Dia Setia Ulurkan Tangan-Nya Oleh : Pater Steph Tupeng Witin,SVD Mat 14: 22-33 WARTA-NUSANTARA.COM— Hidup kita seperti perahu yang sedang mengarungi samudera. Perahi kita kadang dihantam badai dan topan. Gelombang kehidupan seringkali membuat iman kita goyah. Ketika kesulitan datang bertubi-tubi, kita mulai bertanya, “Tuhan, apakah Engkau masih bersama kami?” Ada nada bimbang, gelisah bahkan ketakutan. Kita seolah meragukan kehadiran Tuhan di hadapan badai duniawi yang menerpa hidup kita. Mata kita lebih melihat besarnya masalah ketimbang besarnya penyelenggaraan Tuhan. Kita dengar dalam Injil hari ini, para murid mengalami angin sakal yang kuat. Perahu mereka terombang-ambing. Di tengah badai ketakutan itu, mereka melihat Yesus berjalan di atas air. Para murid mengira Dia itu hantu. Sampai Tuhan berseru,” Tenanglah! Aku ini, jangan takut!“ (Mat 14:27). Ketika para murid diterpa badai, mereka ketakutan dan merasa sendirian. Padaahal Yesus sedang berada bersama mereka. Inilah momen paling krusial dalam hidup. Ketika ketakutan, kepanikan dan kegelisahan melanda, kita terkadang tidak mampu melihat kehadiran Tuhan. Kita terlampau fokus pada masalah di depan mata sampai lupa bahwa ada Dia yang jauh lebih besar dari masalah apa pun. Tuhan mungkin saja tidak langsung menghentikan badai tetapi Dia tidak pernah meninggalkan perahu kehidupan kita sendirian diombang-ambingkan gelombang dan angina sakal dunia ini. Kita baru sadari kesetiaan Tuhan itu ketika kita menoleh ke belakang dan melihat bagaimana tangan-Nya setia menuntun setiap langkah hidup kita. Terkadang kita tidak mampu berjalan lagi dan Tuhan menggendong kita. Petrus yang sudah mulai berjalan sekalipun sempat goyah dan hampir tenggelam saat kembali melihat badai. Kita kadang meragukan Tuhan yang setia hadir untuk menolong. Tuhan tidak membiarkan Petrus tenggelam. Kita pun diingatkan bahwa Tuhan tentu tidak membiarkan kita karam. Maka jangan terlambat berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” (Mat 14;30). Dia tahu kelemahan kita tetapi Dia selalu mengulurkan tangan-Nya untuk meredakan badai dan menyelamatkan kita. Nabi Elia tidak mencari Allah dalam angin badai, gempa atau api, tapi dalam suara lembut dan kecil. Allah tidak selalu hadir dalam jalan yang spektakuler. Ia hadir dalam keheningan, dalam suara hati, dalam pelukan orang terdekat, dalam doa yang hening. Menurut Rasul Santo Paulus, kasih dan iman yang mendalam menggerakkannya rela berkorban untuk semua orang meski hatinya penuh dengan duka. Para murid dalam perahu adalah simbol kita, Gereja, yang berlayar di atas air yang dilanda badai zaman, terombang-ambing oleh gelombang dunia dan dilanda angin sakal kemajuan teknologi yang kadang mengalienasi kita dari akar hidup kita yaitu Tuhan. Badai itu menyingkap kerapuhann diri dan kerentanan religiositas kita. Paus Fransiskus pernah berkata, “Badai itu jalan pemurnian iman. Ia menyibak rasa aman yang palsu dan dangkal, yang telah kita gunakan saat kita merancang agenda-agenda, proyek, kebiasaan, dan prioritas kita. Ini menunjukkan kepada kita bagaimana kita telah meninggalkan Tuhan yang sesungguhnya memberi hidup, yang mendukung dan memperkuat hidup kita dan komunitas kita. Badai mengungkap semua tujuan palsu yang telah membuat kita lupa apa sesungguhnya yang telah memelihara jiwa kita.” Tuhan menginsafkan kita agar jangan sampai kehilangan harapan ketika perahu kehidupan terasa berat. Tetaplah beriman kepada-Nya. Di balik setiap perjuangan hidup yang dilakukan dengan kasih, doa dan ketekunan, Tuhan setia berkarya. Orang Jawa bilang: Gusti Mboten Sare. Tuhan tidak pernah tidur. Badai hidup pasti selalu ada tetapi bersama Yesus, badai sedahsyat apa pun tidak akan pernah menenggelamkan perahu kita. Mendiang Paus Fransiskus pernah berpesan, “Jangan takut menghadapi kesulitan hidup. Tuhan selalu bersama kita. Berpeganglah pada-Nya., jangan lepaskan tangan-Nya!” Post Views: 34 Navigasi pos Wagub Johni Asadoma: Gereja Mitra Strategis Pemerintah dalam Membangun SDM dan Daerah