Dementia di Coffee Lamakera Oleh: Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd. CP WARTA-NUSANTARA.COM— Ada banyak kisah tentang cinta, kasih sayang, pengorbanan yang heroik dan ribuan cerita lain yang tak sempat kutuangkan ke dalam tulisan ini. Apa yang tertulis di sini hanyalah sepotong kecil, dari sekian banyak kenangan yang tersimpan rapat di dalam ingatanku. Kita semua, para anak Lamakera, punya catatan masing-masing tentang Reuni Lamakera se-Indonesia. Sekiranya seluruh kisah itu dirangkum menjadi satu buku, mungkin akan kuberikan judul: “ASA ANAK LAMAKERA.” Ini adalah kisah anak kampung di pelosok Timur Pulau Cendana, dahulu orang menyebutnya Pulau Zolar. Konon, karena dialek lidah penduduknya yang khas, seiring berjalannya waktu nama itu pun berubah menjadi Pulau Solor. Wallahu a’lam bishawab. Kini, negeri yang kaya akan kayu cendana itu tampak kerontang, ditumbuhi hamparan sabana yang luas. Namun tatkala musim hujan tiba, pulau ini berubah menjadi begitu indah, terlebih jika dipandang dari ketinggian. Beberapa jepretan foto keindahannya bahkan memiliki nilai seni yang luar biasa, hingga karya para fotografer di sana sering kali dilelang dengan harga yang luar biasa tinggi. Namun di kesempatan ini, saya ingin berbagi satu kisah yang mungkin berbeda dari yang lain. Sebuah kisah yang ternyata tak berakhir dengan sempurna, seperti kisahku dengan Tuan Penikmat Kopi. Perpisahan kami meninggalkan luka, namun andai saya memaksakan diri untuk tetap tinggal, justru saya yang akan hancur bersamanya. Mungkin kisah ini adalah satu pelajaran yang semesta wujudkan untukku: tentang duka, tentang luka, dan tentang melepaskan. Setelah sekian lama terperangkap dalam perselisihan yang tak kunjung menemukan jalan keluar, akhirnya kata “usai” menjadi satu-satunya jalan untuk berhenti. Jika ada yang bertanya bagaimana kabarku, saya akan menjawab: belum sepenuhnya baik-baik saja. Tak mudah memang, untuk kembali terbiasa hidup tanpa seseorang yang hampir sepekan penuh menjadi bagian dari hariku. Namun pelan-pelan, saya mulai pulih dari luka yang dulu ia tinggalkan. Kini saya bukan lagi “Vanila” baginya, bukan lagi gula yang mempermanis kopi yang ia cintai setiap pagi. Saya pun bukan lagi kopi pahit yang tetap bisa diseduh meski tanpa gula. Kini, yang ada hanyalah saya, tanpa dirinya, laksana air yang jernih, tanpa campuran kopi maupun gula. Murni, dan utuh. Mungkin satu alasan mengapa semuanya berakhir adalah karena saya tak bisa lagi menjadi gula, pemanis yang selalu ia inginkan. Kurasa memang lebih baik begini, daripada saya terus berpura-pura menjadi gula yang ia sukai, padahal di dalamnya bukan lagi diriku yang sebenarnya. Masih di kedai kopi Lamakkera itu. Saya diam, bukan berarti saya tak memahami apa yang kau pikirkan, Tuan. Secangkir kopi panas dan manisnya gula aren yang kau seruput perlahan, ternyata telah membuatmu jatuh ke dalam “demensia” sebuah pelupa yang sadar, yang kau rasakan sejak pertama kali duduk di sini. Jam di dinding pun seakan berhenti berdetak, lelah menghitung waktu yang berlalu. Kau lupa pulang, lupa pada dunia di luar kedai ini. Hingga akhirnya hari itu tiba, saya memilih untuk pergi. Agar kau bebas menjadi dirimu sendiri. Namun aku tahu, namaku tetap ada di dalam ingatanmu, tetap menjadi gula yang selalu kau cari untuk mempermanis secangkir kopimu, sekalipun pahitnya kopi itu bisa saja kau minum tanpa saya. Karena itulah, kau berusaha menyingkirkanku sejauh yang kau bisa, agar kau tak lagi terikat pada perasaanku. Saya hanya tersenyum. Karena saya tahu, suatu saat kau akan kembali merindukan manisnya gula dalam kopi yang kau seduh sendiri. Maka selipkanlah secangkir kopimu dengan tembakau 234; rasanya pasti akan berbeda, atau mungkin hanya seleramu saja yang berubah. Hembuskanlah kepulan asap itu ke udara, dan katakan pada dunia: bahwa saya hanyalah penikmat manis dan pahitnya kopi, yang dulu pernah duduk di hadapanmu di kedai ini. Saya datang, dan saya pergi hanya sekadar menyapamu. Dan kau, tetaplah dalam demensiamu. Tentang Penulis: Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd.CPIM, Lahir di Ende, 27 April 1970. Adalah ASN di Kantor Kementerian Agam Kabupaten Lembata, NTT. Sedang merintis Taman Baca Savana Iqra (TBSIq) dan aktif sebagai “Penakar Literasi” dalam komunitas penulis Lembata. Aktif menulis opini/headline di berbagai media online. Penulis dapat dihubungi melalui Facebook (@Rifaiaprian) dan Istagram (@Rifai_mukin) Post Views: 64 Navigasi pos Muara Benang Kusut Survei Pascagempa Flores: Petugas Lapangan PUPR Akui Hanya Eksekusi Data Awal dari BPBD Ende