Harapan Salah Alamat Oleh : Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Pernahkah Anda merasa sangat yakin pada sebuah keputusan, tetapi pada akhirnya hanya bisa tersenyum simpul sambil bergumam, “Mengapa saya bisa sekonyol ini?” Kejadian itu baru saja saya alami tadi pagi ketika berkunjung ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan kesehatan rutin. Bagi siapa pun yang sering ke RS, tentu paham betul betapa rumit dan menyita waktunya urusan memarkir kendaraan—belum lagi biayanya yang tidak murah. Ingin praktis dan cepat, saya pun mencari jalan pintas yang saya kira sangat cerdas. Saya melihat seorang pedagang asongan yang sedang duduk beristirahat di depan kawasan RS. Tanpa ragu, saya menghampirinya dan meminta izin untuk menitipkan kendaraan sebentar. “Cuma sebentar ya, Pak, saya hanya ingin mengambil tiket antrean,” ucap saya dengan penuh keyakinan. Namun, begitu urusan tiket selesai dan saya keluar—yang ternyata memakan waktu sekitar 10 menit—pedagang tersebut sudah tidak ada di tempat. Beruntung motor saya masih ada (meskipun sendirian). Saya berdiri tertegun di pinggir jalan. Ternyata, beliau bukanlah penjaga lahan atau warga setempat yang akan berada di sana seharian. Beliau hanyalah seorang pedagang keliling yang kebetulan berhenti sejenak untuk melepas lelah, dan tentu saja harus segera melanjutkan perjalanannya. Di saat itulah saya tersadar: saya baru saja mempercayakan hal yang berharga kepada orang yang sama sekali tidak seharusnya. Salah Alamat Kejadian sederhana tadi pagi mendadak membuat saya merenung cukup dalam. Betapa seringnya dalam hidup, kita melakukan kesalahan yang sama dalam skala yang jauh lebih besar. Kita sering salah mempercayakan diri, salah menaruh harapan, dan salah memilih tempat untuk bersandar. Saya teringat pada kisah seorang sahabat. Secara medis, beliau telah terdiagnosis mengidap penyakit yang cukup serius dan memerlukan perawatan intensif yang terencana. Namun di tengah rasa cemas dan ketakutannya, ia bertemu dengan seseorang yang menawarkan pengobatan alternatif dengan janji kesembuhan yang manis. Karena dorongan rasa takut dan harapan instan, sahabat saya memutuskan untuk beralih. Beliau mempercayakan hidup dan kesehatannya pada pihak yang salah. Sayangnya, keputusan tersebut berujung fatal bagi proses penyembuhannya. Kisah sahabat saya adalah cerminan nyata dari apa yang sering kita lakukan sehari-hari. Ketika kita panik, merasa rapuh, atau membutuhkan kepastian, kita kerap mencari pegangan pada hal-hal yang tidak pasti: • Materi dan Jabatan: Kita menganggap uang atau posisi dapat memberikan rasa aman sejati, padahal semuanya bisa bergeser dalam sekejap. • Pengakuan Manusia: Kita menggantungkan kebahagiaan pada penilaian orang lain, padahal hati manusia mudah berubah. • Solusi Instan: Kita tergiur oleh janji-janji manis duniawi yang tampak menenangkan di awal, namun sebenarnya tidak memiliki dasar yang kuat. Kitab Suci sebenarnya telah lama mengingatkan kita akan kecenderungan manusia yang satu ini. Dalam Nabi Yeremia 17:5, tertulis dengan tegas: “Beginilah firman TUHAN: ‘Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!’” Pemazmur pun mengingatkan kita dengan pesan yang sangat relevan: “Janganlah percaya kepada bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberi keselamatan.” (Mazmur 146:3) Tuhan tidak melarang kita untuk berinteraksi atau membangun rasa percaya kepada sesama. Namun, Tuhan mengingatkan agar kita tidak menjadikan manusia atau hal-hal fana sebagai sumber harapan utama. Manusia memiliki keterbatasan. Pedagang asongan tadi pagi memiliki urusannya sendiri yang harus diselesaikan, dan sahabat saya berhadapan dengan manusia yang terbatas pengetahuannya. Manusia bisa lupa, bisa mengecewakan, dan bisa pergi. Hanya ada satu Pribadi yang tidak pernah melangkah pergi ketika kita menitipkan hidup kita: Tuhan sendiri. Dalam Injil Matius 11:28, Yesus dengan penuh kasih mengundang kita: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaannya kepadamu.” Tuhan tidak pernah memberikan janji palsu. Dia tidak hadir secara kebetulan lalu menghilang saat kita membutuhkan-Nya. Dia adalah Gunung Batu dan tempat perlindungan yang teguh serta tidak tergoyahkan. Memeriksa Kembali “Tempat Penitipan” Hati Kita Pengalaman sederhana di depan RS tadi pagi menjadi teguran yang lembut namun menohok bagi saya. Jika untuk urusan kendaraan saja kita bisa salah menitipkan, bagaimana dengan urusan hati, masa depan, dan jiwa kita? Marilah kita meluangkan waktu sejenak untuk berintrospeksi: Ke mana selama ini kita lari saat berada dalam kecemasan? Kepada siapa kita sungguh-sungguh mempercayakan keputusan-keputusan besar dalam hidup ini? Jangan sampai kita mempertaruhkan hidup dan masa depan kita pada “pedagang asongan kehidupan”—hal-hal sementara yang tampak menenangkan di permukaan, namun tidak memiliki kapasitas untuk menjaga kita. Mari belajar untuk kembali mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Dia yang seharusnya: Tuhan yang memegang kendali atas setiap hela napas kita. Bersama Dia, harapan kita tidak akan pernah salah alamat. Robert Bala. Penulis buku INSPIRASI HIDUP. Pengalaman Kecil Sarat Makna., Penerbit Kanisius Yogyakarta, cetakan ke-2. Post Views: 19 Navigasi pos Lantunan “Indah Rencana-Mu” Bergema di Bhakti Luhur, Gubernur Melki Laka Lena: Di ALMA, Kita Semua Satu