Buka Expo SPENSA Naga 2026, Dinas Pendidikan Lembata Dorong Karya Siswa Terus Berkembang LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— SMP Negeri 1 Nagawutung menggelar Expo SPENSA Naga 2026 pada Jumat (30/10/2026). Mengusung semangat Festival Bahasa, Seni, Budaya, dan Karya Siswa dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda, kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta didik untuk menampilkan kreativitas, keterampilan, serta kecintaan terhadap bahasa dan budaya lokal. Rangkaian kegiatan diawali pada pukul 16.00 WITA dengan pembukaan stand pameran karya siswa. Sejak sore, para pengunjung dan tamu undangan mulai memadati area pameran. Mereka berkesempatan melihat berbagai hasil karya sekaligus berinteraksi langsung dengan peserta didik yang bertugas di masing-masing stan. Setelah pameran berlangsung selama kurang lebih dua jam, acara dilanjutkan dengan tarian kolosal pembuka, pembukaan oleh pembawa acara, laporan panitia, serta sambutan dari sejumlah pihak. Kepala SMP Negeri 1 Nagawutung, Andreas FX. Lawe Odung, S.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa sekolah bukan semata-mata tempat peserta didik memperoleh pengetahuan teoretis, melainkan juga ruang untuk mengembangkan bakat, kreativitas, keterampilan, dan kemandirian. Melalui kegiatan expo, siswa diberi kesempatan untuk menghasilkan karya, menumbuhkan jiwa kewirausahaan, melestarikan budaya lokal, serta mengolah potensi lingkungan sekitar menjadi sesuatu yang bernilai. Ia juga mengingatkan bahwa kemajuan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pihak sekolah. Karena itu, dukungan pemerintah, orang tua, komite sekolah, dan seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan agar proses pendidikan dapat berjalan secara optimal dan memberikan manfaat bagi peserta didik. Ketua Panitia, Nikolaus Nuba, S.Ag., menjelaskan bahwa Expo SPENSA Naga bukan sekadar agenda seremonial atau perayaan tahunan. Kegiatan ini lahir dari kesadaran bersama untuk merawat bahasa, seni, dan budaya di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi yang turut memengaruhi kehidupan generasi muda. Menurutnya, expo dirancang sebagai ruang kreasi dan ekspresi sekaligus panggung pembelajaran kontekstual. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik dilatih untuk melestarikan bahasa ibu, mempraktikkan keterampilan berbahasa, mengembangkan apresiasi terhadap sastra, serta menampilkan kekayaan seni dan budaya daerah. Seluruh rangkaian kegiatan ini digerakkan melalui kerja sama para guru, pegawai, dan pengurus OSIS. Dalam kesempatan itu, Nikolaus juga menyampaikan apresiasi kepada sejumlah mitra dan sponsor yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan, yakni PT Cendana IndoPearls, Dinas Sosial Kabupaten Lembata, CV Ignacio dan Penerbit Erlangga, Bengkel Ile Roma, Naga Sounds, Chrome Lighting, Brandi Tenda, serta Oma Kuning. Sebagai bentuk keterbukaan dan pertanggungjawaban, panitia turut memaparkan realisasi anggaran kegiatan. Meski menghadapi keterbatasan pendanaan, Nikolaus menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan tetap dapat terlaksana berkat semangat gotong royong dan dukungan berbagai pihak. Sementara itu, Pelaksana Tugas Camat Nagawutung, Agus Wukak yang dalam sambutannya mengaku sebagai alumni SMP Negeri 1 Nagawutung, memberikan apresiasi atas penyelenggaraan expo tersebut. Ia menilai kegiatan ini memiliki sejumlah manfaat penting bagi pembentukan karakter peserta didik, mulai dari melestarikan adat dan budaya, menumbuhkan semangat berbagi, membangun rasa percaya diri, melatih tanggung jawab, menumbuhkan jiwa kewirausahaan, hingga mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama. Ia juga mengajak sekolah untuk melihat kegiatan seni dan budaya sebagai peluang dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal. Menurutnya, kekayaan budaya dan produk daerah dapat menjadi daya tarik pariwisata sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat. Produk seperti jagung titi dapat dikembangkan sebagai oleh-oleh khas Lembata, sementara kain tenun dan sarung tradisional berpotensi menjadi cendera mata serta produk kerajinan lokal. Karena itu, ia mendorong agar kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Sekolah diharapkan membangun kerja sama dengan para pengrajin, koperasi, sanggar seni, dan dinas terkait sehingga potensi peserta didik dapat berkembang melalui pendampingan pihak-pihak yang memiliki keahlian di bidangnya. Apresiasi juga disampaikan oleh perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata, Yohanes Keluli, S.Pd., yang menjabat Pejabat Pengembangan Penilaian Pendidikan Bidang Pembinaan SMP. Dalam sambutannya, ia menyampaikan penghargaan kepada keluarga besar SMP Negeri 1 Nagawutung yang telah dua tahun berturut-turut menyelenggarakan expo. Jika pada tahun sebelumnya kegiatan dilaksanakan di Kantor Camat Nagawutung, tahun ini expo berlangsung di lingkungan sekolah dengan melibatkan sekitar 163 peserta didik. Yohanes mengaku kagum setelah mengunjungi berbagai stan pameran. Ia melihat bagaimana peserta didik mampu mengolah bahan-bahan sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk yang memiliki nilai guna. Benang diolah menjadi kain atau sarung tenun, pisang menjadi keripik, jagung menjadi jagung titi, serta kelapa diolah menjadi minyak kelapa dan minyak urut. Selain itu, terdapat pula berbagai hasil kerajinan tangan yang menunjukkan kreativitas dan keterampilan peserta didik. Baginya, hasil karya tersebut merupakan bukti bahwa pembelajaran di sekolah dapat menghasilkan keterampilan praktis yang bermanfaat. Ia memberikan apresiasi kepada para guru pembimbing yang telah melatih dan mendampingi siswa selama proses persiapan. Namun, ia mengingatkan agar karya-karya itu tidak berhenti sebagai pajangan atau hanya ditampilkan pada saat pameran. “Karya-karya ini jangan sampai hanya menjadi pajangan atau berhenti pada kegiatan pameran semata,” tegasnya. Ia berharap seluruh pihak, termasuk sekolah, orang tua, dan masyarakat, terus memberikan perhatian serta dukungan agar hasil karya peserta didik dapat dikembangkan, dimanfaatkan, bahkan memiliki peluang untuk dipasarkan. Ia juga mengajak para orang tua dan tamu undangan untuk mengunjungi stan-stan pameran sebagai bentuk penghargaan terhadap proses dan kerja keras anak-anak. Menurutnya, perhatian dan apresiasi dari orang-orang di sekitar akan menjadi motivasi tersendiri bagi peserta didik untuk terus berkarya. Lebih jauh, Yohanes menegaskan bahwa kegiatan seni, budaya, dan keterampilan merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. Nilai-nilai yang dibangun dalam keluarga perlu diperkuat melalui proses pendidikan di sekolah. Pembinaan melalui kegiatan ekstrakurikuler, seni, budaya, dan keterampilan dapat menjadi wadah positif bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi diri, membangun kepercayaan diri, serta mengarahkan mereka pada aktivitas yang lebih bermanfaat. Ia mengaku tersentuh dengan penampilan budaya yang menggambarkan kehidupan masyarakat Nagawutung. Melalui pertunjukan tersebut, anak-anak tidak hanya mengenal kembali tradisi yang mungkin belum mereka pahami, tetapi juga belajar mempraktikkan dan memperkenalkannya kepada orang lain. Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk memberikan ruang dan kesempatan kepada generasi muda agar semakin mencintai serta bangga terhadap identitas dan budaya daerahnya. Terkait pengembangan bakat dan kreativitas, Yohanes juga mendorong agar pembinaan peserta didik dilakukan secara berkelanjutan, termasuk mempersiapkan mereka mengikuti berbagai ajang kompetisi, salah satunya Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Ia berharap potensi yang telah terlihat dalam Expo SPENSA Naga tidak berhenti setelah kegiatan berakhir, tetapi terus diasah melalui latihan dan pendampingan yang konsisten. Kepada para guru dan pelatih, ia berpesan agar tidak berhenti membimbing peserta didik hanya karena expo telah selesai. Pembinaan yang berkesinambungan menjadi kunci agar bakat dan keterampilan anak-anak dapat berkembang serta memperoleh kesempatan untuk tampil pada tingkat yang lebih luas. Kebanggaan atas hasil karya yang dipamerkan juga dirasakan langsung oleh para peserta didik. Willy Kedang mengungkapkan bahwa dirinya bersama teman-teman merasa bangga karena karya yang telah mereka persiapkan selama beberapa minggu, bahkan hampir satu bulan, akhirnya dapat ditampilkan dengan baik di hadapan masyarakat. Menurut Willy, proses persiapan memang membutuhkan waktu, tenaga, dan kerja keras. Namun, semua itu terasa sepadan ketika hasil karya mereka dapat dipamerkan dan memperoleh apresiasi dari para pengunjung. Ia berharap kegiatan seperti ini terus mendorong siswa untuk berkreasi dan menghasilkan karya-karya baru. Lebih dari itu, ia menginginkan agar hasil karya peserta didik tidak hanya dibuat untuk dipamerkan, tetapi juga dikembangkan dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal senada disampaikan Riana Jawang. Ia mengakui bahwa proses persiapan expo tidak terlepas dari rasa lelah. Namun, kelelahan tersebut terbayar ketika melihat hasil karya mereka dapat dipamerkan dan diapresiasi oleh banyak orang. Dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda, Riana juga menyampaikan harapannya agar para pemuda di Nagawutung dapat menjadi pilar utama pembangunan daerah sehingga Nagawutung semakin maju dan lebih baik pada masa mendatang. Sementara itu, Delsi Malun, siswi kelas IX, mengaku senang karena melalui kegiatan expo dirinya berkesempatan mengenal dan bertemu dengan banyak orang yang datang berkunjung. Baginya, kegiatan ini bukan hanya kesempatan untuk memperlihatkan hasil karya, tetapi juga pengalaman berharga untuk berinteraksi, membangun keberanian, dan memperluas pergaulan. Setelah pembukaan dan rangkaian sambutan, Expo SPENSA Naga 2026 dilanjutkan dengan tiga sesi pementasan seni hingga malam hari. Berbagai penampilan peserta didik menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus merawat kekayaan bahasa, seni, dan budaya lokal. Melalui kegiatan ini, SMP Negeri 1 Nagawutung tidak hanya menghadirkan ruang pamer bagi hasil kreativitas peserta didik, tetapi juga mempertemukan sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat dalam semangat kolaborasi. Pesan yang mengemuka dari seluruh rangkaian kegiatan adalah bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga perlu menumbuhkan karakter, keterampilan, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya sendiri. Expo boleh berakhir, tetapi semangat berkarya, berinovasi, dan melestarikan budaya diharapkan terus tumbuh dalam diri generasi muda Nagawutung. (Hans Koban) Post Views: 22 Navigasi pos Memori Kolektif Dibalik Gelombang Dahsyat Tsunami Aceh 2004 Dari Puisi hingga Teater Wai Teba, Panggung Expo SPENSA Naga Hidupkan Panggung Seni Siswa