Berani Menyesal Homili Inspiratif Minggu Biasa ke-26, Tanggal 27 September 2026, Injil Matius 21:28-32. Oleh : Robert Bala Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Pernahkah kita berada dalam situasi di mana kata-kata kita terasa manis, tetapi tindakan kita justru bertolak belakang? Betapa sering kita terjebak dalam kerinduan untuk selalu dianggap baik oleh dunia. Kita merangkai kata indah dan menebar janji manis demi mengamankan penilaian orang lain. Namun kerap kali, kita hanya memoles bagian luar diri—mempercantik “topeng” tanpa pernah menyentuh bagian terdalam dari hati kita. Di era digital, godaan itu makin nyata lewat layar media sosial. Dengan mudah kita menampilkan citra diri yang serba sempurna, estetik, dan tampak saleh demi berburu like di atas kepalsuan. Itulah gambaran tepat dari anak kedua dalam Injil Matius (Mt 21:28-32): fasih mengumandangkan kata “ya”, tetapi langkah kakinya tidak pernah menyentuh kebun anggur. Namun, bagaimana jika kita merasa seperti anak pertama? Mungkin kita pernah frontal menolak, bertindak kasar, atau dicap “durhaka” dan jauh dari kehendak Allah. Jika berada di titik itu, jangan pernah putus asa. Kerahiman Allah tidak diukur dari seberapa sempurna kita memulai, melainkan seberapa berani kita berbalik. Anak pertama mengajarkan bahwa luka penolakan masa lalu bisa disembuhkan oleh satu hal: SEMANGAT MENYESAL. Menyesal berarti berani menanggalkan topeng kepalsuan, mengakui kelemahan di hadapan Allah, dan bangkit untuk benar-benar melangkah. Daripada menjadi anak kedua yang tampaknya patuh namun hatinya mati, biarlah kita memiliki keberanian anak pertama—yang meski sempat jatuh, mau membuka diri bagi pertobatan sejati dan bekerja di kebun anggur-Nya. Dalam Matius 21:28-32, Yesus memberikan perumpamaan tentang ayah yang meminta kedua anaknya bekerja di kebun anggur. Anak pertama menjawab tegas, “Aku tidak mau,” tetapi belakangan ia menyesal dan berangkat juga. Anak kedua dengan sangat sopan menjawab, “Baik, Bapa,” tetapi ia tidak pernah pergi. Melalui kisah ini, Yesus menegaskan: penyesalan yang mengarah pada perubahan diri jauh lebih berharga di mata Tuhan daripada kepatuhan yang sifatnya berpura-pura. Anak kedua mewakili godaan kepalsuan spiritual. Betapa mudahnya kita mengucapkan janji manis di tempat ibadah atau melantunkan doa indah. Namun, ketika diminta bekerja di “kebun anggur”—mempraktikkan kasih, pengampunan, dan kejujuran dalam hidup sehari-hari—kita sering kali menghilang. Kepatuhan bibir tanpa ketaatan hati tidak bermakna di hadapan Allah. Sebaliknya, anak pertama mengajar kita tentang keberanian bertobat. Momen paling krusial dalam hidupnya bukanlah penolakan awal itu, melainkan ketika ia berani menyesal dan mengubah arah hidupnya. Inilah alasan Yesus menyampaikan kalimat radikal kepada para pemimpin agama: “Pemungut cukai dan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Para pemungut cukai dan pelacur menyadari keretakan hidup mereka dan berani bertobat saat mendengar seruan Yohanes Pembaptis. Sementara para pemimpin agama yang merasa bersih justru menutup diri rapat-rapat dari seruan pertobatan. Pesan Injil ini menghadirkan pengharapan sekaligus tantangan. Masa lalu yang kelam atau penolakan yang pernah kita lakukan tidak pernah menutup pintu kerahiman-Nya. Yang terpenting bukanlah bagaimana kita memulai, melainkan bagaimana kita berani berbalik menuju kehendak-Nya hari ini. Penyesalan sejati senantiasa membuahkan pembaruan hidup yang nyata, sebagaimana tercermin dalam kisah Gene Daniels. Pada tahun 1970-an, Gene adalah seorang kriminal yang hidup dalam kekerasan di Amerika Serikat hingga akhirnya dijatuhi hukuman penjara yang panjang. Di dalam sel yang dingin, Gene mulai merenungi kerusakannya. Ia menyadari betapa hancurnya hidup yang telah ia jalani dan luka yang ia torehkan pada orang lain. Saat itulah ia mengalami momen “anak pertama”: penyesalan mendalam yang membakar dadanya. Tanpa membela diri, ia mengakui dosanya di hadapan Tuhan dan memutuskan berbalik arah total. Gene mulai mendalami iman di penjara. Penyesalannya membuah perubahan perilaku nyata: karakternya melunak dan ia mulai melayani sesama narapidana. Setelah bebas, ia mendedikasikan sisa hidupnya untuk mendirikan lembaga pelayanan bagi mantan narapidana dan anak muda yang tersesat. Kesaksian Gene Daniels membuktikan bahwa pintu kerahiman Allah selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang berani menyesal. Jangan biarkan rasa bersalah memenjarakan kita dalam masa lalu, dan jangan biarkan topeng kepalsuan menipu diri kita sendiri. Hari ini, mari melangkah ke kebun anggur-Nya—bukan lagi dengan janji kosong, melainkan dengan hati yang mau diperbaiki dan tindakan nyata yang menyelamatkan. *** Robert Bala. Penulis buku SUCCESSFUL AGING, Sukses di Usia Senja. Gramedia Pustaka Utama, 2021. Post Views: 19 Navigasi pos Wagub Johni: Pelayanan Gereja Harus Menjawab Persoalan Masyarakat