Penyuluh Lintas Agama Kemenag Lembata Sasar Siswa SMPN 2 Nubatukan : Urgensi Moderasi Beragama Ditanamkan Sejak Dini LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Sebagai upaya memperkuat kerukunan hidup beragama di tengah keberagaman bangsa, para penyuluh agama lintas agama yang tergabung dalam Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Lembata melaksanakan kegiatan bimbingan dan penyuluhan di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Nubatukan, Desa Pada, pada Jumat, 28 Agustus 2026. Kegiatan ini menyasar para siswa dan siswi dengan materi utama pengenalan serta penanaman nilai-nilai moderasi beragama di kalangan remaja. Kegiatan ini sejalan dengan program prioritas Kementerian Agama sebagaimana tertuang dalam Asta Protas Kementerian Agama dan Keputusan Menteri Agama Nomor 24 Tahun 2025 tentang Program Prioritas Menteri Agama Tahun 2025–2029. Salah satu fokus utama program tersebut adalah penguatan kerukunan dan cinta kemanusiaan, di mana moderasi beragama menjadi pilar utamanya. Penyuluh Lintas Agama Kemenag Lembata Sasar Siswa SMPN 2 Nubatukan Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kabupaten Lembata, Atanasius Dewantoro Labaona, SS, menjelaskan bahwa moderasi beragama menjadi sangat strategis karena dua alasan mendasar. Pertama, esensi kehadiran agama adalah menjaga martabat manusia sebagai makhluk mulia ciptaan Tuhan, bukan merenggut nyawa atau merendahkan sesama. Setiap agama membawa misi kedamaian dan keselamatan, serta mengajarkan keseimbangan dan penghargaan terhadap sesama manusia, termasuk mereka yang berbeda keyakinan. Kedua, bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan keanekaragaman suku, agama, budaya, etnis, dan wilayah. Keragaman ini adalah pemberian yang tidak dapat ditolak, namun dapat menjadi kekuatan jika dihadapi dengan sikap saling menghargai. “Moderasi beragama hadir sebagai katalisator yang menjembatani setiap perbedaan itu, agar setiap umat dapat hidup saling memahami, menghargai, dan menghormati satu sama lain,” ungkapnya. Fokus kegiatan ini ditujukan kepada para remaja bukan tanpa alasan. Para penyuluh agama meyakini bahwa masa remaja merupakan masa kritis di mana pandangan dunia mulai terbentuk. Remaja hidup di lingkungan yang sangat beragam — di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal, mereka bertemu dengan orang-orang yang berbeda agama, suku, budaya, bahasa, dan pandangan hidup. Selain itu, mereka hidup di era media sosial di mana informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, baik yang benar maupun yang salah. “Kelompok remaja adalah tanah subur untuk mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama. Meskipun idealnya ditanamkan lebih awal, tidak ada kata terlambat untuk sesuatu yang baik,” ujar Atanasius. Melalui kegiatan ini, para siswa dibekali kemampuan berpikir kritis untuk tidak mudah terprovokasi, mampu membedakan informasi yang benar dan hoaks, serta menghindari ujaran kebencian, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Mereka juga diajak untuk menjadi pembawa damai di lingkungan sekolah maupun di masyarakat, sebagaimana ditegaskan dalam ajaran agama: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Salah satu kekhawatiran yang sering muncul adalah anggapan bahwa moderasi beragama dapat melemahkan iman atau mengompromikan ajaran agama. Terkait hal itu, Atanasius menegaskan bahwa pandangan tersebut tidak benar. “Moderasi beragama sama sekali bukan berarti mengompromikan prinsip-prinsip dasar atau ritual pokok agama demi menyenangkan orang lain yang berbeda paham keagamaan. Juga bukan alasan untuk tidak menjalankan ajaran agama secara serius,” tegasnya. Sebaliknya, moderasi beragama mengarahkan orang beragama untuk mengimani dan menghidupi ajaran agamanya secara serius dan matang, sekaligus menumbuhkan sikap keterbukaan untuk menerima dan menghargai perbedaan yang ada dalam agama dan keyakinan lain. “Iman mereka tetap bertumbuh dan matang, namun tidak meniadakan keterbukaan sikap untuk mau menerima dan menghargai perbedaan yang ada di dalam diri sesamanya,” tambahnya. Kegiatan bimbingan dan penyuluhan ini diharapkan dapat menjadi awal yang baik dalam membangun kesadaran bersama, khususnya di kalangan generasi muda, bahwa perbedaan bukan alasan perpecahan, melainkan kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan. Sinergi antara pihak sekolah, orang tua, tokoh masyarakat, dan para penyuluh agama sangat diharapkan agar nilai-nilai moderasi beragama dapat terus ditanamkan dan menjadi budaya di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. #RAM Post Views: 21 Navigasi pos Pembinaan Calon Pengantin di Buyasuri Integrasikan Materi Agama dan Kesehatan