Defamiliarisasi Perjuangan: Analisis Formalisme Rusia pada Puisi ‘Sang Pencari Lobster’ Karya Yoseph Yapi Taum Oleh : Zefanya Chrisantya Mahasiswi Prodi Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta WARTA-NUSANTARA.COM— Karya sastra bukan sekadar cerminan realitas, biografi pengarang, atau potret sosiologis yang transparan. Dalam perspektif Formalisme Rusia, sebuah karya sastra adalah artefak otonom yang memiliki dunianya sendiri. Fokus utama studi sastra haruslah pada literaturnost atau “kesusastraan” kualitas yang membedakan bahasa sastra dari bahasa sehari-hari. Dengan mengesampingkan data psikologis atau ideologis, Formalisme Rusia mengajak kita untuk melihat bagaimana bentuk, struktur, dan manipulasi bahasa bekerja untuk menciptakan pengalaman estetis. Puisi “Sang Pencari Lobster” karya Yoseph Yapi Taum merupakan objek yang ideal untuk dibedah menggunakan kerangka ini, di mana rutinitas nelayan disulap menjadi sebuah konstruksi bahasa yang utuh dan bermakna. A. Defamiliarisasi (Ostranenie) Defamiliarisasi adalah teknik membuat sesuatu yang biasa menjadi asing agar pembaca melihatnya secara baru. Bahasa tidak lagi transparan, tetapi justru menonjolkan dirinya sendiri. Kaum Formalis percaya bahwa sifat kesusastraan muncul sebagai akibat penyusunan dan penggubahan bahan yang semula bersifat netral, lalu melepaskannya dari otomatisasi pembaca. Dalam bait pertama puisi ini, “Ombak yang memecah karang / tak pernah menciutkan nyalinya / Ia selalu mampu menghadang ombak / yang sia-sia menerjang perahunya,” pengarang melakukan defamiliarisasi terhadap alam. Laut tidak diposisikan sebagai pemandangan yang indah, melainkan antagonis agresif. Penggunaan diksi “memecah,” “menghadang,” dan “menerjang” mengubah persepsi kita tentang melaut dari sekadar aktivitas ekonomi menjadi medan pertempuran eksistensial. Proses ini mendobrak otomatisasi pikiran pembaca yang biasanya melihat nelayan sebagai sosok yang pasif. Di sini, bahasa tidak sekadar menyampaikan informasi, melainkan membangun atmosfer “pertempuran” yang memaksa pembaca untuk berhenti sejenak dan memandang rutinitas nelayan dengan kacamata baru. B. Struktur dan Motif Formalisme membedakan antara fabula (cerita mentah/kronologis) dan sjuzet (cara penyajian artistik). Motif menjadi unit terkecil yang membangun struktur makna. Dalam bait kedua, “Dilewatinya karang demi karang / meninjau jaring-jaring perangkap lobster / Senyum dingin diarahkan pada debur yang membuih / Lobster dijerat dan ditawarkan ke cukong,” pengarang menyisipkan motif yang kuat. Frasa “senyum dingin” adalah bentuk defamiliarisasi yang efektif. Secara struktural, ini adalah motif bebas yang tidak esensial bagi aksi menangkap lobster, namun justru menjadi pusat estetis yang menangkap perhatian pembaca. Sementara itu, penyebutan “cukong” di akhir bait adalah manipulasi sjuzet. Jika puisi ini adalah laporan berita kronologis, ia mungkin akan fokus pada teknis tangkapan. Namun, Yapi Taum menyisipkan elemen sosialekonomi untuk memberikan dimensi makna yang lebih dalam. Struktur naratif ini memperlihatkan bahwa alur (sjuzet) bukanlah sekadar susunan peristiwa, melainkan sarana yang digunakan pengarang untuk menyela dan menunda penceritaan guna memperkuat struktur makna. C. Fungsi Puitik Menurut Jakobson, fungsi puitik menekankan pada pesan itu sendiri bagaimana bahasa diolah, bukan sekadar apa yang disampaikan. Dalam pemakaian bahasa sastra, fungsi puitis adalah yang paling dominan; pesan bahasa dimanipulasi secara fonis, grafis, dan leksikosemantis sehingga kita menyadari bahwa pesan tersebut harus dibaca sebagai karya sastra. Bait terakhir, “Hari ini lobster hijau dan merah memasang jerat / tangkapan besar tak bakal lepas / Benar saja. Ketika ombak menghentak / dan melemparkan perahu ke karang / Mereka pun mendapat lobster / yang sudah begitu lama mereka incar,” merupakan penyelesaian alur yang paradoks. Secara fabula, nelayan mengalami kecelakaan (perahu terlempar ke karang), namun hasil akhirnya adalah keberhasilan. Pengarang menggunakan teknik penyulapan bentuk untuk menciptakan resolusi yang dramatis. Keberhasilan ini bukan sekadar informasi, melainkan sebuah artefak yang sudah dihayati. Ketika pembaca menikmati puisi ini, artefak tersebut bertransformasi menjadi “objek estetik”. Sebagai kesimpulan, puisi “Sang Pencari Lobster” bukan sekadar cerita tentang nelayan, melainkan konstruksi bahasa yang sengaja disusun untuk mengasingkan persepsi kita terhadap realitas. Melalui teknik defamiliarisasi, manipulasi sjuzet, dan pengolahan motif yang cermat, Yoseph Yapi Taum berhasil menempatkan puisinya dalam modus komunikasi yang dominan fungsi puitisnya. Inilah esensi dari Formalisme Rusia: menjadikan karya sastra sebagai sebuah kebulatan makna intrinsik yang menuntut pembacanya untuk melihat dunia dengan cara yang tidak lagi otomatis. *** Zefanya Chrisantya, Penulis adalag Mahasiswi Prodi Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Post Views: 32 Navigasi pos Analisis Puisi “Lelaki Yang” Melihat Laut : Eulogi Untuk F.X. Siswadi” Dalam Perspektif Formalisme Rusia Ketika Sungai Kembali Bersuara: Menolak Fatalisme Lewat Aksi Damai