Kapela Retak Akibat Gempa, Umat Stasi Compang Gelar Ibadat Pertama di Halaman MANGGARAI TIMUR : WARTA-NUSANTARA.COM— Gempa 7,7 SR meretakkan dinding, tapi tidak meruntuhkan iman. Itulah yang terlihat di Kapela St. Yosef Freinademetz, Stasi Compang Ngeles, Paroki St. Yohanes Pembaptis Elar, Keuskupan Ruteng. Pasca gempa Flores Sabtu (15/8/2026), umat menggelar ibadat Minggu pertama di luar Kapela pada 30 Agustus 2026. Kapela Rusak Iman Tetap Kokoh Secara fisik bangunan kapela masih berdiri. Namun guncangan gempa meninggalkan kerusakan cukup parah. Bagian pendopo depan retak dan plesteran berjatuhan. Atap hancur, hiasan-hiasan liturgi berantakan, serta dinding sekeliling kapela mengalami retakan. Kondisi di dalam ruang yang mengkhawatirkan membuat pihak gereja memutuskan menggelar ibadat di halaman kapela Gorong. Dipimpin Pater Anjas : “Semuanya bisa dibangun kembali jika kita selamat” Ibadat dipimpin langsung Pastor Paroki St. Yohanes Pembaptis Elar, Pater Anselmus Jalang SVD atau yang akrab disapa Pater Anjas. Dengan suasana yang hikmat di bawah langit terbuka, ia menyampaikan pesan penguatan kepada umat. “Kita bersyukur karena atas kasih Tuhan kita telah dikecualikannya dari dahsyatnya guncangan gempa. Marilah kita menyerahkan semua rencana baik kepada Tuhan agar Ia membantu usaha siapa saja yang ingin membantu kita. Kiranya kita tetap percaya pada Tuhan. Rumah hancur dan semuanya tetapi kita selamat. Semuanya bisa dibangun kembali jika kita selamat,” ucapnya. Pater Anjas juga mengajak umat untuk tidak takut dan terus membangun kembali iman yang kuat, bersamaan dengan membangun kembali hunian. “Mari teruslah berdoa dan bersyukur supaya setiap orang tak lagi mengalami rasa takut dan kekhawatiran pasca gempa. Dan semoga semua orang percaya di sana bersatu untuk kembali membangun kotanya. Walau bumi berguncang dan laut bergemuruh namun kita bersyukur karena Tuhan telah menyelamatkan kita,” tandasnya. Dalam ibadat tersebut, umat juga menerima Komuni yang dibagikan langsung oleh pemimpin ibadat. “Kami tetap disini, ditenda-tenda sedeerhana kami” Rasa khawatir akan gempa susulan masih menghantui warga. Namun iman mengalahkan ketakutan. Seorang umat Stasi Compang Ngeles berbagi kesaksiannya. “Masih was-was. Tapi saya percaya pada penyelenggaraan Tuhan dan akan tetap tinggal di sini. Kami tetap di sini di tenda-tenda sederhana kami. Karena kita pergi jauh sekalipun, kalau memang musibah akan menimpa, tentu akan terjadi. Kita syukuri saja. Yakinlah bahwa di manapun kita berada, Tuhan akan melindungi kita,” ujarnya. Sebagian warga memilih bertahan di kampung dengan membangun tenda-tenda kecil di halaman rumah, berkumpul bersama keluarga dan menjaga harta benda yang tersisa. Pesan ditengah reruntuhan Ibadat pertama pasca gempa ini menjadi bukti bahwa bencana tidak memadamkan semangat umat. Di tengah retakan kapela dan trauma yang masih ada, umat Stasi Compang Ngeles memilih bersyukur, berdoa, dan saling menguatkan. Kapela mungkin retak. Tapi kebersamaan dan iman umat Compang Ngeles tetap berdiri kokoh. ***(PelitaDesa/WN-01) Post Views: 13 Navigasi pos Melampaui Ingatan Fisik