Mahasiswa KKNT GENTASKIN Edukasi CBPR kepada Pelajar SMTK Benfomeni Kapan TINOR : WARTA-NUSANTARA.COM—Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Gerakan NTT Tuntas Stunting dan Kemiskinan Ekstrem (GENTASKIN) Desa Netpala menggelar kegiatan edukasi bertajuk Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah (CBPR), pengenalan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), serta perlindungan konsumen bagi siswa-siswi SMTK Benfomeni Kapan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Senin (27/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula SMTK Benfomeni Kapan sejak pukul 09.00 hingga 12.30 WITA tersebut diikuti oleh 252 siswa yang didampingi para guru. Sebanyak 18 mahasiswa KKNT GENTASKIN dari berbagai perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur terlibat sebagai fasilitator, yakni Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA), Universitas Nusa Cendana (UNDANA), Universitas Citra Bangsa, STIKOM Uyelindo Kupang, Universitas Kristen Artha Wacana, STIKES Maranatha Kupang, dan Institut Pendidikan Soe. Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala SMTK Benfomeni Kapan, dilanjutkan dengan sesi perkenalan dan berbagai permainan edukatif (ice breaking) yang membuat suasana menjadi lebih akrab, interaktif, dan menyenangkan sehingga para siswa mengikuti kegiatan dengan penuh antusias. Materi mengenai Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah (CBPR) disampaikan oleh Yopatra Suesama Seubelan, mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Citra Bangsa. Dalam paparannya dijelaskan bahwa gerakan CBPR merupakan upaya membangun kesadaran masyarakat untuk menghargai Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara, menggunakan Rupiah secara bijaksana, serta memahami fungsi dan ciri-ciri keaslian uang agar terhindar dari peredaran uang palsu. Sementara itu, materi mengenai QRIS dan perlindungan konsumen disampaikan oleh Paulus Serapinus Sebho, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik Widya Mandira. Ia menjelaskan bahwa perkembangan transaksi digital harus diimbangi dengan pemahaman mengenai keamanan transaksi, hak-hak konsumen, serta pentingnya bertransaksi melalui sistem pembayaran yang resmi, aman, dan diawasi oleh negara. Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Para siswa menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan kritis mengenai pengelolaan keuangan pribadi, penggunaan QRIS secara aman, serta cara mengenali uang Rupiah asli. Kepala SMTK Benfomeni Kapan, Markus Oematan, S.Th., M.Pd., dalam sambutannya mengingatkan para siswa agar mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh karena materi yang diberikan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Pemahaman mengenai pengelolaan keuangan sejak usia sekolah sangat penting. Dengan mengenal dan menghargai Rupiah serta memahami cara menggunakan uang secara bijaksana, para siswa akan memiliki bekal yang baik untuk mengelola keuangan pribadi di masa depan,” ujarnya. Menurut Markus, pendidikan literasi keuangan sejak dini juga merupakan salah satu langkah strategis dalam mendukung upaya pengentasan kemiskinan. Generasi muda yang mampu mengelola keuangan dengan baik akan lebih siap menghadapi tantangan ekonomi, mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, serta terhindar dari perilaku konsumtif yang berlebihan. Ia juga membuka peluang kerja sama lanjutan dengan mahasiswa KKNT GENTASKIN melalui berbagai kegiatan edukatif lainnya, khususnya dalam bidang literasi, pendidikan karakter, dan pengembangan kompetensi siswa. Edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah menjadi semakin penting di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital dan arus globalisasi. Bagi generasi muda, khususnya pelajar SMA dan SMK, pemahaman terhadap Rupiah bukan sekadar mengenal alat pembayaran, tetapi juga membangun kesadaran bahwa Rupiah merupakan simbol kedaulatan, identitas bangsa, sekaligus salah satu pilar stabilitas ekonomi nasional. Melalui gerakan CBPR, pelajar diajak untuk mencintai Rupiah dengan cara merawat uang, tidak merusaknya, dan menggunakannya secara bijaksana. Mereka juga didorong untuk bangga menggunakan Rupiah dalam setiap transaksi di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia serta memahami fungsi uang, ciri-ciri keaslian Rupiah, dan pentingnya transaksi keuangan yang aman. Di era media sosial dan transaksi digital saat ini, literasi keuangan menjadi kompetensi dasar yang harus dimiliki setiap generasi muda. Kemampuan mengelola uang, mengenali risiko penipuan digital, memahami sistem pembayaran nasional seperti QRIS, serta mengetahui hak sebagai konsumen merupakan bekal penting dalam membentuk masyarakat yang cerdas secara finansial. Sebaliknya, rendahnya pemahaman terhadap Rupiah dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Generasi muda yang tidak memiliki literasi keuangan cenderung bersikap konsumtif, mudah terjebak dalam penipuan keuangan digital, kurang menghargai produk dan sistem ekonomi nasional, serta rentan menjadi korban peredaran uang palsu. Kurangnya rasa bangga terhadap Rupiah juga dapat melemahkan kesadaran akan pentingnya menjaga kedaulatan ekonomi bangsa. Selain itu, minimnya pemahaman mengenai transaksi digital yang aman berpotensi menyebabkan penyalahgunaan data pribadi, kerugian finansial akibat modus penipuan daring, hingga penggunaan layanan pembayaran ilegal yang tidak memberikan perlindungan kepada konsumen. Karena itu, pendidikan mengenai Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah perlu terus diperluas melalui sinergi antara sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, serta berbagai lembaga terkait. Dengan demikian, generasi muda Indonesia tidak hanya menjadi pengguna uang yang bijaksana, tetapi juga tumbuh sebagai warga negara yang memiliki karakter nasionalisme, literasi keuangan yang kuat, serta mampu berkontribusi dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional dan mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera. *** (Paulus Serapinus Sebho/Seran Sebho – Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang) Post Views: 89 Navigasi pos Tunjangan Profesi Guru Rp 2,2 Miliar Mengalir! 143 Guru Binaan Kemenag Lembata 2026, Kakanmenag Jamaludin Malik: “Jangan Hanya Hitung Uang, Tingkatkan Mutu!”