Alwan Suban : Kepemimpinan Adalah Amanah, Bukan Prestise; “Tegurlah Jika Saya Salah” FLORES TIMUR : WARTA-NUSANTARA.COM— Masih Lamakera (7 Juni 2026) malam itu, di plataran Masjid Al-Ijtihad Lamakera, suasana terasa khidmat namun kehangatannya terasa sampai dalam sum-sum. Di bawah langit malam yang diterangi cahaya lampu dan semangat persaudaraan, Dr. Alwan, mengucapkan salam hormat yang dalam kepada Kepala Desa Moton Wutun dan Kepala Desa Watobuku, Kepala Suku Pito kae, kafilah PKLS se-Indonesia, juga Camat Solor Timur dan tamu undangan yang hadir dalam sambutan penutupnya. Alwan, dengan penuh santun berdiri di hadapan ratusan hadirin yang hadir, mulai dari pengurus PKS se-Indonesia, tokoh agama, pemuda, hingga tetua adat dalam rangkaian akhir Reuni VII dan Musyawarah Nasional (Munas) II YAMALI 2026. Bagi Alwan, momen ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah garis batas antara masa lalu dan masa depan. Ia menegaskan bahwa malam tersebut menandai berakhirnya periode kepengurusan pertama (2023–2026) dan sekaligus membuka lembaran baru komitmen kolektif untuk membangun peradaban Lamakera. Peradaban: Lebih Dari Sekadar Istilah Dalam sambutannya, Dr. Alwan Suban, M. Ag. mengajak hadirin untuk tidak hanya mendengar kata “peradaban” sebagai jargon kosong. Ia menguraikan bahwa konsep peradaban yang digagas oleh para pendahulu adalah sebuah ekosistem yang kompleks. Merujuk pada diskusi-diskusi panjang melewati seabad lebih, Lamakera dalam ruang, waktu terus menata mewujudkan “Bukit Kabir Peradaban Lamakera.” Dalam orasinya yang lembut tapi menikam sukma, Alwan menyebutkan bahwa pilar peradaban tidak hanya bertumpu pada ilmu pengetahuan, akidah, dan sosial-budaya, tetapi juga mencakup pendidikan politik, ekonomi, dan interaksi sosial yang sehat. “Komponen-komponen inilah yang harus menyatu jika kita ingin membangun peradaban di tanah kita sendiri,” ujarnya, menekankan bahwa keberhasilan Lamakera bergantung pada keseimbangan antara spiritualitas, intelektualitas, dan kesejahteraan materi. Kerendahan Hati di Puncak Kepercayaan Salah satu poin paling menyentuh dari Orasi Alwan adalah responsnya terhadap amanah yang diberikan kepadanya. Meskipun ditunjuk secara aklamasi sebagai pemimpin dalam forum tersebut, Anak lango Kuku Ona (Sinagula) ini dengan tegas menolak anggapan bahwa dirinya adalah individu yang paling hebat atau paling pintar. “Saya menerima ini bukan karena saya lebih unggul dari generasi lain. Masih banyak saudara-saudara saya di Lamakera yang lebih cerdas, lebih berpengalaman, dan lebih mampu daripada saya,” akunya dengan rendah hati. Baginya, keputusan aklamasi itu adalah bentuk kesepakatan kolektif (lewat musyawarah mufakat) yang harus dihormati. Ia melihat jabatan tersebut bukan sebagai mahkota kehormatan, melainkan sebagai beban tanggung jawab yang berar dan panjang untuk meneruskan estafet pembangunan Lamakera menuju Indonwsia Emas 2045. Minta Ditegur, Bukan Dijilat Alwan kemudian memberikan instruksi yang jarang terdengar dari seorang pemimpin: ia meminta untuk dikritik. Ia mengajak seluruh elemen organisasi, termasuk para kader PKLS se-Indonesia, Lamakera dan masyarakat umum, untuk menjadikannya sebagai mitra kontrol. “Jika dalam menjalankan roda organisasi saya bertindak sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), silakan dukung. Namun, jika saya melenceng, jangan diam saja, jangan bicara di belakang.Tapi Tltegurlah saya. Pimpinlah saya kembali ke jalur yang benar,” tegasnya. Pernyataan ini mencerminkan pandangannya bahwa kepemimpinan adalah proses belajar berkelanjutan. Ia menempatkan dirinya sebagai “murid biasa” yang membutuhkan masukan dari semua pihak. Baginya, organisasi tidak akan maju jika diisi oleh sikap saling menyalahkan atau merasa paling benar. Sebaliknya, kolaborasi, koordinasi, dan interaksi yang cair adalah kunci keberhasilan. Imbaunya dari atas mimbar. Amanah Vertikal: Tuhan Sebagai Saksi Utama Menutup sambutannya, Suban mengingatkan bahwa jabatan publik adalah amanah ganda. Selain bertanggung jawab kepada masyarakat dan konstituen, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan Yang Maha Esa. “Ini bukan sekadar urusan horizontal antar-manusia, tetapi vertikal antara hamba dan Pencipta,” pungkasnya. Ia menekankan bahwa setiap kesalahan atau kelalaian dalam organisasi adalah rahasia yang harus diselesaikan melalui dialog internal yang konstruktif, bukan melalui gosip atau permusuhan terbuka. Dengan pesan “Setiap kamu adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban”, Dr. Alwan Suban Sinagula meninggalkan panggung dengan kesan mendalam: bahwa kepemimpinan sejati di Lamakera dibangun atas fondasi kerendahan hati, keterbukaan terhadap kritik, dan kesadaran spiritual yang tinggi. Malam itu, Lamakera tidak hanya berganti pengurus, tetapi juga memperbarui janji untuk menjaga integritas bersama. Selamat tinggal Lamakeraku, doamu selalu kami nantikan. #RAM Post Views: 28 Navigasi pos Bersama Dr. Alwan Suban, M.Ag, Ketua Yayasan Amal Lamakera Indonesia (YAMALI)