Lupa Mengisi Minyak Ide Inspiratif Homili Minggu Biasa ke-32 dari Injil: Matius 25:1-13 Oleh : Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana Anda sangat terburu-buru untuk pergi ke suatu tempat, lalu ketika Anda menyalakan mesin kendaraan, Anda baru menyadari bahwa jarum bahan bakar sudah menunjuk ke huruf “E” (Empty) alias kosong? Atau mungkin, Anda sedang dalam perjalanan penting, dan tiba-tiba ponsel Anda mati total karena Anda lupa mengisi dayanya semalam? Ada rasa panik, cemas, dan penyesalan yang mendalam. Semua itu terjadi karena satu hal: kita lenga dan lupa mengisi. Hari ini, melalui perumpamaan tentang lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh, Tuhan Yesus mengajak kita untuk merenungkan sebuah krisis kelengahan yang jauh lebih serius daripada sekadar bensin eceran atau baterai ponsel yang habis. Ini adalah tentang krisis kelengahan rohani. Kita diajak merenungkan sebuah kondisi yang sering terjadi dalam hidup kita: Lupa Mengisi Minyak. Jika kita membaca kisah Injil hari ini dengan teliti, kita akan menemukan sebuah fakta menarik. Lima gadis bodoh itu ditolak oleh mempelai laki-laki bukan karena mereka jahat. Mereka tidak merusak acara, mereka tidak berbuat kriminal, dan mereka juga tidak berniat buruk. Mereka memakai pakaian pesta yang indah, sama seperti gadis-gadis yang lain. Mereka memegang lampu yang sama indahnya. Kesalahan fatal mereka hanyalah satu: mereka lengah dan mengandalkan persediaan orang lain. Mereka mengira waktu penantian akan singkat, sehingga mereka mengabaikan hal yang paling krusial. Mereka membawa lampu, tetapi lupa mengisi minyak cadangannya. Saudara-saudari, apa sebenarnya “minyak” yang dimaksud oleh Tuhan Yesus? Lampu bisa kita analogikan sebagai penampilan luar kita. Pakaian yang rapi, status sosial, jabatan di lingkungan gereja, atau sekadar identitas KTP yang tertulis “Katolik”. Itu semua adalah lampu. Kelihatan oleh orang lain. Namun, minyak adalah kedalaman batin kita. Minyak adalah hubungan pribadi yang intim antara kita dengan Tuhan yang tidak kelihatan oleh publik. Minyak adalah jam-jam doa kita di keheningan kamar, pertobatan yang tulus di bilik pengakuan, serta buah-buah kasih yang kita lakukan tanpa perlu dipamerkan di media sosial. Ketika mempelai pria datang terlambat dan berseru, “Mempelai datang! Pergilah menyongsong dia!”, terjadilah kepanikan itu. Gadis-gadis bodoh berkata kepada yang bijaksana, “Berilah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab lampu kami hampir padam.” Namun, gadis-gadis bijaksana menolak. Sekilas, tindakan gadis bijaksana ini terkesan egois dan tidak memiliki belas kasih. Mengapa mereka tidak mau berbagi? Namun, di sinilah letak kebenaran teologis yang mendalam dari perumpamaan ini: Ada hal-hal dalam kehidupan rohani yang mutlak tidak bisa didelegasikan atau dipinjam dari orang lain pada menit-menit terakhir. Iman dan kekudusan bukanlah barang yang bisa dipinjamkan. Ketika hari penghakiman atau hari akhir hidup kita tiba, kita tidak bisa menghadap Tuhan dan berkata, “Tuhan, saya tidak punya minyak doa, tapi istri saya sangat rajin berdoa, bolehkah saya pinjam minyaknya?” Kita tidak bisa berkata, “Tuhan, iman saya kosong, tapi orang tua saya adalah aktivis gereja yang suci, pakailah kebaikan mereka untuk menyelamatkan saya.” Tuhan tidak meminta pertanggungjawaban kolektif; Dia meminta pertanggungjawaban pribadi. Setiap orang dari kita bertanggung jawab penuh atas kapasitas tangki rohaninya masing-masing. Suami tidak bisa menyelamatkan istri dengan imannya, orang tua tidak bisa menjamin keselamatan anak dengan kesuciannya, dan sesama tidak bisa meminjamkan pertobatan kepada kita. Hubungan dengan Allah adalah kisah personal antara Anda dan Pencipta Anda. Mari kita bawa perenungan ini ke dalam kehidupan kita sehari-hari melalui sebuah pertanyaan reflektif: Apakah hari ini kita terlalu sibuk menjaga “lampu”, tetapi lupa mengisi “minyak”? Kita hidup di dunia yang sangat memuja “lampu”—bagaimana penampilan luar kita, apa kata orang tentang kita, seberapa aktif kita terlihat di permukaan. Kita bisa sangat sibuk melayani di gereja, sibuk dengan berbagai urusan duniawi, hingga jadwal kita penuh dari pagi hingga malam. Namun, ketika kita pulang ke rumah, apakah tangki batin kita kosong? Apakah kita memiliki waktu untuk duduk diam di bawah kaki Yesus, mendengarkan firman-Nya, dan membiarkan jiwa kita diisi kembali oleh kasih-Nya? Jangan sampai kita menjadi orang Kristen yang lampunya besar dan megah, tetapi minyaknya kering kerontang. Mempelai Pria—yaitu Yesus Kristus—pasti akan datang. Kadang Dia datang dalam peristiwa hidup yang tidak terduga, dalam kemalangan, atau bahkan dalam akhir hidup kita yang rahasia waktunya. Saat seruan itu tiba, tidak ada lagi waktu untuk pergi ke penjual minyak. Tidak ada lagi waktu untuk meminjam iman orang lain. Yang ada hanyalah apa yang telah kita investasikan di dalam tangki hati kita selama hidup di dunia. Maka, selagi hari ini pintu kerahiman Tuhan masih terbuka lebar, selagi fajar hari ini masih menyingsing, mari kita periksa lampu kita masing-masing. Masuklah dalam keheningan doa, perbaruilah pertobatan kita yang tulus, dan penuhilah hidup kita dengan buah-buah kasih yang nyata. Jangan biarkan kelengahan membuat kita menyesal di kemudian hari karena kita lupa mengisi minyak. Semoga Tuhan memberkati niat baik kita, dan Roh Kudus senantiasa memampukan kita menjadi pribadi-pribadi yang bijaksana, yang siap sedia menyongsong kedatangan Tuhan dengan lampu yang menyala terang benderang. Amin. Robert Bala. Penulis buku SUCCESSFUL AGING, Sukses di Usia Senja. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2022. Post Views: 11 Navigasi pos Kemenag Lembata dan RSUD Lewoleba Jalin Sinergi: Pelayanan Rohani bagi Pasien Semakin Terjamin