Alumni Gontor dari Penjuru Dunia Padati Ponorogo

Alumni Gontor dari Penjuru Dunia Padati Ponorogo, Reuni Akbar 100 Tahun Jadi Ajang Silaturahmi, Jaringan Bisnis, dan Penguatan Adab

PONOROGO : WARTA-NUSANTARA.COM—   Puluhan ribu alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) mulai berdatangan ke Ponorogo, Jawa Timur, Jumat (18/9/2026), untuk mengikuti puncak Peringatan 100 Tahun Gontor yang digelar 18–20 September 2026. Mereka datang dari berbagai daerah, bahkan penjuru dunia, dengan cara beragam: naik pesawat terbang, kereta api, bus, touring motor besar, hingga mengayuh sepeda. Perjalanan panjang itu menjadi bagian dari kerinduan alumni untuk kembali ke almamater pada momentum satu abad Gontor.

Ketua Panitia Reuni Akbar 100 Tahun PMDG, Ustadz Ahmad Suharto, menilai antusiasme tersebut sebagai gambaran kuatnya hubungan emosional alumni dengan pesantren. Menurut dia, perjalanan para alumni menuju Gontor bukan sekadar menghadiri acara. Mereka membawa semangat untuk kembali bertemu, mempererat ukhuwah, sekaligus mengingat kembali nilai-nilai pendidikan yang pernah diperoleh selama di pesantren. “Pulang ke pangkuan Ibu” menjadi gambaran kerinduan tersebut.

“Pondok itu bukan sekadar bangunan fisiknya, melainkan kontribusi, jiwa, dan kiprah para alumninya. Gelombang kedatangan alumni yang menempuh jalur darat dengan motor maupun sepeda ini merupakan wujud kecintaan mereka untuk kembali meresapi ulang nilai-nilai pendidikan Islam dan menyatukan langkah menatap abad kedua Gontor,” kata Ahmad Suharto.

Semangat itu salah satunya terlihat dari rombongan alumni yang menggelar touring motor besar lintas pulau. Zakiyanto Arief, alumni Gontor tahun 1999 yang memimpin rombongan, menyebut perjalanan ratusan kilometer itu mempertemukan alumni lintas generasi. “Ini adalah touring motor besar lintas angkatan dari angkatan 90-an sampai 2000-an. Kita boleh berbeda rem, berbeda motor, tetapi satu tujuan menuju satu pangkuan ibu, satu tujuan yaitu Gontor,” ungkapnya.

Perjalanan menuju Gontor juga dilakukan alumni dari berbagai daerah. Faizin Faris, alumni angkatan 1993, turut melepas rombongan dari titik kumpul regional Jawa Barat. Rombongan bergerak dari Cikampek menuju Ponorogo. “Kita start dari Cikampek menuju Gontor bersama belasan alumni yang berasal dari seluruh Indonesia. Semua menuju Gontor untuk merekatkan ikatan silaturahmi antar-alumni Gontor,” tutur Zakiyanto Arief.

Hakim Mukin, alumni Gontor 2017, angkatan Generation Survival, asal Lembata, pun mengambil kesempatan hadir dalam Peringatan 100 Tahun Gontor. Hakim yang juga alumni S1 Uhamka Jakarta dan S2 Trisakti ini, selain mengikuti reuni akbar, memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun jaringan bisnis di antara sesama alumni. Baginya, pertemuan lintas angkatan dan lintas daerah ini menjadi ruang mempererat silaturahmi sekaligus membuka peluang kolaborasi usaha setelah para alumni berkarya di berbagai bidang.

Tidak hanya soal jaringan bisnis, Hakim Mukin juga menitipkan pesan kepada para alumni. Ia mengingatkan agar tetap sederhana dalam hidup sebagaimana khitah Gontor, namun jangan berhenti menjadi santri Gontor di era kognisi digital. Menurutnya, siapa yang tidak kuat akan tergilas masa yang tidak dapat diajak kompromi. Karena itu, jalan satu-satunya adalah “pulang ke pangkuan ibu”, yakni adab Gontor.

“Tetaplah sederhana sebagaimana khitah Gontor, namun tetap jangan berhenti menjadi santri Gontor di era intelegensia artifisial. Bila tidak kuat, Anda akan tergilas masa yang tidak dapat diajak kompromi. Maka jalan satu-satunya adalah pulang ke pangkuan ibu, yaitu adab Gontor,” pesannya.

Kepada anak-anak NTT, Mukin meyakinkan agar mereka berani menata diri lebih dalam juga spesifik dan membuka lapangan kerja. Alumni Trisakti S2 ini pun bermimpi membangun NTT seyogianya dari karya-karya tangan anak NTT. Menurutnya, kemajuan daerah harus lahir dari kemampuan putra daerah sendiri, bukan semata bergantung pada pihak luar.

Menurut Ahmad Suharto, kekuatan alumni Gontor kini telah berkembang jauh melampaui hubungan antarlulusan. Mereka tersebar dalam 136 cabang Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) di dalam dan luar negeri. Selain itu, terdapat lebih dari 1.500 pesantren alumni yang menjadi bagian dari kiprah para lulusan Gontor di tengah masyarakat. Keberadaan jaringan tersebut dinilai menjadi modal penting untuk melanjutkan kontribusi Gontor memasuki abad keduanya.

Puncak Peringatan 100 Tahun Gontor mengusung tema “100 Tahun Merintis Pendidikan Holistik, Menginspirasi Dunia, dan Membangun Peradaban”. Rangkaian kegiatan dimulai dengan Khotmil Qur’an dan Sujud Syukur pada Jumat (18/9). Selanjutnya, Resepsi Kesyukuran bersama Presiden RI digelar pada Sabtu (19/9), sebelum ditutup melalui Reuni Akbar lintas generasi pada Minggu (20/9).

#RAM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *