CANGKIR DIRI YANG KOSONG (Homili Inspiratif Minggu Biasa ke-30, Injil Matius 22:34-40, Minggu 25 Oktober 2026) Oleh : Robert Bala Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Ketika orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang hukum mana yang paling utama, Yesus menjawab dengan merangkum seluruh Kitab Taurat dan Kitab Para Nabi ke dalam dua perintah mendasar: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu…” dan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat. 22:37, 39). Dalam kehidupan beriman, fokus kita sering kali langsung tertuju pada dua hal: mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Kita diajarkan untuk berkorban, melayani, dan memberikan yang terbaik demi kemuliaan Tuhan. Namun, kita kerap mengabaikan frasa kunci yang Yesus selipkan di akhir kalimat-Nya: “seperti dirimu sendiri”. Frasa tersebut bukan sekadar pemanis, melainkan sebuah tolok ukur. Bagaimana mungkin seseorang dapat mengasihi sesamanya dengan tulus jika ia belum belajar mengasihi dirinya sendiri? Bayangkan seseorang yang berjalan di gurun pasir dan bertemu dengan musafir yang sangat kehausan. Ia ingin sekali menolong dan menuangkan air, tetapi cangkir di tangannya kosong. Mungkinkah ia memberi minum dari cangkir yang tak berisi? Tentu tidak. Fenomena inilah yang kian marak terjadi di era digital. Kita hidup di zaman yang serba cepat, saat standar hidup dipamerkan secara terbuka di layar ponsel. Banyak orang mengalami tekanan emosional, tenggelam dalam kelelahan batin (burnout), stres berlebihan, hingga kehilangan rasa berharga atas dirinya sendiri. Angka gangguan kesehatan mental dan tindakan mengakhiri hidup pun semakin mengkhawatirkan. Hal inilah yang mendorong saya menulis buku SEBELUM BUNUH DIRI: Fakta, Deteksi, dan Pencegahan Bunuh Diri Remaja. Di NTT, daerah dengan mayoritas umat Katolik, terjadi kenaikan signifikan angka kasus bunuh diri dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2021 tercatat 145 kasus, dan pada tahun 2024 melonjak menjadi 226 kasus. Angka ini kian bertambah. Semua ini rentan terjadi ketika seseorang merasa dirinya ibarat cangkir kosong—tak bernilai bagi diri sendiri, apalagi bagi sesama. Perasaan hampa inilah yang kian menghantui banyak orang. Ada dorongan kuat untuk tampil sempurna, menyenangkan semua orang, atau terlihat “saleh” di luar, padahal kita sedang berjalan dengan cangkir jiwa yang kosong. Kita dipaksa mengasihi orang lain dan memenuhi ekspektasi lingkungan, tetapi batin kita diliputi rasa bersalah, kebencian pada diri sendiri, dan kehampaan. Melayani dengan cangkir kosong hanya akan membuahkan kelelahan fisik, kegusaran, dan kekecewaan. Mencintai diri sendiri—dalam makna rohani yang sehat—bukanlah sikap egois. Mencintai diri sendiri berarti menyadari bahwa kita adalah ciptaan yang dikasihi Allah, mau menerima ampunan-Nya saat jatuh, merawat kesehatan batin dan raga, serta membiarkan kasih Allah memenuhi jiwa kita terlebih dahulu. Kita tidak bisa memberi apa yang tidak kita miliki. Saat kita datang kepada Allah dalam doa, sakramen, dan keheningan batin, kita sedang membiarkan Allah mengisi cangkir hidup kita dengan air kehidupan-Nya. Dari kepenuhan rahmat itulah, kasih kepada sesama dapat mengalir secara alami, tulus, dan tanpa beban. Kita akhiri homili ini dengan sebuah cerita sederhana. Sekelompok alumni universitas yang telah sukses dalam karier berkunjung ke rumah profesor tua mereka. Di tengah perbincangan, topik bahasan segera bergeser menjadi keluhan tentang stres, kelelahan kerja, dan tekanan hidup yang begitu berat. Sang profesor tersenyum, lalu pergi ke dapur dan kembali membawa seteko besar kopi hangat serta nampan penuh berisi berbagai jenis cangkir: ada cangkir porselen yang mahal, cangkir kaca yang elegan, hingga cangkir plastik murah. Sang profesor meminta para alumninya untuk menuangkan sendiri kopi mereka. Setelah semua alumni memegang cangkir masing-masing, profesor itu berkata, “Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang bagus dan mahal telah kalian ambil terlebih dahulu. Yang tersisa di nampan hanyalah cangkir-cangkir plastik yang murah.” Ia melanjutkan dengan lembut, “Sangat wajar jika kalian menginginkan yang terbaik untuk diri kalian. Namun, itulah sumber stres dan masalahnya. Yang sebenarnya kalian butuhkan dan ingin nikmati adalah kopinya, bukan cangkirnya. Namun secara tidak sadar, perhatian kalian justru tertuju pada cangkir, bahkan kalian saling membandingkan cangkir siapa yang paling indah.” Kehidupan ini ibarat kopi—kasih Allah, ketenangan batin, dan kesehatan jiwa kita. Sementara pekerjaan, status sosial, dan penilaian orang lain di dunia digital hanyalah cangkir penampungnya. Jangan biarkan perhatianmu terikat pada cangkir hingga kamu lupa menikmati dan merawat kopi di dalamnya. Mari kita kembali mengisi cangkir jiwa kita di hadapan Tuhan. Kasihilah dirimu sebagaimana Allah mengasihimu, agar dari cangkirmu yang penuh melimpah, orang lain dapat merasakan kesegaran kasih Allah yang sejati. Robert Bala. Penulis buku SEBELUM BUNUH DIRI: Fakta, Deteksi, dan Pencegahan Bunuh Diri Remaja (Penerbit Ledalero, 2025). Post Views: 16 Navigasi pos Memberi Hati