Menyulam Kasih Diatas Benang-benang Keriput Oleh : Frater. Agustinus Naisoko, CMM (Program Studi : Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma Jogjakarta) Bunyi Kayu Tenun dan Bau Sopi yang Sederhana WARTA-NUSANTARA.COM— Di sebuah sudut desa yang tenang. Setiap kali mengingat masa kecil, hal pertama yang terlintas di ingatan saya bukanlah hal-hal yang indah, melainkan aroma tajam air nira dan bunyi kayu tenun Mama. Bapak tiri saya seorang petani sederhana. Setiap pagi, sebelum matahari belum muncul, beliau sudah memanjat pohon-pohon lontar, menyulang air nira, bahkan setelah proses menyulang air nira langkah selanjutnya membutuhkan proses yang cukup lama duduk di depan tungku pembakaran untuk menantikan hasil tetesan yang di olah menjadi sopi/ minuman miras. Sopi itulah yang menjadi penopang nafas dapur kami dijual liter demi liter untuk sekadar menyambung hidup, membeli segenggam garam, beras, dan sedikit lauk-pauk. Sementara di sudut teras rumah Mama yang bersahaja, Mama selalu duduk di depan alat tenun kayu tradisionalnya. Bunyi tak-tak-tik-tak dari entakan kayu tenun Mama adalah irama musik yang mengiringi tumbuh kembang saya. Jemari Mama yang kasar dan perlahan mulai berkeriput dengan teliti menyusun benang demi benang, membentuk motif kain adat yang indah. Menenun butuh ketelitian, proses demi proses dan kesabaran, serta waktu berhari-hari. Namun, hasil penjualan selembar kain tenun yang tak seberapa itu kerap kali langsung menguap begitu saja untuk kebutuhan sehari-hari, membayar utang di kios, membayar tagihan mingguan dan membayar uang sekolah saya. Kami bukan keluarga berada. Kami tidak punya usaha besar, tidak punya simpanan di bank, apalagi harta yang bisa dipamerkan. Kami hidup dari hari ke hari, merajut harapan di tengah kesederhanaan yang amat menyengat. Namun, di dalam rumah kayu yang bersahaja itu, saya menyaksikan sebuah pelajaran hidup yang tidak pernah saya temukan di dalam buku-buku tebal atau bangku sekolah mana pun: pelajaran tentang “bela rasa” yang bisa teladankan oleh Mama. Segenggam Uang yang Memicu Pertengkaran Di Malam Hari Saya ingat betul sebuah malam yang hening. Di atas meja makan, hanya ada sepiring ubi rebus dan sedikit segelas teh hangat. Hari itu, Bapak baru saja mendapatkan sedikit uang dari hasil penjualan sopi, dan Mama menerima uang muka dari tetangga yang memesan kain tenun. Uang itu seharusnya dipakai untuk membeli beras seminggu ke depan dan membayar tunggakan sekolah saya yang sudah menumpuk beberapa bulan. Namun, saat senja merambat naik, datang tamu dari tetangga yang berseblahan dengan rumah mengetuk pintu rumah kami. Matanya sembab, wajahnya yang sedih penuh belaskasihan. Tujuan kedatangannya hanya mau meminjam uang untuk membayar uang sekolah anaknya. Dengan suara gemetar, tentu di dalam kekurangan Mama tidak menutup hati dan mata untuk membantu ibu tersebut. Mama tidak berpikir panjang. Tanpa ragu, Mama masuk ke dalam kamar, mengambil lipatan kain tenunnya, dan mengeluarkan seluruh uang yang baru saja ia terima hari itu. Mama menyerahkan semua uang itu ke tangan ibu tersebut tanpa meminta jaminan, tanpa menentukan kapan harus dikembalikan. “Pakailah dulu,” kata Mama lembut sambil mengelus bahu ibu tersebut. Setibanya tamu itu pergi, pintu kamar kembali tertutup rapat. Dari luar, saya mendengar bisik-bisik yang perlahan berubah menjadi nada tinggi. Bapak tiri saya marah besar. Pertengkaran tak terelakkan terjadi di antara mereka berdua. “Kenapa Mama kasih semua uang itu? Kita sendiri besok mau makan apa? Uang sekolah anak juga belum dibayar!” suara Bapak Tiri terdengar bergetar menahan amarah dan kekecewaan. Saya berdiri di balik pintu dengan dada sesak dan mata berair. Saya tahu Bapak tiri tidak jahat; Bapak hanya cemas karena dapur kami sendiri sedang terancam mati asapnya. Namun, jawaban Mama malam itu runtuh menggetarkan hati saya: “Kalau kita tidak ada uang besok, kita masih punya jualan sopi dan kain tenun, mungkin saja ada orang baik yang mau membeli. Tapi orang ibu sangat membutuhkan uang untuk membayar uang sekolah anaknya. Jangan tutup mata kalau ada orang susah di depan mata kita. Kebaikan yang kita tanam tidak akan pernah membuat kita mati kelaparan.” Mama selalu menangis dalam diam setelah pertengkaran-pertengkaran seperti itu. Namun, keesokan harinya, Mama tidak pernah menyesali keputusannya. Hati Mama terlalu lembut untuk membiarkan penderitaan orang lain berlalu begitu saja di depan matanya. Pontang-Panting dan Pintu-Pintu yang Tertutup Bela rasa Mama bukan lahir dari kelimpahan, melainkan dari penderitaan yang ia rasakan sendiri. Karena Mama tahu rasanya tidak punya apa-apa, Mama tidak tega melihat orang lain berada di posisi yang sama. Namun, nasib sering kali terasa tidak adil. Ketika keluarga kami sendiri yang berada di ujung tanduk saat uang sekolah saya harus segera dilunasi agar saya tidak dikeluarkan dari sekolah Mama harus menelan harga dirinya rapat-rapat. Saya sering melihat Mama berlari pontang-panting menyusuri lorong-lorong rumah tetangga di bawah terik matahari yang menyengat, berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya untuk meminjam uang. Saya pernah mengintip dari kejauhan ketika Mama berdiri di depan pintu rumah seorang tetangga yang lebih berada. Dengan wajah menghiba dan tangan gemetar, Mama memohon agar diberi pinjaman uang demi biaya sekolah saya. Namun, saya melihat bagaimana pintu itu tertutup tipis. “Maaf, tidak ada uang,” ucap suara dari dalam, dingin dan singkat. Saya tahu betul orang itu sebenarnya mampu. Saya melihat Mama hanya bisa menunduk, mengusap air matanya yang menetes di atas kain sarung tenunnya, lalu tersenyum getir dan mengucapkan terima kasih sebelum melangkah pergi. Hati saya rasanya hancur berkereping-keping melihat Mama diperlakukan seperti itu. Ada rasa benci dan amarah yang tumbuh di dada kecil saya saat itu. Saya ingin berteriak dan bertanya pada Tuhan, mengapa orang sebaik Mama yang selalu mengulurkan tangan untuk orang lain harus mengalami penolakan yang begitu menyakitkan? Ketika Mama kembali ke rumah dengan tangan kosong, saya sedih dan khawatir namun tidak memaksa Mama harus mendapatkan uang secepatnya dan memeluknya. “Terkadang saya sedih menahan malu. Saya tidak tega lihat Mama mengemis pinjaman uang untuk saya.” Mama memeluk saya erat-erat. Usapan tangannya yang kasar di kepala saya terasa begitu hangat. “Jangan menangis,” bisik Mama lembut. “Orang tidak mau pinjamkan uang bukan berarti mereka jahat. Mungkin mereka memang sedang ada kebutuhan lain. Jangan simpan dendam di hatimu. Ingat, bukan besarnya nilai yang kita beri, tapi soal peduli. Kalau kita susah hari ini, Tuhan pasti sediakan jalan besok.” Impian Sederhana Seorang Ibu Mama tidak pernah bermimpi tinggi-tinggi untuk anak-anaknya. Di desa kami, banyak orang tua yang menuntut anaknya kelak menjadi pejabat, pengusaha sukses, orang kaya, atau punya rumah mewah agar bisa mengangkat derajat keluarga. Namun, Mama tidak pernah menyisipkan doa-doa seperti itu di atas sejadah atau dalam bisikan doa malamnya. Mama tidak pernah menuntut saya untuk menjadi orang sukses yang bergelimang harta. Pelajaran utama yang selalu ia ulang-ulang dari meja makan hingga ke pembaringan kami adalah tentang bagaimana menjadi manusia yang berguna bagi orang lain. “Mama tidak minta kamu jadi orang kaya,” kata Mama suatu hari ketika kami sedang duduk bersama merapikan gulungan benang tenun. “Kaya harta itu bisa habis dalam sekejap. Tapi kalau kamu punya bela rasa, kamu punya mata yang mau melihat orang susah, punya hati yang mau berbagi, dan punya tangan yang mau menolong, kamu tidak akan pernah miskin di mata Tuhan.” Mama mengajarkan kami untuk selalu percaya pada hukum kebaikan. Bahwa apa yang kita tanam dengan air mata ketulusan, suatu hari akan berbuah kebaikan yang tidak terduga. Ketika kita menolong orang tanpa memperhitungkan untung-rugi, kebaikan itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang berbeda lewat kesehatan, kedamaian hati, atau uluran tangan orang lain saat kita benar-benar tak berdaya. Dari jemari Mama yang terus menenun kain adat dan dari keringat Bapak yang menetes saat mengiris sopi, saya belajar makna kerja keras yang berbalut kerendahan hati. Saya tumbuh besar bukan dengan gizi yang melimpah, melainkan dengan siraman kasih sayang dan keteladanan yang tiada taranya. Panggilan Hati dan Kerelaan Seorang Mama Waktu berlalu, dan tiba saatnya saya harus menentukan arah jalan hidup saya. Dunia menawarkan banyak pilihan. Di luar sana, ada mimpi-mimpi tentang karier, uang, dan kehidupan yang nyaman. Namun, bayang-bayang teladan Mama rasa ibanya, kerendahan hatinya, dan kesediaannya untuk melayani sesama tanpa pamrih telah tertanam terlalu dalam di dalam sanubari saya. Suatu malam, dengan dada berdebar keras, saya duduk di hadapan Mama dan Bapak. Saya menyampaikan sebuah keputusan yang mungkin bagi sebagian orang tua miskin terasa mengecewakan: saya tidak memilih jalan untuk mencari uang atau mengejar kesuksesan duniawi. Saya memilih panggilan hidup sebagai seorang biarawan. Saya ingin menyerahkan seluruh hidup saya untuk melayani Tuhan dan sesama yang menderita. Saya tahu, jika saya memilih jalan ini, saya tidak akan pernah bisa memberikan Mama rumah mewah, mobil baru, atau perhiasan mahal. Saya tidak akan pernah bisa membalas keringat Bapak dengan tumpukan uang. Saya menunduk, takut melihat kekecewaan di wajah Mama. Namun, apa yang terjadi sungguh di luar dugaan saya. Mama menggenggam kedua tangan saya erat-erat. Air mata menetes perlahan menelusuri pipinya yang keriput, namun bibirnya mengukir senyuman yang paling indah dan tulus yang pernah saya lihat dalam hidup saya. “Terima kasih, anak” bisik Mama dengan suara bergetar karena haru. “Mama sangat bersyukur. Mama tidak butuh kamu jadi orang kaya. Kalau kamu memilih jadi pelayan Tuhan dan pelayan bagi orang-orang kecil, itu adalah hadiah terbesar buat Mama. Mama relakan kamu sepenuh hati.” Tidak ada penyesalan di mata Mama. Ia melepaskan anaknya menuju biara dengan penuh rasa syukur dan sukacita. Bagi Mama, melihat anaknya melangkah menjadi alat belaskasih Tuhan di dunia ini adalah puncak dari segala doa dan jerDerived dari kain tenun dan tetesan air sopi yang selama ini menopang hidup kami. Kain Tenun yang Belum Selesai Sekarang saya hidup di balik tembok biara selama kurang lebih 6 tahun, menjalankan tugas melayani sesama. Rindu saat ini hanya ingin pulang berlibur untuk melihat Mama tersenyum memeluk Mama melihat anakmu ini yang dulu nakal, keras kepala dan selalu mendesak-desak Mama untuk membayar uang sekolah saya. Setiap kali saya melihat orang-orang yang datang meminta bantuan atau mereka yang terlupakan oleh keadaan, saya selalu teringat pada Mama. Saya sadar, apa yang saya kerjakan hari ini sebenarnya cuma melanjutkan apa yang sudah Mama lakukan puluhan tahun di rumah kayu kami. Mama saya bukan orang berpendidikan tinggi. Beliau cuma seorang ibu rumah tangga yang menenun kain adat, dan Bapak cuma seorang penyulang tuak/sopi. Mereka tidak punya warisan harta untuk dibanggakan. Tapi Mama memberi saya sesuatu yang jauh lebih berharga dari uang: keberanian untuk tetap berbuat baik, bahkan saat kita sendiri berada di titik paling bawah. Dari Mama, saya belajar bahwa bela rasa itu tidak rumit. Bela rasa hanya butuh satu hal: hati yang mau peduli. Terima kasih, Mama. Di atas jemarimu yang keriput dan benang-benang tenun yang engkau susun, engkau telah menyulam ajaran kasih yang paling sejati di dalam jiwa saya. Dan kini, biarlah anakmu ini melanjutkan lembaran tenunan kasih itu untuk dunia. Saya sangat bersyukur dan bahagia Mama melahirkan saya di dunia ini. Di dalam keheningan nama Mama dan Bapak selalu saya sebut-sebut dalam doa kecilku. Semoga di bulan Juni nanti saya bisa libur pulang untuk beretmu dengan mamaMama dan keluargaku keluarga semuanya. *** Post Views: 27 Navigasi pos Membuka Jalan, Meninggalkan Jejak Pengabdian Ekstrem Joakim Deke Kokomaking di Tanah Lembata