Analisis Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann dalam Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A. A. Navis Oleh : Muhammad Taufikurahman Ruki Prodi: Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Jogjakarta PENDAHULUAN WARTA-NUSANTARA.COM— Karya astra merupakan hasil kreativitas pengarang yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Persoalan sosial, nilai budaya, dan cara pandang manusia terhadap kehidupan dapat tercermin melalui tokoh, konflik, alur, serta simbol yang terdapat dalam karya sastra. Oleh karena itu, karya sastra dapat dikaji melalui pendekatan sosiologi sastra untuk memahami hubungan antara struktur cerita dan kehidupan sosial yang melatarbelakanginya. Salah satu karya sastra Indonesia yang memperlihatkan hubungan tersebut adalah cerpen Robohnya Surau Kami karya A. A. Navis. Cerpen ini menceritakan kehidupan seorang Kakek yang mengabdikan dirinya untuk beribadah dan menjaga surau. Konflik muncul ketika Kakek mendengar cerita Ajo Sidi mengenai Haji Saleh, seorang tokoh yang merasa telah menjalankan ibadah dengan baik, tetapi justru dimasukkan ke dalam neraka karena mengabaikan kehidupan masyarakatnya. Cerita tersebut membuat Kakek mempertanyakan makna pengabdiannya selama ini hingga akhirnya ia meninggal karena bunuh diri. Cerpen ini menarik untuk dikaji karena persoalan yang ditampilkan tidak hanya berkaitan dengan kehidupan individu, tetapi juga dengan cara masyarakat memahami agama, tanggung jawab sosial, dan kemiskinan. Untuk menganalisis hubungan tersebut, esai ini menggunakan teori Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann. Teori ini memandang karya sastra sebagai struktur bermakna yang memiliki hubungan dengan struktur sosial-historis masyarakat. Dengan demikian, analisis dilakukan dengan memahami struktur internal cerpen terlebih dahulu, kemudian menghubungkannya dengan pandangan dunia yang tercermin melalui keseluruhan cerita. PEMBAHASAN Struktur Teks Cerpen Robohnya Surau Kami Dalam teori Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann, analisis karya sastra dimulai dari struktur teks sebagai dasar untuk memahami makna keseluruhan karya. Struktur teks tidak hanya mencakup unsur-unsur cerita secara terpisah, tetapi juga hubungan ant unsur yang membentuk suatu kesatuan bermakna. Oleh karena itu, tokoh, konflik, alur, dan simbol dalam cerpen Robohnya Surau Kami perlu dipahami melalui hubungan satu sama lain. Struktur cerita dibangun melalui hubungan antara tokoh Kakek, Ajo Sidi, Haji Saleh, dan narator. Kakek merupakan tokoh yang mengabdikan hidupnya untuk beribadah dan menjaga surau. Ia merasa bahwa pengabdiannya kepada Tuhan sudah cukup untuk menunjukkan kebaikan hidupnya. Hal tersebut terlihat ketika ia berkata bahwa seluruh kehidupannya telah diserahkan kepada Allah dan ia tidak pernah menyusahkan orang lain. Bagi Kakek, ibadah dan pengabdian merupakan dasar utama dalam menjalani kehidupan. Sementara itu, Ajo Sidi berperan sebagai tokoh yang menyampaikan cerita tentang Haji Saleh. Melalui cerita tersebut, Ajo Sidi menghadirkan pandangan yang bertentangan dengan keyakinan Kakek. Haji Saleh digambarkan sebagai seseorang yang sangat yakin akan masuk surga karena rajin beribadah. Namun, keyakinannya berubah ketika Tuhan mempertanyakan kepeduliannya terhadap kehidupan masyarakat yang miskin dan mengalami ketidakadilan. Hubungan antara ketiga tokoh tersebut membentuk konflik utama dalam cerpen. Kakek mewakili keyakinan terhadap pengabdian pribadi, sedangkan cerita Haji Saleh menghadirkan persoalan mengenai keterbatasan pengabdian yang tidak disertai tanggung jawab sosial. Ajo Sidi menjadi penghubung yang mempertemukan kedua pandangan tersebut melalui cerita yang disampaikannya. Dengan demikian, konflik tidak hanya terjadi dalam peristiwa cerita, tetapi juga dalam pertentangan cara pandang mengenai makna ibadah dan tanggung jawab manusia. Alur cerpen turut memperkuat pertentangan tersebut. Cerita dimulai dengan gambaran surau dan kehidupan Kakek, kemudian bergerak menuju kegelisahan Kakek setelah mendengar cerita Ajo Sidi. Bagian cerita Haji Saleh menjadi pusat persoalan karena di dalamnya terdapat kritik terhadap perilaku manusia yang hanya mengutamakan ibadah pribadi. Cerita kemudian kembali kepada kehidupan Kakek dan berakhir dengan kematiannya. Susunan ini memperlihatkan hubungan sebab-akibat yang mengikat cerita tentang Haji Saleh dengan nasib Kakek. Selain tokoh dan alur, simbol surau memiliki peranan penting dalam membentuk makna cerpen. Surau pada awalnya merupakan tempat ibadah yang dijaga oleh Kakek. Namun, setelah Kakek meninggal, surau dibiarkan terbengkalai dan semakin rusak. Keadaan tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan tempat ibadah tidak menjamin tumbuhnya kepedulian masyarakat terhadap nilai-nilai yang seharusnya diwujudkan dalam kehidupan. Kerusakan surau menjadi bagian dari keseluruhan struktur cerita yang berhubungan dengan persoalan pengabdian, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Berdasarkan hubungan unsur-unsur tersebut, struktur cerpen Robohnya Surau Kami memperlihatkan pertentangan antara keyakinan terhadap ibadah pribadi dan tuntutan untuk memperhatikan kehidupan bersama. Pertentangan inilah yang menjadi dasar untuk memahami makna keseluruhan cerita sebelum menghubungkannya dengan struktur masyarakat. Struktur Bermakna dan Hubungan Antara Unsur Cerita Menurut materi Strukturalisme Genetik Goldmann, struktur internal karya sastra merupakan kesatuan bermakna yang berhubungan dengan struktur sosial-historis yang melahirkannya. Artinya, makna cerpen tidak cukup diperoleh dengan menafsirkan tokoh atau peristiwa secara terpisah, tetapi perlu dilihat melalui hubungan keseluruhan unsur cerita. Dalam Robohnya Surau Kami, cerita tentang Haji Saleh menjadi bagian penting yang menjelaskan konflik Kakek. Haji Saleh merasa bahwa ibadahnya telah memenuhi kewajiban sebagai manusia beragama. Namun, ketika Tuhan mempertanyakan kehidupan masyarakatnya, ia tidak mampu menunjukkan kepedulian terhadap kemiskinan dan penderitaan yang dialami orang-orang di sekitarnya. Pertentangan tersebut memperlihatkan bahwa keyakinan terhadap kebaikan diri sendiri tidak selalu sejalan dengan tanggung jawab terhadap kehidupan bersama. Konflik tersebut berhubungan dengan tindakan Kakek yang selama hidupnya mengabdikan diri untuk beribadah. Setelah mendengar cerita Ajo Sidi, Kakek merasa pengabdiannya seolah-olah tidak memiliki arti. Ia mempertanyakan apakah dirinya telah melakukan kesalahan meskipun merasa tidak pernah menyusahkan orang lain. Dengan demikian, cerita Haji Saleh bukan sekadar cerita tambahan, melainkan bagian yang membentuk konflik utama dan menjelaskan perubahan keadaan batin Kakek. Hubungan antara cerita di dalam cerita, kegelisahan Kakek, dan simbol surau menghasilkan makna yang saling berkaitan. Pengabdian pribadi dipertanyakan ketika tidak disertai pemahaman mengenai tanggung jawab sosial. Pada saat yang sama, surau yang semakin rusak memperlihatkan kurangnya kepedulian terhadap sesuatu yang sebelumnya dianggap penting oleh masyarakat. Dengan demikian, struktur bermakna cerpen terbentuk melalui hubungan antara tokoh, konflik, alur, dan simbol. Keseluruhan unsur tersebut mengarahkan pembaca pada persoalan mengenai hubungan antara kehidupan spiritual dan tanggung jawab sosial. Makna ini menjadi dasar untuk menghubungkan struktur cerita dengan keadaan masyarakat yang direpresentasikan oleh pengarang. Hubungan Struktur Teks dengan Struktur Masyarakat Setelah struktur teks dipahami, analisis Strukturalisme Genetik dilanjutkan dengan menghubungkan struktur karya sastra dengan struktur sosial-historis. Dalam cerpen Robohnya Surau Kami, persoalan sosial terlihat melalui cerita tentang keadaan negeri yang memiliki kekayaan alam melimpah, tetapi penduduknya tetap hidup dalam kemiskinan. Dalam cerita Ajo Sidi, Tuhan mempertanyakan keadaan masyarakat yang tinggal di negeri subur dan kaya akan sumber daya alam. Meskipun memiliki potensi untuk hidup sejahtera, masyarakat tersebut tetap mengalami kemiskinan. Mereka juga digambarkan membiarkan hasil kekayaan alam dikuasai pihak lain dan tidak berusaha memperbaiki kehidupan keturunan mereka. Akan tetapi, mereka menganggap persoalan tersebut tidak penting karena lebih mengutamakan ibadah. Gambaran tersebut memperlihatkan pertentangan antara kekayaan alam dan kemiskinan masyarakat. Persoalan ini tidak hanya berhubungan dengan keadaan ekonomi, tetapi juga dengan kesadaran masyarakat dalam menghadapi persoalan bersama. Melalui cerita Haji Saleh, A. A. Navis menggambarkan masyarakat yang memahami kewajiban beragama secara terbatas sehingga kurang memperhatikan persoalan sosial yang berada di sekitarnya. Dalam perspektif Goldmann, hubungan tersebut dapat dipahami melalui konsep homologi, yaitu kesepadanan antara struktur karya sastra dan struktur kesadaran atau kehidupan kelompok sosial. Pertentangan yang terdapat dalam cerita antara ibadah pribadi dan tanggung jawab sosial memiliki kesepadanan dengan persoalan masyarakat yang mengutamakan keselamatan individu, tetapi mengabaikan kemiskinan dan kesejahteraan bersama. Kesepadanan tersebut juga terlihat melalui tokoh Kakek dan cerita Haji Saleh. Keduanya menunjukkan keyakinan kuat terhadap ibadah, tetapi cerita yang disampaikan Ajo Sidi memperlihatkan persoalan ketika pengabdian tersebut dipahami tanpa mempertimbangkan tanggung jawab terhadap sesama. Melalui hubungan ini, cerpen menghadirkan kritik terhadap cara pandang yang memisahkan kehidupan spiritual dari persoalan sosial. Namun, kritik tersebut tidak harus dimaknai sebagai penolakan terhadap agama. Persoalan yang ditampilkan lebih mengarah pada pemahaman keagamaan yang tidak diikuti kepedulian terhadap kehidupan manusia. Dengan demikian, hubungan antara struktur teks dan struktur masyarakat terlihat melalui cara konflik tokoh merepresentasikan persoalan yang lebih luas dalam kehidupan sosial. Subjek Kolektif dan Pandangan Dunia dalam Cerpen Konsep lain yang penting dalam teori Strukturalisme Genetik Goldmann adalah subjek kolektif dan pandangan dunia (vision du monde). Menurut materi perkuliahan, karya sastra tidak hanya dipandang sebagai hasil pemikiran individual pengarang, tetapi juga dapat mengungkap pandangan dunia kelompok sosial yang memiliki pengalaman dan persoalan bersama. Dalam Robohnya Surau Kami, kelompok masyarakat yang digambarkan melalui cerita Haji Saleh menjadi bagian penting dalam memahami pandangan dunia yang dikritik oleh pengarang. Mereka meyakini bahwa ketaatan beribadah merupakan ukuran utama keselamatan, sementara persoalan kemiskinan, penguasaan kekayaan alam, dan kesejahteraan keturunan dianggap bukan tanggung jawab yang perlu diutamakan. Cara pandang tersebut diperlihatkan melalui jawaban Haji Saleh dan orang-orang yang bersamanya ketika ditanya mengenai keadaan negeri mereka. Kelompok tersebut juga menunjukkan kecenderungan untuk menyalahkan pihak luar atas keadaan yang mereka alami, tetapi tidak mengakui sepenuhnya tanggung jawab mereka dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. Ketika Tuhan mempertanyakan kemiskinan dan keadaan negeri mereka, mereka justru menjelaskan bahwa mereka lebih memilih beribadah daripada memikirkan harta benda. Hal ini memperlihatkan pertentangan antara keyakinan yang mereka pegang dan tindakan yang dibutuhkan untuk menghadapi persoalan sosial. Pandangan dunia yang tercermin dalam cerpen dapat dipahami sebagai kritik terhadap sikap yang menempatkan keselamatan pribadi di atas kepentingan bersama. Melalui tokoh Haji Saleh, A. A. Navis memperlihatkan bahwa kehidupan beragama yang hanya berorientasi pada ibadah pribadi dapat kehilangan makna sosialnya apabila tidak disertai kepedulian terhadap sesama. Sementara itu, simbol surau yang dibiarkan rusak memperluas persoalan tersebut ke dalam kehidupan masyarakat di luar cerita Haji Saleh. Surau yang dahulu dijaga oleh Kakek akhirnya tidak terpelihara karena masyarakat tidak lagi menunjukkan kepedulian yang memadai. Keadaan ini memperlihatkan bahwa nilai-nilai yang dianggap penting tidak akan bertahan apabila tidak diwujudkan melalui tindakan bersama. Berdasarkan konsep subjek kolektif, pandangan yang muncul dalam cerpen dapat dibaca sebagai representasi persoalan kesadaran sosial suatu kelompok, bukan sekadar pendapat pribadi seorang tokoh. Akan tetapi, pandangan dunia pengarang tidak dapat disamakan begitu saja dengan pandangan setiap anggota masyarakat atau dengan pendapat pribadi A. A. Navis. Dalam analisis Goldmann, pandangan dunia dipahami melalui keseluruhan struktur karya dan hubungannya dengan persoalan sosial yang direpresentasikan. Dengan demikian, Robohnya Surau Kami memperlihatkan pandangan dunia yang menekankan pentingnya hubungan antara kehidupan spiritual dan tanggung jawab sosial. Karya ini mempertanyakan keyakinan bahwa ibadah pribadi saja sudah cukup, sekaligus menegaskan persoalan kepedulian terhadap sesama, kemiskinan, dan kehidupan bersama sebagai bagian penting dari kehidupan manusia. Post Views: 23 Navigasi pos Dekonstruksi Makna Cinta dalam Puisi “Kepada Cinta” Karya Teguh Esha Keterjebakan dalam Kebebasan: Dekonstruksi Karakter Sidin dalam Cerpen “Belantara” Karya Anil Hukma