Argentina vs Spanyol (Memori Parana dan Obsesi Spanyol) Oleh : Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Sebagai penikmat sepak bola layar kaca—atau kasarnya, komentator modal kuota—prediksi saya soal final turnamen besar berikutnya jangan ditelan mentah-mentah. Alasan saya menjagokan Argentina dan Spanyol ke partai puncak sama sekali tidak berbasis statistik. Ini murni prediksi emosional, berbasis romantisme masa lalu. Tapi hei, bukankah dalam sepak bola, analisis taktis sering kali bertekuk lutut di hadapan keajaiban dan takdir? Romantisme di Tepian Sungai Parana Hubungan batin saya dengan Argentina bermula dari sebuah kedekatan geografis yang literal. Saya pernah tinggal di Paraguay, tepat di seberang Sungai Parana—sungai raksasa sepanjang 4.000-an kilometer yang memisahkan kedua negara. Dari tempat saya berdiri, lebar sungai terkadang tak sampai satu kilometer. Setiap kali mencari sepi di pinggir Parana, saya menyaksikan warga Paraguay menyeberang ke wilayah Argentina, menjajakan singkong dan buah-buahan. Beruntung, kemudian saya iktu menyebarang sekali dan hanya tinggal kurang dari seminggu, itupun hanya di daerah Misiones, bagian timur laut (utara-timur) dari Argentina atas kemurahan hati P. Simon Sugi Duli SVD dan P. Vinsent Tadji, SVD). Meski tidak begitu lama dan mendalam tetapi hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuat saya kepingsut dengan negara yang disebu Tango itu (dibaca Tanggo bukan Tenggo hehe) .Saya bangga Presiden Carlos Menem (1989 – 1999) yang saat itu menjejerkan nilai Peso dan dollar AS 1 – 1 nilai tukar. Pegang peso di saku itu rasanya apa begitu. Saya kini hanya kenangan. Bahkan kata saudara saya P. Simon Sugi, bahkan orang Paraguay pun tidak merasa perlu pegang Peso yang sudah mengalami inflasi parah dan karena uang Guarani masih lebih terhormat. Namun, jika ada satu hal dari Argentina yang nilainya tak pernah inflasi, itu adalah sepak bolanya. Semangat juang dan profesionalisme mereka menular ke sekitarnya. Paraguay, negara dengan hanya 7 juta penduduk, punya iklim sepak bola yang tak kalah gila. Saya tidak bisa jelaskan eufori sepak bola di Argentina tetapi saya bisa memastikan bahwa apa yang dialami di Argentina sama seperti di Paraguay karena itu kisah berikut lebih megnarah ke Paraguay untuk memahami Argentina. Tentang kegilaan sepak bola, selama di Paraguay saya adalah pendukung setia klub Olimpia, musuh buyut dari Cerro Porteño. Fanatisme Amerika Latin itu magis. Paraguay bahkan hampir mengguncang dunia di Piala Dunia 1998 jika saja tidak dihentikan oleh gol emas Laurent Blanc dari Prancis di babak 16 besar. Pengamat sepak bola legendaris, mendiang Brian Glanville, pernah menulis bahwa tim-tim Amerika Selatan memiliki la nuestra—sebuah identitas sepak bola yang lahir dari jalanan, penuh tipu daya yang indah, dan mentalitas petarung. Itulah yang saya lihat di Argentina dan tetangganya. Kali ini kalau saja Prancis tidak punya penalti di babak 32 besar, tentu saja Paraguay maju dan laju tetapi ya sudah. Cerita ini hanya mengingatkan bahwa Argentina dari segi la nuestra (identitas kami bukan mereka), saya menjagokan Argentina di final . Nekat Menjadi “Culé” di Jantung Madrid Lalu, mengapa Spanyol harus jadi lawannya di final? Negeri Matador adalah tempat di mana petualangan akademik mengubah hidup saya. Di Madrid, saya beruntung bisa mengenal dan berdiskusi berjam-jam dengan para teolog terkemuka seperti Luis Maldonado, Casiano Floristan, dan Jose Tamayo. Bagi mereka, saya hanyalah mahasiswa Indonesia yang perlu dibimbing. Mereka tidak tahu saja bahwa di balik jubah akademik itu, ada seorang penggila bola yang nekat. Bayangkan ini: Saya tinggal di Madrid, tapi hati saya milik Barcelona! Ketika El Clasico tiba, saya akan duduk di bar lokal, dikepung oleh para Madridista (pendukung Real Madrid) yang fanatik. Saat Barcelona mencetak gol, saya spontan berteriak kegirangan. Seketika, seisi bar menatap saya dengan pandangan yang siap menerkam. Nyali saya ciut, tapi kepuasan itu tiada tara. Kegilaan saya mencapai puncaknya saat Real Madrid berhadapan dengan Olimpia Paraguay di Piala Interkontinental (2002). Darah “Paraguay” saya bergejolak. Sialnya, pertandingan digelar saat jam kuliah. Saya pun nekat izin ke dosen dengan alasan kurang enak badan. Tentu saja sang dosen curiga; mana mungkin ada orang dari negara yang sepak bolanya “tidak masuk hitungan” seperti Indonesia tiba-tiba mendadak sakit saat ada laga final dunia? (Mohon maaf lahir batin, Pak Dosen!) Setelah lebih dari tiga tahun berkeliling Spanyol—dari Palencia, Zaragoza, Sevilla, hingga Barcelona—saya paham mengapa Spanyol menjadi tanah impian bagi para pesepak bola Amerika Selatan. Ada ikatan kultural dan bahasa yang tak terputus. Menimbang Sejarah vs Masa Depan Jika prediksi “irasional” saya ini benar-benar terwujud, siapakah yang akan keluar sebagai juara? Ini pertanyaan yang membuat para analis botak memikirkan jawabannya. Secara historis, mempertahankan gelar juara turnamen besar berturut-turut adalah misi mustahil. Dalam sejarah Piala Dunia, misalnya, hanya Italia (1934, 1938) dan Brasil-nya Pelé (1958, 1962) yang bisa melakukannya. Sudah lebih dari setengah abad tidak ada negara yang mampu mengulang magis tersebut. Logikanya, langkah Argentina akan sangat berat. Namun, jika ada satu manusia yang hobi merobek buku sejarah dan menulis ulangnya sendirian, orang itu bernama Lionel Messi. Di sisi lain, Spanyol kini datang dengan wajah baru. Formasi yang dimotori oleh talenta muda seperti Lamine Yamal terasa lebih futuristik, dinamis, dan menawarkan harapan yang lebih cerah untuk masa depan sepak bola modern. Seperti yang pernah dikatakan oleh jurnalis sepak bola terkenal, Jonathan Wilson, Spanyol memiliki kemampuan unik untuk mendikte permainan lewat struktur, sementara Argentina hidup dari momen-momen magis individu. Pada akhirnya, bola itu bundar dan penuh misteri. Sangat mungkin Argentina dan Spanyol justru tersingkir sebelum sempat mencium aroma partai final. Namun, bukankah keindahan sepak bola justru terletak pada hak kita untuk bermimpi dan membuat prediksi yang tidak masuk akal? Bagaimana dengan Anda, siap membaca sejarah baru atau melihat para darah muda Spanyol menguasai dunia? Robert Bala. Pengamat Sepak Bola modal Kuota. Pernah tinggal di Paraguay (1997-2001), Spanyol (2001-2005). Post Views: 22 Navigasi pos Egoisme Etis dan Krisis Integritas: Akar Masalah Korupsi yang Sering Terlewatkan