Membaca Dekat Cerpen “Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?” Karya Ahmad Tohari Sebagai Poteret Kaum Marjinal Oleh : Yusbhi Kris Sayputra Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta WARTA-NUSANTARA.COM— Ahmad Tohari dikenal sebagai sastrawan dan budayawan dengan karya monumentalnya yaitu Ronggeng Dukuh Paruk. Karyanya itu telah diterbitkan dalam berbagai bahasa dan diangkat dalam film layar lebar berjudul Sang Penari pada 2011. Jika kita mencermati karya-karya Ahmad Tohari, karya-karyanya itu lebih banyak mengangkat cerita tentang kehidupan orang-orang pinggiran, kaum marjina, dan masyarakat miskin. Salah satu karyanya yang masuk dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2015 berjudul “Anak Ini Mau Mengencing Jakarta?”. Cerpen tersebut menceritakan dan menghadirkan potret getir masyarakat pinggir rel kereta di dekat Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Melalui kisah seorang ayah, anak laki-laki, dan seorang perempuan dalam cerpen tersebut, Ahmad Tohari menyampaikan kritik sosial yang tajam terhadap ketimpangan sosial-ekonomi di Jakarta, yaitu tidak semua kemewahan ibu kota bisa dinikmati oleh seluruh warganya. Melalui perspektif strukturalisme Robert Stanton, kita dapat membaca lebih dekat cerpen tersebut lewat unsur-unsur yang dibangun, seperti tema, fakta cerita, dan sarana sastra yang saling berkaitan sehingga menghasilkan makna yang utuh. Kesenjangan Sosial sebagai Tema Utama Robert Stanton membagi tema menjadi dua dimensi, yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor dalam cerpen tersebut berkenaan dengan kesenjangan sosial-ekonomi terhadap kaum marjinal di tengah gemerlapnya kemewahan ibu kota. Sedangkan tema minor dalam cerpen tersebut berkenaan dengan kasih sayang seorang ayah terhadap anak, harapan anak kecil di tengah kondisi yang serba terbatas, dan kritik sosial terhadap pemerintah yang gagal menciptakan kesejahteraan merata. Melalui tema-tema tersebut, Ahmad Tohari menangkap realita dan mempertanyakan; untuk siapa sebenarnya kemajuan ibu kota? Untuk seluruh warganya atau hanya untuk segelintir orang? Alur Sederhana yang Menggunggah Robert Stanton mengemukakan alur klasik yang terdiri atas situasi, kompllikasi, klimaks, dan penyelesaian. Pada bagian awal, pembaca diperkenalkan pada kehidupan tokoh ayah dan anak laki-lakinya sebagai masyarakat pinggir rel Pasar Senen yang hidup serba kekurangan. Konflik mulai muncul ketika si anak merasa lapar dan si ayah hanya bisa membeli sebungkus mi instan sebagai satu-satunya makanan yang bisa didapatkan. Terdapat kontras yang nyata ketika keduanya membeli mi instan di sebuah warung dengan situasi lingkungan sekitar yang gemerlap oleh orang-orang kantoran, penumpang kereta, bahkan pegawai stasiun. Situasi getir pun tampak ketika si anak dengan polosnya membandingkan dirinya dengan anak laki-laki di televisi yang berada dalam rumah bagus dan pakaian yang rapi. Klimaks cerita muncul ketika seorang pramusaji sebuah restoran membuang kantong plastik berisi sampah sisa makanan. Si anak ingin mengambil paha ayam goreng, tetapi si ayah menahan langkahnya. Adegan tersebut memunculkan perasaan dilematik yang melibatkan rasa lapar dan harga diri. Si ayah memilih untuk menahan diri daripada membiarkan keluarganya menjadi tontonan warga sekitar. Pada bagian penyelesaian, mereka memilih pergi dari tempat tersebut. Bagian ini memperlihatkan bahwa di tengah keterbatasan mereka, mereka masih memiliki perasaan harga diri sebagai manusia dibanding harus menjadi tontonan warga sekitar. Tokoh Ayah: Karakter Bulat Simbol Kaum Marjinal Sosok Ayah digambarkan sebagai sosok penyayang dan memiliki martabat yang tinggi meskipun hidup dalam kemiskinan. Ia mengajarkan si anak untuk tidak kencing ke punggung emaknya, dan itu sebuah nasihat sederhana yang mengandung nilai penghormatan terhadap orang lain. Situasi lainnya ketika si anak merasa rendah diri dengan membanding-bandingkan nasibnya dengan anak yang muncul di televisi, si ayah menyentuh hatinya dengan mengatakan si anak lebih hebat dari anak yang di televisi itu. Kemudian, ketika si anak ingin mengambil paha ayam yang dibuang oleh seorang pramusaji restoran, si ayah menahannya. Hal tersebut dilakukan dengan kesadaran bahwa kemiskinan bisa saja membuat seseorang kehilangan harga diri, dan ia berusaha mempertahankan martabak keluarganya. Sosok ayah dalam cerpen tersebut menjadi simbol kaum marjinal yang penuh kehormatan dan nilai-nilai luhur yang ia pertahankan. Simbolisme dan Ironi: Kritik Sosial Ahmad Tohari Kekuatan cerpen ini terletak pada penggunaan simbolis, yaitu judul “Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?” yang terkesan provokatif, tetapi justru menyimpan satir yang kuat. Frasa “Mengencingi Jakarta” bukanlah tindakan biologis, melainkan simbol perlawanan kaum marjinal terhadap ibu kota yang mengabaikan keberadaan orang-orang seperti mereka. Ironi dramatis juga tampak pada gambaran Jakarta sebagai kota impian semua orang, tetapi justru banyak orang yang terjebak dalam kemiskinan struktural yang dibentuk oleh penguasa. Cerpen ini menangkap bahwa modernitas tidak otomatis membawa kesejahteraan bagi semua orang. Latar Sosial dan Realisme Kehidupan Masyarakat Pinggiran Latar tempat yang nyata diperlihatkan dalam cerpen ini adalah sekitaran rel kereta Stasiun Pasar Senen. Ahmad Tohari juga menghadirkan gambaran realistis, misalnya warung kopi, gubuk-gubuk sempit, hingga lingkungan perlintasan kereta api yang semrawut. Hal tersebut membuat cerita menjadi teraa hidup dan dekat dengan realitas sosial masyarakat. Terkait latar sosial, cerpen ini menunjukkan adanya dunia yang “berbeda” yang hidup berdampingan dengan kehidupan masyarakat urban. Dunia yang “berbeda” tersebut berkaitan dengan orang-orang terpinggirkan yang menjadi pemandangan kontras di keseharian kota Jakarta. Kekontrasan inilah yang memperkuat kritik sosial Ahmad Tohari dalam cerpen tersebut. Ahmad Tohari berhasil menghadirkan potret kaum marjinal yang bukan sebagai objek belas kasiham, melainkan sebagai manusia yang memiliki martabat, kasih sayang, dan kebebasan batin. Di balik gedung-gedung tinggi yang gemerlap, ada kehidupan orang-orang pinggiran yang juga harus diakui keberadaannya. Melalui cerpen tersebut, Ahmad Tohari mengingatkan kita bahwa kemajuan sebuah kota seharusnya diukur bukan hanya dari kemewahan gedung-gedung pencakar langitnya, tetapi dari cara kota memperlakukan manusia-manusia paling lemah di dalamnya. *** BIODATA PENULIS Nama : Yusbhi Kris Sayputra Domisili : Sleman, Yogyakarta Status : Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Email : abi.sayputra21@gmail.com Telepon : 085246961120 Media Sosial : Instagram @putraabi__ Post Views: 72 Navigasi pos Kekerasan Tersembunyi di Balik Meja Makan: Analisis Cerpen Telepon dari Aceh Karya Seno Gumira Ajidarma dalam Perspektif Teori Kekerasan Johan Galtung Membaca Kekerasan Dalam Cerita Rakyat Sangkuriang Legenda Tangkuban Perahu