Human Interest Feature Si Kutu Yang Menembus Langit Kisah Lionel Messi, dari Tubuh Mungil di Rosario hingga Puncak Dunia Lionel Messi mencium trofi Piala Dunia FIFA Qatar 2022 setelah membawa Argentina menjadi juara dunia. Oleh : Benediktus Angga Putra Borneo Mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi, Universitas Sanata Dharma Jogjakarta PENDAHULUAN WARTA-NUSANTARA. COM— Sore itu debu jalanan Rosario masih hangat oleh matahari yang belum sepenuhnya turun. Di sebuah lapangan tanah yang tak rata, dengan gawang dari dua batu bata dan garis lapangan yang nyaris tak kelihatan, seorang bocah berlari mengejar bola yang jauh lebih besar dari harapannya sendiri. Ia paling pendek di antara teman-temannya, paling ringan, paling gampang ditabrak dan dijatuhkan. Namun ada satu hal yang aneh: begitu bola menyentuh kakinya, tubuh-tubuh besar di sekelilingnya seolah berubah jadi patung. Mereka terpaku, sementara si kecil melintas begitu saja—cepat, licin, nyaris tak tersentuh, seperti kutu yang meloncat dari telapak tangan yang mencoba menangkapnya. Kelak dunia akan memanggilnya La Pulga. Namanya Lionel Andrés Messi, dan tubuh mungilnya bukan sekadar ciri fisik yang lucu untuk diceritakan. Tubuh itu adalah luka lama yang nyaris menutup jalannya menuju mimpi—dan justru karena itulah kisah ini pantas dituturkan ulang, bukan sebagai dongeng tentang bakat, melainkan tentang harga yang harus dibayar untuk bakat itu bisa tumbuh. Vonis yang Mengguncang Ruang Tamu Kecil Usianya baru sebelas tahun ketika kata-kata itu diucapkan dokter dengan nada yang berusaha setenang mungkin: growth hormone deficiency, kelainan langka yang membuat kelenjar pituitarinya gagal memproduksi cukup hormon pertumbuhan. Anak-anak seusianya biasanya sudah mendekati 150 sentimeter; Messi kecil berhenti di angka 127. Bagi keluarga Jorge dan Celia Messi, kabar itu bukan sekadar deretan istilah medis di atas kertas resep. Itu adalah bayangan tentang seorang anak yang mungkin tak akan pernah cukup tinggi untuk bersaing, apalagi bermimpi jadi pemain bola profesional—dunia yang keras bagi tubuh yang kecil. Yang membuat luka itu lebih dalam adalah angka lain: biaya suntikan hormon pertumbuhan saat itu mencapai sekitar 900 dolar AS per bulan, sebuah jumlah yang jauh melampaui gaji seorang pekerja pabrik baja seperti Jorge Messi. Harapan sempat menyala ketika River Plate, klub raksasa Argentina, melirik bakat kecil ini. Tapi harapan itu padam secepat ia menyala—klub mundur begitu tahu mereka harus menanggung biaya pengobatan seorang anak yang belum tentu akan “jadi apa-apa”. Di titik itu, mimpi seorang bocah nyaris berakhir bukan karena kurang bakat, melainkan karena tubuhnya dianggap terlalu berisiko untuk diinvestasikan. Tisu Serbet yang Mengubah Sejarah Tapi Jorge Messi bukan tipe ayah yang mudah menyerah pada nasib. Dengan tabungan seadanya dan keyakinan yang nyaris nekat, ia memboyong putranya menyeberangi Atlantik menuju Barcelona, mengetuk pintu akademi legendaris La Masia. Di sana, dalam sebuah uji coba yang berlangsung tak lebih dari beberapa menit, bocah tiga belas tahun itu menggiring bola melewati pemain-pemain seusianya dengan cara yang membuat para pelatih saling pandang. Carles Rexach, direktur teknik Barcelona saat itu, konon tak mau menunggu rapat resmi atau kontrak formal berlembar-lembar. Ia mengambil selembar tisu makan yang ada di meja restoran, dan di atasnya menuliskan kesepakatan perekrutan yang kelak menjadi salah satu legenda paling dikenang dalam sejarah sepak bola. Barcelona bersedia merekrutnya—dan yang tak kalah penting, bersedia menanggung biaya pengobatan hormonnya. Selembar tisu itu, benda yang biasanya berakhir di tempat sampah, menjadi jembatan antara seorang anak yang nyaris berhenti bermimpi dan panggung terbesar dunia. Jarum Suntik dan Kesunyian di Negeri Asing Tapi keajaiban di atas tisu itu punya harga yang harus dibayar setiap malam, sunyi-sunyi, jauh dari sorot lampu. Sejak usia delapan tahun—dan berlanjut hingga remaja—Messi harus menyuntikkan hormon pertumbuhan ke pahanya sendiri. Mula-mula dibantu orang tuanya, lalu, begitu terbiasa, ia melakukannya sendiri: mengoleskan alkohol, mencubit kulit, menusukkan jarum, malam demi malam, tanpa ada yang menyaksikan selain dinding kamar kosnya di Barcelona. Dalam wawancara-wawancara di kemudian hari, ia mengenang rutinitas itu dengan nada yang nyaris datar—seolah rasa sakit yang berulang lama-lama kehilangan sengatnya, berubah jadi sekadar bagian dari hidup, seperti menggosok gigi. Yang lebih berat justru bukan jarumnya, melainkan kesunyian di sekelilingnya. Ia pindah ke negeri asing ditemani ayahnya seorang diri, sementara sang ibu dan saudara-saudaranya tetap tinggal di Rosario, terpisah lautan. Bahasa Spanyol dari Argentina dan Spanyol punya logat yang berbeda; teman-teman satu akademinya tumbuh dengan tubuh normal, sementara ia harus menjelaskan mengapa badannya begitu kecil. Ia dijuluki el pequeño mudito—si mungil pendiam—karena jarang bicara. Mungkin karena rindu rumah yang tak bisa diungkapkan lewat kata-kata. Mungkin karena seorang anak yang tubuhnya sudah cukup sering dijadikan bahan tatapan tak ingin lagi terlihat rapuh di depan orang lain. : Bangkit dari Setiap Jatuh Waktu, pelan-pelan, membuktikan bahwa tubuh kecil itu menyimpan kehendak yang jauh lebih besar dari ukurannya. Terapi hormon akhirnya membuahkan hasil—tubuhnya tumbuh hingga sekitar 169 sentimeter. Tetap bukan tinggi untuk ukuran pesepak bola Eropa yang rata-rata di atas 180 sentimeter, tapi cukup bagi kaki-kaki ajaib itu untuk terus menari rendah di atas rumput, tempat pusat gravitasinya justru menjadi senjata, bukan kelemahan. Namun jalan menuju puncak tak pernah rata. Cedera paha berulang kali menahannya di pinggir lapangan. Patah tulang metatarsal memaksanya menyaksikan rekan-rekannya bertanding dari kursi tepi lapangan dengan kaki dibalut gips. Robekan otot datang dan pergi seperti pengingat bahwa tubuh yang pernah divonis rapuh itu tak pernah benar-benar berhenti diuji. Tapi setiap kali jatuh, ia kembali berdiri—dan setiap kali berdiri, ia tampak semakin sulit dihentikan. Rekor tujuh kali meraih Ballon d’Or sebagai pemain terbaik dunia, puluhan trofi bersama Barcelona, dan predikat sebagai salah satu pesepak bola terhebat sepanjang masa mengalir satu demi satu. Tapi ada satu ruang kosong yang terus menganga di ruang tamu kariernya, satu mimpi yang menolak digapai bertahun-tahun: trofi Piala Dunia bersama tim nasional Argentina, mimpi yang bahkan kejeniusan sekalipun tampak tak cukup untuk mewujudkannya sendirian. Klimaks di Lusail Malam 18 Desember 2022, Stadion Lusail, Qatar, dipadati lebih dari delapan puluh ribu pasang mata, dan jutaan lainnya menonton dari layar di seluruh dunia. Final melawan Prancis berjalan dramatis—Argentina unggul, disusul, dipaksa ke perpanjangan waktu, lalu ke titik penalti yang menegangkan setiap detiknya. Dan di ujung malam yang panjang itu, mimpi yang selama ini menggantung akhirnya tergenggam. Messi mengangkat trofi emas itu tinggi-tinggi, mencium lambang FIFA di permukaannya, disaksikan dunia yang terpukau sekaligus terharu. Dalam pengakuannya kemudian, ia menyebut momen itu sebagai mimpi setiap anak kecil yang pernah bermain sepak bola di jalanan berdebu—dan mengaku dirinya beruntung karena akhirnya bisa menutup satu-satunya bab yang selama bertahun-tahun terus terbuka dalam kariernya. Kini, ketika nama Lionel Messi disebut, dunia mengenangnya sebagai salah satu manusia paling berbakat yang pernah menyentuh bola. Tapi di balik kejeniusan itu, ada kisah lain yang jarang disorot kamera: kisah seorang bocah dari Rosario yang tubuhnya nyaris menjadi alasan untuk berhenti bermimpi, dan seorang ayah yang menolak tunduk pada nasib yang seolah sudah ditulis sejak awal. PENUTUP Barangkali, justru dari sanalah keistimewaan Messi yang sesungguhnya bermula—bukan dari kaki kirinya yang lincah, bukan pula dari gelar-gelar yang memenuhi lemari kacanya, melainkan dari keteguhan yang dipupuk diam-diam dalam tubuh yang dulu dianggap terlalu kecil untuk bermimpi besar. Setiap suntikan malam hari, setiap kesunyian di negeri asing, setiap kali klub besar menutup pintu karena tubuhnya, seharusnya cukup untuk membuatnya berhenti. Tapi ia memilih untuk tidak berhenti. Jika seorang anak dengan tubuh serapuh itu bisa menembus langit sepak bola dunia, pertanyaan yang tersisa untuk kita bukanlah seberapa besar bakat yang kita miliki—melainkan seberapa jauh kita bersedia berjuang, dalam kesunyian yang tak seorang pun menyaksikan, sebelum memutuskan untuk berhenti. *** Post Views: 25 Navigasi pos KATA UNTUK KATARINA