Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd. CPIM

Dari Trofi ke Rafah: Menyusun Narasi Kemanusiaan yang Utuh di Antara Puisi Politik dan Realitas Geopolitik

Oleh: Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd. CPIM

Pendahuluan: Saat Stadion Berbisik dan Pembaca Bertanya

WARTA-NUSANTARA.COM—  Tulisan ini disusun sebagai esai panjang yang tidak memihak secara membabi-buta, melainkan berupaya menjadi jembatan bagi pembaca yang ingin memahami kompleksitas isu ini dengan sikap dewasa. Sebab penulis berada pada posisi sebagai penakar literasi.

Beberapa waktu lalu, beredar sebuah esai indah dari Hasan M. Noer dalam tautan Facebook-nya https://www.facebook.com/share/p/1AxKYmkKki/ yang berjudul “Spanyol, Piala Dunia, dan Palestina.” Dengan puitis, ia merangkai kemenangan La Roja atas Argentina sebagai simbol kemenangan moral: Spanyol yang berpihak pada Palestina, Argentina yang dianggap dekat dengan Israel, dan sebuah seruan agar dunia tidak melupakan Gaza di tengah gemuruh trofi.

Tulisan itu menggugah. Namun, seperti halnya puisi, ia menimbulkan tafsir. Seorang pembaca melontarkan pertanyaan kritis: “Bagaimana dengan Mesir, Turki, dan Arab Saudi? Bukankah mereka juga mendukung Palestina?” Alih-alih dijawab, pertanyaan itu ditepis dengan sindiran: “Di luar konteks”, bahkan “baru bangun tidur.”

Di sinilah percakapan menarik dimulai. Bukan untuk mencari siapa yang benar, melainkan untuk mencari narasi yang utuh. Tulisan ini adalah upaya menjembatani dua kubu: keindahan puisi politik di satu sisi, dan tuntutan logika substantif di sisi lain.

Mengakui Keindahan dan Kebenaran Puisi Politik Hasan

Mari kita mulai dengan memberikan hak sepenuhnya kepada Hasan M. Noer. Sebagai penulis, ia berhasil melakukan hal yang sulit: membawa isu kemanusiaan ke ruang publik yang meriah.

Pertama, ia benar bahwa sepak bola bukanlah ruang hampa politik. Ketika suporter Argentina mengibarkan bendera Israel di stadion, itu adalah pernyataan politik. Ketika suporter Spanyol membentangkan bendera Palestina, itu juga politik. Hasan bahkan menghadirkan fakta dramatis: Amerika Serikat menolak tim Iran bermarkas di negerinya. Ini semua membuktikan bahwa olahraga adalah panggung simbolik yang sah.

Kedua, benar bahwa Spanyol di bawah pemerintahan Sánchez menunjukkan keberanian diplomatik yang patut diapresiasi, terutama di tengah arus besar negara-negara Barat lainnya. Mengakui kemerdekaan Palestina dan bergabung dalam tuntutan hukum di Mahkamah Internasional adalah langkah nyata.

Ketiga, seruan moralnya bahwa kemenangan harus diiringi nurani, bahwa sejarah mengingat kehormatan di atas trofi adalah pesan universal yang menyentuh siapa pun yang masih memiliki empati.

Jadi, kepada Hasan: Tulisanmu indah dan argumenmu bahwa sepak bola adalah politik adalah benar dan kuat. Kami mengakuinya.

Menjembatani Kegelisahan Pembaca; Mengapa Pertanyaan tentang Mesir, Turki, dan Saudi Tidak “Ngawur”

Namun, di sinilah kita harus berhenti sejenak dan membela hak sang pembaca yang dianggap “kurang literasi.”

Pertanyaan tentang Mesir, Turki, dan Arab Saudi sangat relevan, logis, dan berada dalam koridor yang sama. Mengapa?

1. Konteks Geografis: Jika kita berbicara tentang perjuangan kemanusiaan di Gaza, maka Mesir adalah tetangga terdekat yang mengontrol perbatasan Rafah. Turki dan Arab Saudi adalah negara-negara Muslim terbesar yang memiliki pengaruh ekonomi dan diplomatik yang luar biasa.
2. Konteks Advokasi: Jika Hasan memuji Spanyol karena “bersuara”, maka menanyakan posisi negara-negara yang secara fisik dan finansial menanggung beban pengungsi serta menjadi mediator konflik adalah pertanyaan yang wajar. Ini bukan penyimpangan; ini adalah pembukaan cakrawala.
3. Konteks Narasi: Dalam narasi Hasan, Spanyol menjadi “pahlawan tunggal.” Namun, advokasi yang adil tidak boleh mengabaikan para aktor yang telah bermain lebih lama di panggung ini. Mengabaikan mereka sama saja dengan menulis sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tanpa menyebut Bung Karno dan Bung Hatta, lalu hanya memuji seorang simpatisan asing.

Jadi, pertanyaan pembaca justru menyempurnakan diskusi. Ia tidak “bangun tidur”; ia justru terbangun lebih sadar akan kompleksitas geopolitik.

Menjawab Bantahan Hasan; Antara Simbolisme dan Substansi

Ketika Hasan membalas dengan argumen tentang bendera dan sanksi AS terhadap Iran, ia semakin menguatkan posisinya bahwa sepak bola adalah politik. Saya setuju dengan hal ini.

Namun, di sinilah letak celah logika yang ingin saya tawarkan solusinya:

Hasan menggunakan politik simbolik (bendera, sorakan, penolakan tim) untuk membuktikan sepak bola itu politis. Lalu, ketika pembaca menanyakan politik substantif (kebijakan perbatasan, bantuan kemanusiaan, diplomasi aktual) dari Mesir, Turki, dan Arab Saudi, Hasan menyebutnya “tidak ada hubungannya.”

Inkonsistensinya: Jika kita menerima bahwa bendera di stadion adalah “politik”, maka mengapa kebijakan nyata yang menentukan nasib rakyat Gaza dianggap bukan “politik”?

Mesir membuka atau menutup Rafah adalah politik yang menentukan mati-hidupnya warga Gaza. Turki menjadi juru bicara vokal di PBB dan mengirim kapal bantuan adalah politik. Arab Saudi menjadi donor terbesar UNRWA dan menuntut bahwa solusi dua negara bersifat politik.

Mengabaikan mereka adalah bentuk penyempitan narasi. Ini bukan tentang menjatuhkan Spanyol, melainkan tentang memberi tempat yang adil bagi semua pihak yang berjuang.

Sintesis Akhir; Membangun Narasi yang Utuh dan Mendidik

Lalu, bagaimana kita menyusun narasi yang adil dan mendidik dari semua ini?

Saya menawarkan kerangka jalan tengah yang terdiri dari tiga pilar:

1. Hormati Dua Level Politik
Kita harus membedakan, tetapi tidak memisahkan, pertama, level simbolik: kibaran bendera, pernyataan pemain, dan sorakan suporter. Di sini, Spanyol layak mendapat tepuk tangan. Ini adalah “puisi” yang menghidupkan semangat. Kedua, level substantif: negosiasi gencatan senjata, pembukaan koridor kemanusiaan, dan pendanaan rekonstruksi. Di sini, Mesir, Turki, dan Arab Saudi adalah pemain utama.
Seorang pembaca yang bijak akan merayakan keduanya, tidak mengorbankan salah satu untuk yang lain.

2. Tolak Narasi “Pahlawan Tunggal”
Kemanusiaan bukanlah lomba lari 100 meter yang dimenangkan oleh satu negara. Ia adalah orkestra panjang yang dimainkan oleh banyak tangan dari Madrid yang mengibarkan pakaian, hingga Kairo yang membuka gerbang, dari Ankara yang bersuara lantang, hingga Riyadh yang menyalurkan dana.
Sejarah akan mencatat semua jasa itu, tidak hanya yang terbungkus trofi.

3. Kembalikan Martabat Diskusi
Salah satu pelajaran terbesar dari perdebatan ini adalah pentingnya adab dalam berdiskusi. Menyebut pertanyaan orang lain “ngawur” atau “kurang literasi” adalah sikap yang merusak esensi dakwah dan advokasi. Sebuah narasi yang baik tidak takut diuji, tidak defensif, dan terbuka pada pengayaan.
Sebaliknya, kita sebagai pembaca juga harus belajar membaca dengan cermat: memahami bahwa puisi memiliki hak atas hiperbola, tetapi kita juga punya hak untuk bertanya.

Penutup: Menuju Kemenangan yang Lebih Agung

Pada akhirnya, esai Hasan M. Noer adalah pengingat yang indah bahwa kita tidak boleh mati rasa terhadap penderitaan, bahkan di saat kita sedang merayakan. Itu adalah nilai luhur yang tidak bisa kita sangkal.

Namun, kemanusiaan yang utuh menuntut kita untuk melihat lebih luas. Tidak cukup hanya melihat bendera di stadion; kita juga harus melihat gerbang perbatasan, ruang sidang PBB, dan tenda-tenda pengungsian.

Semoga sintesis ini menjadi bacaan yang mendidik: mengajarkan kita untuk mengapresiasi puisi tanpa kehilangan akal sehat dan bertanya secara kritis tanpa kehilangan rasa hormat.

Karena pada akhirnya, peradaban tidak diukur dari berapa banyak piala yang diangkat, melainkan dari siapa yang paling keras bersuara. Peradaban diukur dari kemampuan kita, sebagai bangsa dan umat manusia, untuk menyusun narasi yang adil bagi semua pihak yang berjuang di bawah langit yang sama.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Biografi Penulis:
Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, lahir di Ende, 27 April 1970, adalah ASN di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata, NTT, dalam jabatannya sebagai Pengawas Sekolah Ahli Madya Tingkat Menengah. Sedang merintis Taman Baca Savana Iqra (TBSIq) dan aktif berperan sebagai “Penakar Literasi” dalam Komunitas Penulis Lembata. Penulis aktif menulis opini/headline di berbagai media online. Penulis dapat dihubungi melalui Facebook (@RifaiAprian) dan Instagram (@Rifai_mukin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *