Robert Bala

BUKAN CARI PENDERITAAN

Ide Inspiratif Homili Minggu 28 Juni 2026 dari Matius 10:37–42

Oleh : Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM—  Ada sebuah anggapan yang kadang muncul dalam kehidupan rohani: semakin menderita, semakin suci seseorang. Seolah-olah menjadi pengikut Kristus berarti harus mencari kesulitan, menolak kebahagiaan, atau menikmati penderitaan.

Padahal Injil hari ini mengoreksi cara berpikir seperti itu. Undangan untuk memikul salib: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Mat. 10:38) bukan berarti mencari-cari penderitaan. Yesus tidak pernah berkata, “Carilah salibmu.” Ia berkata, “Pikullah salibmu.”

Ada perbedaan besar antara keduanya. Yesus tidak meminta kita mencintai apalagi mencari penderitaan. Sebaliknya, mencintai sampai rela berkorban. Karena itu salib bukanlah penderitaan yang dicari-cari. Salib adalah konsekuensi dari memilih kasih, kebenaran, dan kesetiaan. Orang yang berbuat baik tidak otomatis mencari kesulitan, tetapi sering kali kesulitan datang justru karena ia memilih tetap berbuat baik.

Seorang pegawai yang menolak suap mungkin kehilangan kesempatan promosi. Ia tidak mencari kerugian itu, tetapi ia memilih kejujuran.

Seorang pelajar yang menolak menyontek mungkin mendapat nilai lebih rendah daripada teman-temannya yang curang. Ia tidak mencari kesulitan, tetapi ia memilih integritas.

Seorang suami atau istri yang tetap setia ketika godaan datang mungkin harus berjuang melawan keinginan diri sendiri. Ia tidak mencari penderitaan, tetapi ia memilih kasih yang setia.

Seseorang yang mengampuni orang yang telah melukainya tentu merasakan sakit. Mengampuni bukan berarti luka itu hilang seketika. Namun ia memilih melepaskan dendam agar kasih tidak mati di dalam hatinya.

Demikian pula orang yang terus melayani meskipun tidak dihargai. Ia tentu ingin diapresiasi seperti setiap manusia lainnya. Tetapi ia tidak menjadikan pujian sebagai alasan untuk berhenti berbuat baik.

Itulah salib. Salib bukan sekadar penderitaan. Salib adalah harga dari cinta. Karena terlalu mencintai kejujuran maka menerima konsekuensi dari cinta tersebut. Kita melihatnya secara sempurna dalam diri Yesus. Ia tidak datang ke dunia untuk mencari penderitaan. Seluruh hidup-Nya dipenuhi dengan mewartakan Kerajaan Allah, menyembuhkan yang sakit, menghibur yang berdukacita, memberi makan yang lapar, dan mengampuni orang berdosa. Namun karena Ia setia kepada misi kasih itu, salib akhirnya datang menghampiri-Nya.

Artinya, salib bukan tujuan. Tujuannya adalah kasih. Salib hanyalah konsekuensi dari kasih yang tidak mau menyerah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun memikul salib yang sederhana tetapi nyata. Bangun pagi untuk bekerja demi keluarga, merawat orang tua yang sudah lanjut usia, mendampingi anak yang sedang menghadapi masalah, bertahan dalam panggilan hidup ketika semuanya terasa berat, tetap berdoa di tengah kekecewaan, tetap berbuat baik meski disalahpahami—semuanya adalah salib yang lahir dari kasih.

Ironisnya, dunia sekarang justru menghindari segala bentuk pengorbanan. Banyak orang ingin menikmati hasil tanpa proses, ingin berhasil tanpa kerja keras, ingin dicintai tanpa belajar mengasihi, ingin keluarga yang bahagia tanpa kesediaan berkorban. Padahal tidak ada kasih yang bertumbuh tanpa pengorbanan.

Seorang ibu rela begadang demi anaknya. Seorang ayah bekerja keras agar keluarganya berkecukupan. Seorang guru sabar mendidik murid yang sulit. Mereka tidak sedang mencari penderitaan. Mereka sedang mencintai. Dan karena mereka mencintai, mereka rela berkorban.

Begitulah Kristus mengajak kita hidup. Maka ketika salib hadir dalam hidup kita karena kita memilih tetap jujur, tetap setia, tetap mengampuni, tetap melayani, atau tetap melakukan yang benar, janganlah menganggapnya sebagai hukuman Tuhan. Bisa jadi justru itulah tanda bahwa kita sedang berjalan di jalan Kristus.

Akhirnya, Injil hari ini mengajak kita mengubah cara pandang terhadap salib. Salib bukan sesuatu yang harus dicari, apalagi dipamerkan. Salib juga bukan tanda bahwa Allah meninggalkan kita. Salib adalah bukti bahwa kasih memiliki harga. Dan kasih yang sejati selalu lebih kuat daripada penderitaan yang harus ditanggung.

Marilah kita memohon rahmat agar diberi hati yang berani mencintai seperti Kristus. Bukan mencari penderitaan, tetapi tidak lari dari pengorbanan ketika kasih menuntutnya. Sebab hanya kasih yang rela berkorban yang mampu mengubah dunia dan menghadirkan wajah Allah di tengah kehidupan manusia.

“Ya Tuhan, jangan biarkan kami takut memikul salib yang lahir dari kasih. Ajarlah kami untuk tetap jujur, tetap setia, tetap mengampuni, dan tetap melayani, sebab di situlah kami sungguh mengikuti jejak Putra-Mu, Yesus Kristus. Amin.”

Robert Bala. Penulis Buku MEMAKNAI BADAI KEHIDUPAN. Penerbit Kanisius Jogjakarta, cetakan ke-2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *