Dari Puisi hingga Teater Wai Teba, Panggung Expo SPENSA Naga Hidupkan Panggung Seni Siswa LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Panggung Expo SPENSA Naga 2026 di SMP Negeri 1 Nagawutung, Kabupaten Lembata, menjadi ruang ekspresi, refleksi, dan perayaan kreativitas peserta didik pada Jumat malam (30/10/2026). Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda, para siswa menampilkan beragam pertunjukan, mulai dari lagu, puisi teatrikal, tarian tradisional, monolog, drama, hingga komedi dan teater. Siswi Spensa Nagawutung berpuisi Teater Spensa Nagawutung Rangkaian pementasan berlangsung sejak pukul 19.00 WITA hingga sekitar pukul 22.00 WITA. Dipandu oleh dua pembawa acara dari kalangan siswa, Agustinus G. Rajaona dan Maria Anfrida Jawa Watun, kegiatan ini dibuka dengan tarian kolosal, kemudian dilanjutkan dengan penampilan SPENSA Naga Choir yang membawakan Hymne Bahasa Indonesia dan Hymne Spensa Naga. Suasana panggung kemudian diisi dengan teatrikal puisi Dari Bara, Benang, dan Bilah Bambu serta Tarian Lebe yang mengangkat kekayaan seni dan budaya lokal. Namun, salah satu penampilan yang memberi warna reflektif pada malam itu adalah monolog Lentera di Atas Meja Retak, yang dibawakan Maria Irene Hipir, siswi kelas VII SMP Negeri 1 Nagawutung. Melalui monolog tersebut, Maria mengangkat persoalan perundungan, kekerasan verbal, dan sikap abai terhadap penderitaan peserta didik. Cerita yang dibangun melalui suara seorang siswa yang mengalami penghinaan di lingkungan sekolah itu menghadirkan kritik terhadap cara pandang yang merendahkan anak hanya karena kelemahan atau perbedaan yang dimilikinya. Monolog tersebut juga menyoroti tanggung jawab pendidik untuk tidak sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi turut menjaga martabat dan keselamatan psikologis peserta didik. Di tengah ejekan dan perlakuan tidak adil, tokoh dalam monolog itu memilih untuk tidak menyerah. Rasa sakit justru dijadikan kekuatan untuk bangkit dan keluar dari lingkaran kekerasan. Pesan yang mengemuka dari penampilan tersebut adalah bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman bagi setiap anak untuk bertumbuh, bukan tempat yang membiarkan penghinaan dan perundungan berlangsung. Pendidikan tidak hanya menyangkut pencapaian akademik, tetapi juga kepedulian, penghargaan terhadap sesama, dan keberanian membela martabat manusia. Suasana yang lebih cair hadir melalui penampilan stand-up comedy oleh Jefri Kein. Dengan gaya humor yang dekat dengan pengalaman sehari-hari, ia mengangkat beragam persoalan, mulai dari kisah cinta, kehidupan keluarga, tradisi hantar dulang, hingga pengalaman sebagai guru Bimbingan dan Konseling. Di balik kelucuan yang mengundang tawa penonton, materi komedi Jefri menyimpan sejumlah refleksi tentang kehidupan masyarakat dan dunia pendidikan. Ia menyinggung pentingnya menjaga budaya lokal di tengah derasnya tren media sosial, serta mengingatkan para guru agar tidak membiarkan kesibukan administrasi menggeser perhatian terhadap peserta didik. Salah satu pesan yang menonjol adalah ajakannya kepada para guru untuk tetap menghadirkan perhatian, sapaan, dan senyum tulus di ruang kelas. Menurut refleksi yang disampaikannya, anak-anak adalah pribadi yang sedang bertumbuh dan membutuhkan pendampingan. Karena itu, di tengah berbagai tuntutan pekerjaan, guru tidak boleh melupakan manusia yang menjadi pusat dari proses pendidikan itu sendiri. Jefri juga mengajak generasi muda agar tidak larut dalam tren sesaat hingga melupakan identitas budaya daerah. Media sosial dan perkembangan zaman, menurut pesan yang disampaikannya, dapat diikuti tanpa harus meninggalkan bahasa, tradisi, dan kesenian lokal yang diwariskan oleh para pendahulu. Rangkaian pertunjukan berlanjut dengan pembacaan puisi Tenun Aksara dari Lewotana, teatrikal puisi Ina Tuto, monolog Sunyi di Antara Dua Dinding, drama Tanah di Sepatu Bapak, serta paduan suara yang membawakan lagu Takdir Bukan Hukuman. Ragam penampilan tersebut memperlihatkan bahwa panggung sekolah dapat menjadi ruang bagi siswa untuk mengolah pengalaman, menyampaikan gagasan, dan mengembangkan kepekaan terhadap persoalan di sekitar mereka. Pada sesi puncak, penonton kembali dihibur melalui pertunjukan lawak dan komedi sketsa kelompok siswa, disusul medley lagu populer dan lagu daerah oleh SPENSA Naga Choir. Teater Wai Teba kemudian menjadi penampilan penutup yang menandai berakhirnya rangkaian pementasan malam itu. Acara ditutup dengan sesi foto bersama panitia dan para penampil. Kepala SMP Negeri 1 Nagawutung, Andreas FX. Lawe Odung, S.Pd., berharap kegiatan tersebut menjadi pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik. Melalui kesempatan tampil di hadapan publik, siswa diharapkan semakin percaya diri, berani berinovasi, mampu bekerja sama, dan terus mengembangkan bakat yang mereka miliki. Ketua Panitia, Nikolaus Nuba, S.Ag., juga menegaskan pentingnya menjadikan expo sebagai ruang bagi siswa untuk mencintai bahasa, menghargai budaya, serta membangun karakter dan daya saing. Semangat itu sejalan dengan tujuan kegiatan yang tidak hanya menampilkan hasil kreativitas, tetapi juga memberi kesempatan kepada peserta didik untuk belajar melalui proses berkarya dan berkolaborasi. Expo SPENSA Naga 2026 akhirnya menghadirkan lebih dari sekadar pertunjukan di atas panggung. Monolog tentang perundungan mengajak penonton merenungkan arti kemanusiaan dan tanggung jawab pendidikan, sementara komedi mengingatkan pentingnya perhatian terhadap siswa dan pelestarian budaya. Melalui puisi, musik, tari, drama, dan teater, para siswa menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana untuk menghibur sekaligus menyampaikan pesan yang bermakna. Panggung itu mungkin kembali sunyi setelah acara berakhir. Namun, pesan yang disampaikan para siswa diharapkan tetap hidup: keberanian untuk berkarya perlu berjalan bersama kepedulian terhadap sesama, sementara kemajuan generasi muda harus tetap berpijak pada identitas dan budaya daerahnya. (Hans Koban) Post Views: 40 Navigasi pos Buka Expo SPENSA Naga 2026, Dinas Pendidikan Lembata Dorong Karya Siswa Terus Berkembang