Menjaga Lembata dari Jerat Hoaks LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Satu kabar palsu bisa bergerak lebih cepat daripada kemampuan masyarakat memeriksa kebenarannya. Di ruang digital, informasi yang belum tentu benar dapat menjelma seolah-olah fakta, lalu menyulut keresahan, kepanikan, ketakutan, bahkan perpecahan. Karena itu, masyarakat Lembata diajak tidak menjadi bagian dari rantai penyebaran hoaks. Ajakan tersebut menjadi fokus utama kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi hari kedua Lembata, yang disampaikan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata Anselmus Ola, Rabu, ( 16/09/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh sedikitnya 50 peserta yang berasal dari pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM), pengelola perpustakaan sekolah, dan pengelola perpustakaan desa. Dalam materinya, Anselmus Ola Bahi mengatakan hoaks adalah informasi palsu atau menyesatkan yang dikemas sedemikian rupa sehingga tampak benar. Persoalannya, masyarakat belum seluruhnya memiliki kemampuan literasi informasi yang cukup untuk membedakan mana informasi yang benar dan mana yang bohong. Di sisi lain, kebebasan berpendapat di media tidak mungkin begitu saja dilarang. Setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan opini, termasuk menggunakan identitas anonim. Namun kebebasan tersebut, menurut Anselmus, tidak boleh menghilangkan tanggung jawab untuk menjaga kebenaran informasi. Hoaks, kata dia, bukan hanya persoalan antara benar dan salah di layar telepon genggam. Informasi menyesatkan dapat menyeberang ke ruang sosial dan memengaruhi kehidupan masyarakat. Jika dibiarkan, hoaks berpotensi merusak ketertiban masyarakat. Keresahan bisa tumbuh, kepanikan dan ketakutan dapat menyebar, bahkan dapat berujung pada aksi massa ataupun konflik di lapangan. Karena itu, Anselmus mengajak seluruh masyarakat Lembata membangun kebiasaan baru dalam menghadapi derasnya arus informasi: tidak langsung percaya, tidak terburu-buru membagikan, dan selalu memeriksa kebenaran sebuah informasi. “Mari semua kita menjaga kebenaran, mencegah kepanikan dan ketakutan, mencegah perpecahan, melindungi nama baik, menjaga demokrasi dan mendidik generasi yang kritis.” Menurut dia, literasi informasi harus menjadi benteng masyarakat dalam menghadapi banjir informasi. Masyarakat tidak cukup hanya mampu membaca, tetapi harus memiliki kemampuan untuk bertanya, memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan mengambil kesimpulan secara kritis. Pesan tersebut menemukan relevansinya dalam kegiatan Bimtek Literasi Informasi yang mempertemukan para pengelola TBM dan perpustakaan sekolah serta desa. Mereka berada di garis depan dalam membangun budaya baca sekaligus membentuk masyarakat yang lebih kritis terhadap informasi. Materi lain dalam kegiatan tersebut disampaikan Mariana Ningsi D.J.B. Bake, guru Bahasa Inggris SMP Negeri 1 Atadei, dengan materi “Hoax Bukanlah Buah Simalakama”. Materi lainnya disampaikan Deasy Herlina, Kepala SMP Negeri 2 Nubatukan. Ketua Panitia Bimtek Literasi Informasi, Fransiskus Belawa, menegaskan bahwa melawan hoaks tidak bisa dilakukan oleh satu lembaga. Perang terhadap informasi palsu membutuhkan keterlibatan seluruh warga. Ia berharap masyarakat Lembata tidak hanya menjadi pengguna informasi, tetapi juga menjadi penjaga kualitas informasi di lingkungannya masing-masing. “Perang melawan hoaks harus benar-benar dilakukan oleh semua warga Lembata. Bila perlu, tidak ada tempat bagi hoaks di Lembata,” ujar Fransiskus. Bimtek tersebut terselenggara berkat dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Perpustakaan Nasional dan dukungan Universitas Muhammadiyah Malang. ***(Sabatani/WN-01) Post Views: 36 Navigasi pos Siap Operasional Pasca Gempa, Kapolres Ende Cek Langsung Kelayakan Seluruh Kendaraan Dinas