menghadirkan potret kehidupan masyarakat yang terpinggirkan sekaligus memperlihatkan berbagai bentuk ketidakadilan dari kemiskinan. Salah satu cerpen yang menunjukkan gambaran tersebut berjudul Orang-Orang yang Matanya yang Enak Dipandang karya Ahmad Tohari.

Cerpen ini mengisahkan tentang kehidupan Mirta, seorang pengemis tunanetra, dan Tarsa, anak yang menjadi penuntunnya. Di balik kisah sederhana yang berlangsung di sekitar stasiun kereta, cerpen ini menyimpan kritik sosial mengenai kemiskinan, eksploitasi, dan hilangnya martabat manusia. Jika dibaca melalui perspektif Johan Galtung, kemiskinan yang digambarkan dalam cerpen tersebut tidak hanya menunjukkan keterbatasan ekonomi, melainkan juga memperlihatkan berbagai bentuk kekerasan yang bekerja dalam kehidupan kedua tokoh tersebut.

Kemiskinan dan Kerentanan Hidup Tokoh Mirta dan Tarsa

Keterbatasan ekonomi yang dialami Mirta tidak hanya tampak pada pekerjaannya sebagai pengemis. Lebih dari itu, kondisi serba kekurangan telah menempatkannya dalam posisinya yang sangat rentan. Mirta sebagai penyandang tunanetra, harus bergantung pada Tarsa untuk berpindah tempat dan mencari penghasilan. Ketergantungan tersebut membuat Mirta tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri, bahkan sekadar mencari tempat untuk berteduh ketika terik matahari menyengat tubuhnya. Kondisi tersebut tampak ketika Tarsa sengaja meninggalkan Mirta di bawah terik matahari demi memperoleh segelas es limun.

Dalam situasi normal, seseorang dapat memilih untuk berpindah ke tempat yang lebih teduh atau mencari pertolongan. Namun, keterbatasan fisik yang dimiliki Mirta membuatnya tidak mampu mengambil keputusan sendiri. Ia harus bertahan di tengah panas yang menyengat sembari berharap Tarsa akan kembali menolongnya. Posisi ini menunjukkan bahwa kehidupan marginal dan keterbatasan fisik telah menempatkan Mirta pada keadaan yang sangat rentan.

Di sisi lain, Tarsa juga tidak dapat dilepaskan dari lingkaran kondisi serba kekurangan yang sama. Keduanya, sebagai seorang anak seharusnya memperoleh pendidikan, perlindungan dan kesempatan untuk tumbuh dalam lingkungan yang layak. Namun, realitas yang dihadapinya justru bergantung pada kondisi ekonomi yang tidak menentu. Setiap hari, mereka harus bergantung pada uang receh hasil mengemis bersama Mirta. Rasa lapar yang berulang kali digambarkan pengarang dalam cerpen Orang-orang yang Matanya Enak Dipandang memerlihatkan bahwa kebutuhan yang paling mendasar seperti makan, sangat sulit untuk mereka penuhi. Situasi tersebut membuat Tarsa lebih memikirkan cara memperoleh makanan dan uang daripada mempertimbangkan dampak tindakannya terhadap Mirta. Hubungan antara Mirta dan Tarsa pada akhirnya menjadi hubungan yang dibagun atas dasar kebutuhan hidup mereka. Mirta, penyandang tunanetra membutuhkan Tarsa sebagai penuntun, sedangkan Tarsa membutuhkan Mirta sebagai sumber penghasilan. Relasi semacam ini memperlihatkan fenomena kemiskinan dapat mendorong ketergantungan yang tidak sama. Alih-alih saling membantu, keduanya justru semakin terjebak dalam kondisi yang membuat mereka sulit untuk keluar dari kehidupan yang penuh keterbatasan. Dalam hal ini, Ahmad Tohari ingin menunjukkan bahwa kemiskinan bukan hanya persoalan kurangnya materi, melainkan juga persoalan hilangnya kebebasan seseorang untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri akibat keterbatasan.

Eksploitasi dan Kekerasan yang Tak Kasat Mata

Ketergantungan yang dialami Mirta kemudian membuka ruang eksploitasi. Pertanyaannya, apakah Tarsa semata-mata anak yang kejam? Ataukah ia hanya seseorang yang terpaksa hidup untuk berjuang dan bertahan dari hari ke hari? Dalam cerpen tersebut, Tarsa tidak hanya berperan sebagai penuntun, tetapi juga memanfaatkan Mira yang mempunyai posisi sangat rentan untuk memenuhi kepentingannya sendiri. Tarsa sengaja meninggalkan Mirta di bawah terik matahari demi mendapatkan segelas es limun. Sebelumnya, ia juga mengancam akan mendorong minta ke got apabila tidak diberi rokok serta menolak untuk berjalan lebih lambat sebelum dibelikan makanan. Berbagai tindakan tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan yang dimiliki Mirta justru dijadikan alat untuk memperoleh keuntungan. Menelisik kembali melalui kacamata Johan Galtung, tindakan semacam ini dapat dipahami sebagai kekerasan langsung. Kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik seperti memukul atau penganiayaan. Tindakan membiarkan seseorang menderita, memanfaatkan kelemahannya, atau sengaja menciptakan kondisi yang merugikan bagi orang lain, tanpa kita sadari hal tersebut termasuk bentuk kekerasan. Pada cerpen ini, penderitaan yang dialami Mirta terlihat jelas ketika ia dipaksa untuk bertahan di bawah panas matahari hingga tubuhnya melemah, kehilangan keseimbangan, bahkan akhirnya jatuh sakit.

Salah satu hal yang menarik pada cerpen karya Ahmad Tohari, sosok atau pelaku kekerasan tidak sepenuhnya digambarkan jahat. Tarsa digambarkan sebagai anak yang hidup dalam kondisi serba kekurangan. Ia terbiasa memandang segala sesuatu berdasarkan kebutuhan sehari-hari yang mendesak. Jika berbalik pada tindakan yang memeras Mira, peristiwa ini tidak muncul semata-mata dari sifat buruk, melainkan juga melalui lingkungan yang membentuk bagaimana cara Ia berpikir. Melihat kondisi yang serba kekurangan, keinginan untuk bertahan hidup sering kali memaksa seseorang untuk mengalahkan rasa empati terhadap sesama. Melalui hubungan Mirta dan Tarsa, Ahmad Tohari memerlihatkan ironi kemiskinan yang dibalut dengan kekerasan. Mereka yang sama-sama berada di lapisan paling bawah, justru terjebak dalam hubungan yang saling merugikan. Namun, fakta yang terjadi menunjukkan bahwa masalah sebenarnya bukan terletak pada Tarsa. Jika dicermati lebih jauh, Tarsa dan Mirta sesungguhnya berada dalam lingkaran kemiskinan yang sama. Keduanya merupakan korban dari keadaan sosial yang membatasi hidup mereka. Mirta tidak memiliki akses untuk memperoleh pekerjaan yang layak sehingga harus bergantung pada orang lain. Disisi lain, Tarsa yang masih berusia anak-anak juga tidak menikmati hak-hak sebagaimana mestinya, seperti memperoleh hak pendidikan, perlindungan, dan kesempatan untuk tumbuh dalam lingkungan yang mendukung perkembangan dirinya secara psikologis. Kehidupan jalanan menjadi ruang yang terus memaksa mereka untuk bertahan dengan cara apapun yang dapat dilakukan.

Ketika Kemiskinan Menjadi Kekerasan Struktural

Persoalan inilah yang memperlihatkan bahwa kemiskinan dalam cerpen Ahmad Tohari tidak hanya hadir sebagai latar cerita, melainkan sebagai kekuatan yang membentuk perilaku para tokohnya. Dalam perspektif Johan Galtung, kondisi tersebut dapat dipahami sebagai kekerasan struktural. Kekerasan ini tidak dilakukan secara langsung oleh seseorang, melainkan lahir dari struktur sosial yang gagal memberikan kesempatan hidup yang setara bagi setiap individu. Akibatnya, kelompok yang berada pada posisi rentan harus menanggung berbagai keterbatasan yang menghambat mereka untuk hidup layak. Melalui tokoh Mirta dan Tarsa, Ahmad Tohari ingin memperlihatkan kondisi serba kekurangan dapat menjadi bentuk kekerasan yang bekerja secara perlahan. Tidak ada tokoh yang berkuasa secara terang-terangan menyakiti, tetapi keadaan sosial yang menempatkan keduanya berada dalam situasi yang penuh penderitaan. Mirta harus mempertaruhkan kesehatannya demi memperoleh recehan. Sementara Tarsa harus kehilangan masa kanak-kanaknya karena mencari nafkah di jalanan, yang lebih memprihatinkan, kondisi Mirta dan Tarsa seolah menjadi pemandangan lumrah.

Kehadiran mereka di stasiun tidak lagi mengundang keprihatinan, melainkan hanya menjadi bagian dari lalu–lalang kehidupan sehari-hari. Ketika penderitaan menjadi pemandangan yang biasa, kekerasan struktural bekerja tanpa menunjukkan wajahnya. Melalui gambaran tersebut, Ahmad Tohari seakan mengajak pembaca untuk melihat kemiskinan dari sudut pandang yang berbeda. Kemiskinan bukan semata-mata akibat kegagalan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, melainkan juga cerminan dari struktur sosial yang belum mampu memberikan kesempatan yang setara bagi semua orang. Oleh karena itu, penderitaan yang dialami Mirta dan Tarsa tidak dapat dipahami sebagai persoalan pribadi semata. Dibalik kehidupan mereka, terdapat persoalan yang lebih besar mengenai akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan perlindungan sosial yang seharusnya menjadi hak setiap warga negara.

Penutup

Secara keseluruhan, cerpen Orang-Orang yang Matanya Enak Dipandang, Ahmad Tohari tidak hanya menghadirkan kisah tentang kehidupan pengemis tunanetra dan anak jalanan, tetapi juga menyampaikan kritik sosial yang tajam terhadap realitas kemiskinan. Dengan menggunakan perspektif Johan Galtung, kemiskinan dalam cerpen tersebut dapat dipahami sebagai bentuk kekerasan yang bekerja dalam kehidupan manusia. Kekerasan itu tampak secara langsung melalui eksploitasi yang dialami Mirta, sekaligus secara struktural melalui kondisi sosial yang membatasi akses Mirta dan Tarsa terhadap kehidupan yang layak. Tokoh Mirta dan Tarsa pada dasarnya bukanlah pelaku dan korban yang berdiri secara terpisah. Keduanya sama-sama terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang memaksa mereka bertahan hidup dalam situasi yang penuh keterbatasan. Melalui penggambaran tersebut, Ahmad Tohari menunjukkan bahwa kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan kekurangan materi, tetapi juga dengan hilangnya martabat, kebebasan, dan kesempatan hidup yang setara. Dengan demikian, cerpen ini mengajak pembaca untuk melihat kemiskinan bukan sebagai keadaan yang wajar, melainkan sebagai persoalan sosial yang perlu mendapat perhatian dan penyelesaian bersama. ***

Aurelia Keyodia,  Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Sastra Universitas Sanata Dharma Yogjakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *