Tari Caci Menggema di Kampung Gorong: Syukur Panen dan Simbol Kejantanan Manggarai Timur

Tari Caci Menggema di Kampung Gorong: Syukur Panen dan Simbol Kejantanan Manggarai Timur

MANGGARAI TIMUR : WARTA-NUSANTARA.COM—  Suasana adat begitu kental terasa di Kampung Gorong, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur. Selama dua hari, Senin-Selasa, 21-22 September 2026, seluruh masyarakat adat berkumpul dengan penuh antusias menggelar Tarian Caci sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah.

Syukur Panen dan Simbol Kejantanan Manggarai Timur

Tarian Caci merupakan salah satu warisan budaya paling sakral bagi masyarakat Manggarai Timur. Tarian ini lazim digelar dalam upacara adat Penti dan Hang Woja, yakni ritual syukur hasil panen, serta pada momen sakral lainnya seperti Pukang Mbaru Gendang atau Lonto Mbaru Gendang, syukuran rumah adat.

Pimpinan Adat Kampung Gorong, Antonius Latong, menjelaskan makna mendalam di balik tarian ini. Menurutnya, Tari Caci berasal dari Desa Todo, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai.

“Nama Caci berasal dari kata ‘Ca’ yang berarti satu dan ‘Ci’ yang berarti uji. Jadi Caci bermakna uji ketangkasan satu lawan satu,” jelas Antonius.

Ia menegaskan, Tari Caci adalah lambang kejantanan. Oleh karena itu, hanya kaum pria yang diperbolehkan turun ke arena laga.

Ritual syukur ini, lanjut Antonius, adalah bentuk terima kasih kepada Sang Pencipta dan para leluhur atas rahmat dan berkat sehingga segala usaha masyarakat membuahkan hasil yang memadai.

Kostum Khas dan Aturan Main yang Sakral

Keunikan Tari Caci terletak pada detail kostum dan peralatannya yang sarat makna. Para penari dilengkapi dengan Larik atau pecut sebagai senjata pemukul, Nggiling atau perisai untuk menangkis, Panggal sebagai penutup kepala, dan Koret sebagai penangkis lengan.

Penari tampil gagah hanya mengenakan celana putih yang dibalut kain Songke Manggarai, pinggang diikat selendang, serta bagian belakang pinggang dihiasi untaian Nggiring-nggiring yang berbunyi mengikuti irama gerakan. Wajah ditutup destar batik, namun mata tetap terbuka agar dapat membaca arah serangan lawan.

An, salah seorang penari Caci asal Kampung Gorong, menceritakan filosofi di balik adu ketangkasan ini.

“Tari Caci ini berawal dari tradisi laki-laki Manggarai yang saling bertarung satu lawan satu untuk menguji keberanian dan ketangkasan. Kini berkembang menjadi kesenian di mana gerak tari, lagu, dan musiknya seirama,” ungkap An.

Ia menegaskan, tidak semua orang bisa Wau Caci atau turun ke arena.

“Tari Caci ini sama halnya dengan perang satu lawan satu yang bertarung menggunakan cambuk dan perisai. Berani jadi penari Caci, harus bisa menerima luka dan kalah,” tegasnya.

Dalam duel tersebut, seorang penari berperan sebagai penyerang bersenjatakan cambuk, sementara lawannya bertahan menggunakan perisai.

Mengenal Istilah-istilah dalam Tari Caci

Pagelaran Tari Caci memiliki banyak istilah adat yang masih lestari:
* Paki: Peran sebagai pemukul atau penyerang. • Ta’ang: Peran sebagai penangkis pukulan.
* Beke: Kondisi saat Larik mengenai wajah, yang menjadi penentu kekalahan.
* Lomes: Gerakan penari yang mengikuti irama pukulan gong dan gendang.
* Paci: Lantunan pantun atau syair yang dinyanyikan penari di sela tarian.
* Tuak Bakok: Tradisi meminum arak khas Manggarai sebelum tampil untuk membangkitkan semangat.

“Seorang dikatakan kalah apabila pukulan cambuk mengenai area wajah atau mata penangkis. Semua istilah ini mengisyaratkan betapa lekatnya budaya tradisional Masyarakat Adat Manggarai,” pungkas An.

Dengan digelarnya Tari Caci ini, masyarakat Kampung Gorong tidak hanya mensyukuri panen, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk terus menjaga dan mewariskan budaya leluhur kepada generasi penerus.  ***(PelitaDesa/WN-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *