Dari Anak Yatim Piatu Pemulung Asa hingga Petani Sawit Mandiri: Kisah Inspiratif Sukri Adi dan Sukses Intergenerasional Anaknya Oleh: Aswar Habibi & Andi Nova MANDAILING NATAL : WARTA-NUSANTARA.COM-— Kehidupan terkadang tidak pernah menawarkan jalur pintas bagi mereka yang terlahir digaris bawah. Namun, di balik kerasnya tanah perdesaan Sumatera, selalu ada kisah tentang manusia-manusia bermental baja yang menolak tunduk pada takdir kemiskinan struktural. Inilah catatan perjalanan hidup Sukri Adi—seorang figur pekerja keras tanpa kenal lelah, petani sawit sukses, sekaligus ayah teladan yang berhasil melahirkan generasi unggul di kancah akademis dan kepemimpinan internasional. Lahir di Kisaran, Sumatera Utara pada 21 Juli 1967 sebagai anak bungsu dari sembilan bersaudara, Sukri Adi,l (dalam rekam jejak hidupnya) harus menelan pahitnya takdir di usia yang sangat belia. Baru menginjak umur dua tahun, sang ibu tercinta berpulang ke Rahmatullah. Tak lama berselang, tatkala ia beranjak dewasa, sang ayah menyusul pergi. Tanpa warisan harta dan tanpa naungan rumah orang tua, Sukri Adi muda terpaksa menjalani hidup dengan menumpang dari satu rumah saudara ke rumah saudara lainnya secara berpindah-pindah (mobile residency). Segala bentuk pekerjaan kasar dilakoninya demi menyambung hidup. Namun, alih-alih meratapi nasib, tempaan hidup yang keras justru membentuk habitus mental dan resiliensi psikososial yang luar biasa. Perjalanan panjangnya mengantarkan langkah kaki Sukri Adi ke Simpang Sordang, Kecamatan Lingga Bayu, Kabupaten Mandailing Natal. Di tanah perbatasan inilah, setelah melewati dinamika kehidupan sebelumnya—termasuk pernikahan pertama yang dikaruniai seorang putri bernama Suhaini yang kini berdomisili di Riau—ia menemukan pelabuhan terakhirnya bersama sang istri tercinta, Ibu Basmaria. Kais Rezeki di Kebun Sawit: Etos Kerja Tanpa Kenal Lelah Di Simpang Sordang, Sukri Adi mulai merintis masa depan dari titik nol. Mengandalkan tenaga fisik, keahlian agronomis otodidak, serta ketekunan tingkat tinggi, ia membabat lahan dan menanam kelapa sawit pohon demi pohon. Disaat para petani lain memilih berteduh di kala terik matahari menyengat atau hujan gerimis turun, Sukri Adi tetap memilih bertahan di ladang. Bagi pria yang kini mendekati usia senja tersebut, ladang sawit bukan sekadar tempat mencari lembaran rupiah, melainkan ruang ibadah dan pembuktian harga diri. Sebuah pengakuan jujur dan menyentuh terucap dari bibirnya saat diwawancarai di lokasi perkebunannya: ada “perasaan tidak enak badan” atau kejanggalan fisik yang mendera jika dalam sehari saja ia tidak turun menengok dan bekerja di ladang sawitnya. Bagi Sukri Adi, kerja keras bukan beban, melainkan napas kehidupan itu sendiri. Memutus Rantai Kemiskinan: Sukses Intergenerasional di Puncak Akademis Buah dari keringat dan air mata di kebun sawit tersebut tidak lantas dihamburkan untuk gaya hidup konsumtif. Sukri Adi dan Ibu Basmaria memiliki visi besar: warisan terbaik bagi anak-anak bukanlah tumpukan harta semata, melainkan ijazah, ilmu pengetahuan, dan akhlak. Prinsip visioner ini terbukti sukses mengantarkan kedua putra mereka menembus puncak mobilitas sosial vertikal yang membanggakan: Andi Nova, M.Pd — Putra pertama yang menuntaskan studi magisternya di UIN Sumatera Utara Medan, kini berkiprah cemerlang sebagai akademisi dan dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah (STITM) Sibolga, Tapanuli Tengah. Aswar Habibi, S.Pd, M.H — Putra kedua yang juga menamatkan pendidikan sarjana dan magister di almamater yang sama (UIN SU Medan), kini mengemban amanah strategis sebagai Pimpinan Pondok Pesantren sekaligus Kepala Sekolah SMP International Boarding School di Seruway, Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang. Transformasi dari seorang anak yatim piatu yang menumpang hidup, bertransformasi menjadi agropreneur sawit, hingga sukses mengantarkan anak-anaknya menjadi kaum intelektual dan pimpinan lembaga pendidikan internasional adalah sebuah potret nyata the American Dream versi kearifan lokal perdesaan Sumatera. Pesan Moral: Keteladanan untuk Generasi Milenial Kisah hidup Sukri Adi mengajarkan kepada kita sebuah refleksi agung: bahwa kemiskinan masa lalu bukanlah vonis permanen. Dengan modal ketulusan, resiliensi, dan etos kerja tanpa henti, batas-batas struktural sosial dapat dihancurkan. Di era modern di mana banyak generasi muda yang rentan terjebak dalam budaya instan, keteladanan Sukri Adi menampar kesadaran kita bahwa keringat yang jujur tidak akan pernah mengkhianati hasil. Sebuah biografi hidup tentang keteguhan seorang ayah, ketulusan seorang ibu (Basmaria), dan buah manis dari kesabaran panjang di bawah rindangnya pohon kelapa sawit. *** Post Views: 36 Navigasi pos Kemenag Ende Nyatakan Komitmen Penuh Dukung Operasi di Lakukan oleh Satrenarkoba Polres Ende Polda NTT di tempat Karaoke Pub Ndona Selatan Dalam Penantian Panjang Ketika Jalan Sulit Dijangkau dan Terang Listrik Belum Menyapa Semua Warga