Bupati Kanis Tuaq Dukung Sekolah Adat Lewohala, Muro Jadi Kunci Menjaga Masa Depan Laut Lembata LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq, menegaskan dukungannya terhadap pengembangan Muro sebagai sistem pengelolaan sumber daya laut berbasis kearifan lokal yang berperan penting dalam menjaga kelestarian ekosistem dan keberlanjutan perikanan di Lembata. Dukungan tersebut disampaikan saat menghadiri Sekolah Adat dan Pembelajaran Kearifan Lokal bertajuk “Merawat Pengetahuan, Menjaga Alam” di Tempat Pembelajaran OPPA OMMA, Desa Todanara, Kecamatan Ile Ape Timur, Selasa (3/11/2026). Kegiatan yang diselenggarakan IDEP Selaras Alam bersama LSM Barakat ini melibatkan masyarakat adat Lewohala, para siswa, dan masyarakat setempat. Bupati Kanis mengibaratkan Muro sebagai rumah bagi ikan, tempat biota laut hidup dan berkembang biak. Menurutnya, praktik adat tersebut merupakan bentuk investasi jangka panjang untuk menjaga sumber daya laut. “Kalau kita bicara Muro, ini adalah tempat tinggalnya ikan, apartemennya ikan, hotelnya ikan. Di sini ikan bisa hidup dan berkembang biak. Karena itu, saya sangat mendukung kehadiran Muro ini,” ujar Bupati. Ia optimistis, keberadaan kawasan perlindungan laut berbasis adat akan mendorong peningkatan potensi perikanan di wilayah tersebut. “Percaya bahwa nanti di teluk ini akan dipenuhi dengan ikan karena sudah ada tempat tinggalnya ikan di Muro, di Kampung Ikan Todanara dan juga mutiara di Hadakewa,” katanya. Pada kesempatan itu, Bupati juga menyoroti kerusakan jalan dari simpang Ile Ape menuju ibu kota Kecamatan Ile Ape Timur. Pemerintah daerah, bersama dukungan anggota DPRD, akan memperjuangkan alokasi anggaran perbaikan pada 2027, sekurang-kurangnya hingga Desa Todanara. Bupati turut mengapresiasi pembelajaran di OPPA OMMA yang menggabungkan pelestarian pengetahuan adat dengan praktik pertanian cerdas iklim, seperti pembuatan terasering, pemilihan benih berkualitas, pemanfaatan limbah dapur, dan pengolahan tanah ramah lingkungan. Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan program pemberdayaan masyarakat melalui sektor Nelayan, Tani, dan Ternak (NTT). “Memang pekerjaan-pekerjaan seperti ini kita tidak bisa lihat hasilnya sekejap mata seperti membangun sebuah gedung atau jalan. Namun, manfaatnya untuk jangka panjang dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang, ketika pola pikir masyarakat berubah tentang bagaimana menjaga dan mengembangkan kearifan lokal yang ada di daerah kita,” jelasnya. Bupati mengajak pemerintah, masyarakat adat, dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi agar kearifan lokal tetap hidup dan menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah. Direktur LSM Barakat, Benediktus Bedil Pureklolon, menjelaskan bahwa OPPA OMMA dikembangkan sebagai ruang belajar bagi generasi muda melalui tiga zona, yakni pengetahuan tutur adat, pertanian cerdas iklim, dan pembelajaran Muro di Rumah Balela. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat adat Lewohala juga memperkenalkan sejarah dan tradisi leluhur melalui Belen Raya Lewohala Elias Keluli Making dan Stef Lodan Making. Sebagai bagian dari dokumentasi pengetahuan lokal, Benediktus Bedil menyerahkan buku tentang Muro kepada Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq dan sejumlah pemangku kepentingan yang hadir, diantaranya Anggota DPRD Lembata, Kedis Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Anselmus Asan Ola, Plt. Camat Ile Ape Timur Kristoforus Boro Making, serta Kepala Desa Todanara Fransiskus Boli. ***(Prokompimkablembata) Post Views: 27 Navigasi pos Monitoring Pelaksanaan Program Revitalisasi SDK Gehak, Bupati Sikka Dorong P2SP Manfaatkan Waktu Pelaksanaan Secara Baik Benediktus Pureklolon: Panorama Laut Todanara Disebut Lebih Indah dari Bunaken, Riset Italia Ungkap Potensi Wisata Bahari