Merayakan Hidup Orang-orang Biasa Hari Raya Semua Orang Kudus Oleh : Pater Steph Tupeng Within, SVD Mat 5:1-12 WARTA-NUSANTARA.COM— Sastrawan Indonesia, Kuntowijoyo, menerbitkan sebuah novel berjudul “Khotbah di Bukit” (1976). Sebelumnya, novel ini terbit sebagai cerita bersambung di Kompas. Novel ini omong tentang hakikat hidup, kematian, kebahagiaan, dan misteri nasib manusia. Barman, pelaku utama novel ini adalah mantan diplomat asing, sangat kaya dan pada masa pensiun menikmati hidup di sebuah vila mewah. Di bukit Vila, Barman berjumpa dengan Hurman, seorang rohaniwan. Garis hidup keduanya berbeda. Barman adalah pengejar kenikmatan duniawi yang gelisah dan Hurman adalah penganut agama yang telah terbebaskan dari belenggu kenimatan duniawi. Dalam dialog, ada satu ungkapan yang menarik, “Apa saja yang menjadi milikmu, sebenarnya memilikimu.” Ungkapan itu mungkin saya membuat banyak orang, tidak hanya Barman, dipenjara rasa gelisah meski berharta melimpah. Harta itu tidak hanya mengikat hatinya tapi merampas ruang bahagianya. Yesus menyebut “berbahagia” orang yang miskin di hadapan Allah dalam sabda bahagia pertama. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga” (Mat 5:3). Kata “miskin” berasal dari kata Yunani Ptochos yang berarti: miskin harta, pengaruh, posisi dan kehormatan. Yesus menawarkan cara pandang berbeda. Kemiskinan itu bukan sekadar kekurangan materi, melainkan sikap hati yang menyadari bahwa manusia tidak dapat mengandalkan kekuatannya sendiri. Ia membutuhkan Allah, terbuka menerima bimbingan-Nya dan tidak menjadikan harta atau kuasa sebaga pusat hidup. Persoalan utama adalah posisi hati kita. Ketika kita mengenakan hati orang miskin, kita tidak pernah takut karena harta kita tidak akan dirampok, kita tidak pernah tersinggung karena orang tidak menghormati kita dan tidak sombong karena punya segala. Orang miskin di hadapan Allah tidak merasa diri paling benar, paling berjasa atau pling hebat. Ia tidak malu mengakui kelemahannya dan tidak gengsi meminta pertolongan. Ia sadar, segala sesuatu yang dimilik harus dipertanggungjawabkan. Hari ini Gereja Katolik mengenang semua orang kudus. Orang-orang biasa yang memberi diri, mengabdi sesama melalui jalan kemartiran. Orang-orang sederhana yang berani mempertaruhkan nyawa demi tegaknya martabat dan hak-hak asasi manusia. Kitab Wahyu melukisan orang-orang kudus sebagai “Orang-orang yang keluar dari kesusahan besar lalu mencuci jubah mereka dan membuatnya putih dalam darah Anak Domba” (Why 7:14). Lukisan “kesusahan besar” menarasikan tantangan dan kesulitan yang menguji kemurnian iman. Emas menemukan kemurniannya dalam tanur api. Tuhan menyapah mereka sebagai “orang-orang berbahagia” (Mat 5:1-12) karena telah melewati tanur api dunia ini. Henri J. Nouwen, penulis rohani terkenal menulis demikian dalam buku “Gracias”: “Hari ini kita tidak memusatkan perhatian kita pada pahlawan-pahlawan rohani tapi pada orang-orang yang menjadi suci karena saling mencintai, saling memperhatikan dan saling mengampuni dalam hidup sehari-hari yang biasa. Kita merayakan orang-orang suci di antara kita, yang tidak mempunyai lingkaran cahaya di atas kepala tetapi yang karena terbentuk dan terinspirasi Injil, dapat menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan mereka sendiri.” Bahagia bukan berarti kita harus selalu tersenyum atau menyukai semua peristiwa yang terjadi. Kadang kita sedih, berduka, dan lelah. Namun kita tidak boleh membiarkan keadaan itu merampas harapan dan menghentikan langkah kita untuk berbuat baik. Kita belajar menerima kenyataan sambil tetap setia memperjuangkan kebenaran. Kadang hidup tidak selalu memberi kita pilihan atas apa yang terjadi tapi kita selalu memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana kita mesti menjalaninya. Kekudusan tidak mesti dengan jalan menunpahkan darah. Tunggu proses kanonisasi, pasti tidak masuk hitungan. Apalagi jauh di kampung pedalaman. Cukuplah kita hidup sebagai orang sederhana dan baik, ketika atas inspirasi Injil “Kita saling mencintai, saling memperhatikan dan saling mengampuni dalam hidup sehari-hari yang biasa.” Maka pada waktunya Sabda Tuhan akan ini akan bergema, “Bersukacitalah dan bergembiralah karena besarlah ganjaranmu di Surga” (Mat 5: 12). Post Views: 22 Navigasi pos TETANGGAKU, ORANG KUDUS