Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd. CPIM

Menggembirakan Belajar: Lebih dari Sekadar Regulasi, Sebuah Paradigma Baru Pendidikan

Oleh: Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd. CPIM

Pendahuluan

WARTA-NUSANTARA.COM—   Pendidikan di Indonesia sedang berada di persimpangan kritis. Di satu sisi, kita dihadapkan pada tantangan nyata berupa ketertinggalan literasi dan numerasi yang menuntut perbaikan sistemik. Di sisi lain, ada beban psikologis historis bahwa belajar sering kali diasosiasikan dengan tekanan, hafalan mekanis, dan rasa takut akan kegagalan. Kehadiran Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 bukan sekadar aturan administratif baru, melainkan sebuah pernyataan sikap tegas pemerintah: pendidikan harus dimulai dari kondisi emosional dan psikologis murid yang aman. Regulasi ini menegaskan bahwa lingkungan belajar yang inklusif dan nyaman bukanlah opsi tambahan, melainkan fondasi mutlak bagi setiap proses pembelajaran yang bermakna.

Fenomena

Realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan ideal dan praktik keseharian di satuan pendidikan. Selama bertahun-tahun, banyak sekolah secara tidak sadar mereproduksi budaya di mana pencapaian akademik diprioritaskan di atas kesejahteraan psikologis murid. Stigma “belajar itu berat” masih mengakar kuat; murid belajar untuk menghindari hukuman atau mengejar nilai, bukan karena rasa ingin tahu yang tulus. Akibatnya, meskipun kurikulum telah berganti-ganti, motivasi intrinsik murid tetap rendah dan angka ketertinggalan literasi-numerasi sulit turun secara signifikan. Banyak guru juga mengalami kelelahan emosional (burnout) karena terjebak dalam target administratif yang mengabaikan aspek manusiawi dari proses mengajar. Fenomena ini menciptakan siklus di mana tekanan berproduksi terus-menerus tanpa pernah menyentuh akar masalah, yaitu hilangnya kegembiraan dan rasa aman dalam belajar.

Pembahasan
Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 hadir sebagai koreksi fundamental terhadap fenomena tersebut, namun implementasinya memerlukan pemahaman yang tepat. Penekanan pada pembelajaran yang “menggembirakan” bukan berarti menjadikan kelas sebagai tempat bermain tanpa substansi, melainkan tentang menciptakan kondisi neurosains yang optimal. Riset membuktikan bahwa stres dan kecemasan memblokir akses ke korteks prefrontal—pusat berpikir tingkat tinggi. Sebaliknya, rasa aman dan kegembiraan yang autentik membuka pintu bagi kreativitas, penalaran kritis, dan retensi memori jangka panjang. Tanpa fondasi emosional ini, upaya mengejar literasi dan numerasi hanya akan menjadi latihan mekanis yang rapuh.

Lebih jauh, regulasi ini menandai pergeseran paradigma dalam pembentukan karakter bangsa. Integrasi nilai-nilai moral (olah hati dan rasa) dengan ketangkasan intelektual dan fisik menunjukkan pemahaman holistik tentang kompetensi manusia. Kita tidak lagi memproduksi lulusan yang pintar secara kognitif namun rapuh secara emosional, atau sebaliknya. Ketertinggalan akademis tidak bisa dikejar hanya dengan drill soal; ia memerlukan murid yang memiliki ketahanan mental, rasa percaya diri, dan koneksi emosional dengan apa yang mereka pelajari. Inilah esensi tanggung jawab pendidikan yang sesungguhnya: membentuk manusia utuh yang resilien, bukan sekadar mesin pencetak nilai. Regulasi ini adalah pengingat keras bahwa pendidikan yang efektif selalu dimulai dari manusia, bukan dari dokumen kurikulum.

Sejalan dengan semangat tersebut, Kurikulum Nasional kini juga mendorong transformasi kerangka berpikir guru dalam merancang pembelajaran. Penggunaan Taksonomi Bloom yang selama ini mendominasi perencanaan pembelajaran mulai ditinggalkan dan beralih pada Taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes). Pergeseran ini bukan sekadar pergantian istilah, melainkan perubahan orientasi: dari mengukur proses kognitif internal siswa menuju mengukur kualitas struktur respons siswa terhadap tugas belajar. Taksonomi SOLO memungkinkan guru memetakan kedalaman pemahaman siswa secara lebih objektif—mulai dari level pra-struktural, uni-struktural, multi-struktural, relasional, hingga abstrak diperluas—sehingga asesmen benar-benar mencerminkan kemampuan siswa menghubungkan konsep, bukan sekadar mengingat fakta.

Yang tak kalah penting, penerapan Taksonomi SOLO ini seyogianya tidak dibatasi hanya pada jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK, melainkan harus dimulai sejak tingkat paling dasar, yaitu PAUD. Pada fase emas perkembangan anak usia dini, fondasi cara berpikir terbentuk melalui pengalaman konkret dan interaksi bermakna. Menerapkan prinsip SOLO di PAUD berarti guru tidak lagi menilai anak berdasarkan “benar-salah” atau “banyak-sedikit”, melainkan mengamati bagaimana anak membangun koneksi antar-pengalaman, bagaimana mereka menjelaskan alasan di balik tindakan mereka, dan bagaimana mereka mentransfer pemahaman ke situasi baru. Ini selaras sepenuhnya dengan semangat “pembelajaran menggembirakan”: ketika anak merasa aman dan dihargai proses berpikirnya, mereka akan berani mengeksplorasi, bertanya, dan membangun pemahaman yang mendalam sejak dini. Menunda penerapan SOLO hingga jenjang yang lebih tinggi sama saja dengan kehilangan momentum pembentukan pola pikir kritis dan kreatif di masa paling krusial.

Saran bagi Satuan Pendidikan
Agar semangat Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 dan transformasi pedagogis berbasis Taksonomi SOLO tidak berhenti sebagai teks regulasi, satuan pendidikan perlu mengambil langkah konkret:

– Audit Iklim Sekolah Secara Berkala: Lakukan survei anonim kepada murid dan guru untuk mengukur persepsi keamanan psikologis dan kenyamanan belajar. Data ini harus menjadi dasar evaluasi kebijakan internal, bukan sekadar formalitas.
– Pelatihan Guru Berbasis Trauma-Informed Pedagogy dan Taksonomi SOLO: Guru perlu dibekali keterampilan untuk mengenali tanda-tanda distress pada murid dan meresponsnya dengan empati, sekaligus mampu merancang asesmen yang memetakan kedalaman pemahaman sesuai level SOLO. Pembelajaran yang menggembirakan dimulai dari guru yang merasa aman, dihargai, dan kompeten secara pedagogis.
– Desain Asesmen yang Memberdayakan: Kurangi asesmen yang bersifat menghakimi dan tingkatkan asesmen formatif yang memberikan umpan balik konstruktif. Biarkan kesalahan menjadi bagian alami dari proses belajar, bukan aib yang harus disembunyikan.
– Integrasi Olah Hati dalam Setiap Mata Pelajaran: Nilai-nilai moral tidak boleh hanya diajarkan dalam jam PAI atau PPKn. Setiap guru, termasuk guru matematika dan sains, memiliki tanggung jawab untuk menanamkan integritas, rasa hormat, dan empati melalui cara mereka berinteraksi dan merancang pembelajaran.
– Libatkan Murid dalam Merancang Lingkungan Belajar: Beri ruang bagi suara murid dalam menentukan aturan kelas, tata letak ruang belajar, dan jenis kegiatan yang mereka anggap menggembirakan. Kepemilikan (ownership) terhadap lingkungan belajar adalah kunci keterlibatan autentik.
– Implementasi Taksonomi SOLO Sejak PAUD: Pastikan guru PAUD mendapatkan pendampingan khusus dalam menerapkan prinsip SOLO melalui observasi, dokumentasi, dan refleksi harian. Hindari pendekatan drill atau tes formal di PAUD; fokuslah pada pemetaan kualitas pemahaman anak melalui interaksi alamiah dan proyek bermain yang bermakna.

Kesimpulan
Mengejar ketertinggalan literasi dan numerasi tanpa memperbaiki fondasi emosional dan psikologis murid ibarat membangun rumah di atas pasir. Pembelajaran yang menggembirakan, lingkungan yang aman, integrasi olah hati-budi-raga, serta kerangka asesmen yang berorientasi pada kedalaman pemahaman (Taksonomi SOLO) sejak PAUD bukanlah kemewahan yang bisa ditunda hingga capaian akademik tercapai; ia adalah prasyarat agar capaian akademik itu sendiri dapat diraih secara berkelanjutan dan bermakna. Tanggung jawab kita sebagai pendidik dan pemangku kepentingan pendidikan adalah memastikan bahwa setiap murid tidak hanya menjadi pintar, tetapi juga menjadi manusia yang utuh, resilien, dan mencintai proses belajar sepanjang hayatnya.

Tentang Penulis:

Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd. CPIM, ASN Kemenag Lembata di departemen Kepala Sekolah. Sebagai Promotor Literasi dan Pelopor Taman Baca Savana Iqra Lembata. Penulis opini/esai/artikel di media online. Buku “Mendidik dengan Cinta” Penerbit: Takaza Inovatix Laos 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *