Filosofi Pangan dalam Perayaan Maulid Nabi Oleh : H. M. Thaher Maloko WARTA-NUSANTARA.COM— Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di berbagai penjuru Nusantara selalu semarak dengan kehadiran aneka sajian kuliner khas. Di balik kemeriahan tersebut, tradisi ini tidak sekadar menjadi ajang santap bersama atau rutinitas tahunan belakangan ini. Kehadiran telur dihias, pisang, kelapa muda, hingga nasi tumpeng membawa pesan dakwah yang teramat halus. Pangan dalam perayaan Maulid berfungsi sebagai medium syiar Islam; sebuah artikulasi budaya lokal yang kaya akan nilai simbolis dan filosofi hidup. Simbol pertama yang sangat lekat dengan Maulid adalah telur. Telur melambangkan asal-muasal kehidupan, yang merepresentasikan kelahiran Rasulullah SAW sebagai pembawa cahaya baru bagi peradaban dunia. Tiga lapisan telur menyimpan pesan spiritual yang mendalam: kulit telur menggambarkan syariat Islam, putih telur melambangkan pembungkus hati atau Iman, serta kuning telur di inti terdalam mencerminkan hakikat kesempurnaan Ihsan. Selanjutnya, pohon pisang menghadirkan filosofi kebermanfaatan dan keberlanjutan. Sifat alami pohon pisang yang pantang mati sebelum menghasilkan buah dan menumbuhkan tunas baru memberikan pelajaran moral bahwa seorang Muslim harus bertekad memberi manfaat bagi sesama serta mencetak generasi penerus yang saleh. Setiap bagian pohon pisang berguna bagi manusia, mencerminkan kepribadian Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmatan lil ‘Alamin. Selain itu, susunan pisang dalam satu sisir atau tandan menyimbolkan eratnya ikatan silaturahmi dan persatuan warga. Karakter serupa juga terpancar dari kelapa muda. Air kelapa yang jernih menyimbolkan kesucian pikiran dan ketulusan hati (fitrah), sementara daging kelapa melambangkan keteguhan iman. Tempurung dan sabutnya menjadi pelindung dari pengaruh buruk luar, mempertegas pesan agar manusia tumbuh menjadi pribadi kokoh yang senantiasa memberi kesegaran dan kemanfaatan di mana pun berada. Adapun nasi tumpeng; baik berupa nasi kuning maupun nasi kebuli; melengkapi simbolisme hubungan spiritual dan sosial. Bentuk kerucut yang menjulang ke atas merupakan cerminan Hablum Minallah (hubungan manusia dengan Tuhan) sekaligus ekspresi puncak rasa syukur atas kelahiran Sang Nabi. Di sisi lain, aneka lauk-pauk yang mengelilingi bagian bawah tumpeng menggambarkan Hablum Minannas (hubungan dengan sesama), yakni keragaman ciptaan yang hendaknya hidup berdampingan secara harmonis. Di tengah modernisasi yang berpotensi menggerus makna tradisi menjadi sebatas formalitas konsumtif, pemaknaan ulang terhadap simbol pangan Maulid menjadi sangat krusial. Tradisi ini hendaknya tidak disikapi sekadar ritual fisik membagikan makanan. Para pemuka agama, tokoh masyarakat, dan pendidik perlu menjadikan momen Maulid sebagai sarana edukasi kultural. Dengan menjelaskan makna di balik telur, pisang, kelapa, dan tumpeng, masyarakat, khususnya generasi muda dapat meresapi bahwa nilai-nilai keislaman dan keharmonisan sosial sesungguhnya telah menyatu dalam kearifan lokal sehari-hari. Tradisi penyiapan pangan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah bukti kejeniusan para pendahulu dalam mengawinkan nilai-nilai ajaran Islam dengan budaya Nusantara. Kuliner Maulid bukan sekadar pengisi perut, melainkan “buku teks” kehidupan yang mengajarkan tentang kedalaman syariat, kebermanfaatan hidup, keteguhan iman, dan harmoni keberagaman. Dengan merawat dan memahami pesan tersirat di balik panganan Maulid, kita tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga menghidupkan meneladagni akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan bermasyarakat. Tentang Penulis: Dosen di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar Post Views: 30 Navigasi pos Moderasi Beragama di Kalangan Remaja: Urgensi dan Implementasi di SMPN 2 Nubatukan