Membaca Kekerasan Dalam Cerita Rakyat Sangkuriang Legenda Tangkuban Perahu Oleh : Yusbhi Kris Sayputra Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta WARTA-NUSANTARA.COM— Sastra lisan telah menjadi kebudayaan masyarakat Indonesia sejak dulu. Ada banyak sekali bentuk sastra lisan yang diwariskan nenek moyang dari generasi ke generasi hingga saat ini. Salah satu bentuk sastra lisan yang ada dalam kebudayaan masyarakat Indonesia adalah cerita rakyat atau folklor. Seperti yang kita tahu, dengan jumlah 1.340 suku di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tentu saja terdapat begitu banyak cerita rakyat yang tersebar di seluruh nusantara. Dan salah satu cerita rakyat yang tersohor adalah cerita rakyat dari Jawa Barat, yaitu Sangkuriang: Legenda Tangkuban Perahu. Melalui buku-buku cerita rakyat yang tersebar untuk anak-anak, cerita Sangkuriang kerap dinikmati sebagai legenda tentang asal-usul terjadinya Gunung Tangkuban Parahu. Cerita rakyat tersebut dinarasikan dengan cerita romantis yang berakhir tragis tentang kisah cinta terlarang seorang anak (Sangkuriang) dan ibu (Dayang Sumbi), serta kisah tentang keturunan para dewa yang punya kesaktian sehingga menyebabkan fenomena luar biasa, yaitu terbentuknya Gunung Tangkuban Parahu. Jika disimak menggunakan kacamata teori segitiga kekerasan Johan Galtung, cerita rakyat Sangkuriang ini sebenarnya merupakan manifestasi runtutan kekerasan yang sistematis. Berdasarkan teori kekerasan tersebut, Johan Galtung membagi kekerasan menjadi tiga dimensi, yaitu kekerasan langsung (direct violence), kekerasan struktural (structural violence), dan kekerasan kultural (cultural violence). Ketiga dimensi kekerasan tersebut dapat dijadikan acuan untuk membaca lebih dalam tentang cerita rakyat Sangkuriang. Kekerasan Langsung Kekerasan langsung merupakan kekerasan yang melibatkan tindakan fisik atau verbal yang melukai objek penerima dengan nyata. Dalam cerita Sangkuriang, terdapat beberapa wujud kekerasan langsung: Pembunuhan Tumang oleh Sangkuriang Peristiwa tersebut terjadi ketika Tumang tidak mau mengejar babi hutan yang sedang diburu Sangkuriang. Oleh karena itu, Sangkuriang marah dan membunuh Tumang untuk diambil hatinya, lalu diberikan kepada Dayang Sumbi. Bentuk kekerasan langsung dalam peristiwa tersebut adalah kekerasan fisik yang menyebabkan hilangnya nyawa Tumang oleh Sangkuriang akibat dipicu amarah sesaat. Pemukulan Dayang Sumbi kepada Sangkuriang Dayang Sumbi mengetahui bahwa Tumang telah dibunuh oleh Sangkuriang. Oleh karena itu, ia memukul kepala Sangkuriang hingga mengeluarkan darah. Tindakan itu masuk dalam kekerasan langsung karena menimbulkan luka fisik terhadap penerimanya, yaitu Sangkuriang. Perusakan oleh Sangkuriang Kekerangan langsung berikutnya terjadi ketika Sangkuriang gagal memenuhi syarat pernikahan yang diminta Dayang Sumbi, yaitu membendung sungai Citarum dan membuatkan danau, serta membuatkan perahu besar dalam satu malam. Akibatnya, Sangkuriang menendang perahu sampai ke gunung dan menjadi Gunung Tangkuban Parahu. Tindakan destruktif tersebut menunjukkan adanya kekerasan langsung oleh Sangkuriang terhadap alam karena ledakan emosi. Kekerasan Struktural Kekerasan struktural terjadi karena sistem, aturan, atau kondisi sosial yang menyebabkan seseorang mengalami penderitaan tanpa ada pelaku yang secara langsung menyerang. Cerita rakyat Sangkuriang mengandung peristiwa-peristiwa yang dikategorikan sebagai kekerasan struktural. Kutukan terhadap Wayung Hyang dan Tumang Cerita Sangkuriang ini diawali dengan cerita tentang latar belakang dewa-dewi di khayangan, dan awal mulaa Wayung Hyang dan Tumang dihukum oleh dewa menjadi hewan dan harus diturunkan ke Bumi. Wayung Hyang adalah ibu Dayang Sumbi yang dikutuk menjadi babi hutan, dan Tumang adalah ayah Sangkuriang yang dikutuk menjadi anjing. Peristiwa itu disimpulkan sebagai kekerasan struktural karena Wayung Hyang dan Tumang kehilangan status dan hak-haknya sebagai dewa-dewi. Oleh karena itu, keduanya terpaksa menjalani kehidupan yang lebih rendah dibanding makhluk lainnya menurut sistem kekuasaan dunia mereka. Identitas Tumang Dalam ceritanya, Sangkuriang tidak pernah mengetahui bahwa ayahnya adalah Tumang, seekor anjing yang kemudian ia bunuh. Situasi tersebut menimbulkan dampak psikologis yang besar, yaitu Sangkuriang membunuh Tumang tanpa mengetahui fakta bahwa Tumang adalah ayahnya, dan ketidaktahuan itu membuat Sangkuriang jatuh cinta kepada Dayang Sumbi atau ibunya sendiri. Kekerasan Struktural Kekerasan struktural merupakan kekerasan yang timbul akibat pembenaran kekerasan langsung maupun struktural atas nilai, kepercayaan, mitos, atau budaya. Terdapat beberapa bentuk kekerasang struktural dalam cerita Sangkuriang tersebut. Kewajaran Kutukan Dewa Dalam ceritanya, kutukan kepada Wayung Hyang dan Tumang menjadi tindakan wajar yang harus diterima oleh semua penghuni khayangan. Hal tersebut menunjukkan adanya kekerasan kultural, yaitu kekuasaan dewa dianggap mutlak dan tidak dapat diperdebatkan. Hukuman Fisik sebagai Bentuk Pembelajaran Dayang Sumbi menghukum Sangkuriang dengan pukulan di kepala atas tindakannya yang telah membunuh Tumang. Tindakan Dayang Sumbi tersebut dianggap sebagai respons yang wajar atas kesalahan yang dilakukan seorang anak. Hal tersebut mencerminkan kekerasan kultural, yaitu kekerasan fisik sebagai hukuman yang wajar dan dianggap sebagai bagian dari pendidikan karakter si anak. Berdasarkan penjelasan tersebut, cerita Sangkuriang: Legenda Tangkuban Parahu dapat dicermati dengan sudut pandang lain di luar kebiasaan masyarakat dalam membaca cerita rakyat sebagai bentuk pengajaran nilai dan norma sosial. Dengan demikian, cerita Sangkuriang tersebut tidak hanya mengandung konflik personal, tetapi juga menunjukkan budaya, struktur sosial, dan tindakan individu membentuk lingkarang kekerasan menurut perspektif Johan Galtung. *** BIODATA PENULIS Nama : Yusbhi Kris Sayputra Domisili : Sleman, Yogyakarta Status : Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Email : abi.sayputra21@gmail.com Telepon : 085246961120 Media Sosial : Instagram @putraabi Post Views: 23 Navigasi pos Membaca Dekat Cerpen “Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?” Karya Ahmad Tohari Sebagai Poteret Kaum Marjinal