Dua Figur Hebat dari Ile Ape, Eulogi untuk Lambert Laba Hurek Making dan Sinun Petrus Manuk WARTA-NUSANTARA.COM— Saya mengenal kedua orang ini tentu bukan secara kebetulan. Sinun Petrus Manuk menjadi orang pertama yang saya temui, meski saat itu karena masih terlalu kecil, saya tidak cukup mengingatnya. Namun, melalui cerita yang saya dengar kemudian—serta keberadaan teman-teman sekelasnya saat bersekolah di Lerek selama tiga tahun—saya mulai mengenal sosoknya. Dengan Lambertus Laba Hurek Making, saya baru bertemu belasan tahun kemudian ketika masuk Seminari Hokeng. Meski saat itu ia baru lulusan D2 Matematika dari Yogyakarta (dan karena saat itu sulit mendapatkan pengajar Matematika), Lambertus dipercaya mengajar para siswa seminari yang usianya hampir sebaya dengannya. Di Hokeng ia tidak bertahan lama, hanya sekitar tiga tahun. Ia harus kembali ke Yogya untuk melanjutkan pendidikan S1 Matematika, lalu menempuh jenjang Magister Manajemen (mungkin di Kupang). Setelah periode itu, kami tidak pernah bertemu lagi. Tahun 2016, kalau tidak salah, saya mendapatkan informasi dari Ama Piter Manuk yang saat itu Kdis Pendidiakn dan kebudayaan NTT dan saat bersamaan sebagai Penjabat Bupati Lembata. Saya dapat informasi, Pak Lambert menjadi Kepala Sekolah SKO Flobamorata Kupang. Hal itu menjadi topik pembicaraan kami karena Yayasan Koker Niko Beeker sedang merancang pendirian SMA. Piter Manuk memberi tahu bahwa SKO telah berdiri di Kupang dan kepala sekolahnya adalah Lambertus Laba Hurek Making. Dengan cepat, komunikasi di antara kami kembali terjalin. Saya kemudian bertemu dengan Pak Lambert, yang dengan mudah mengingat kebersamaan kami di Hokeng dulu. Berangkat dari tujuan yang sama untuk mendirikan SKO, perkenalan kami berlanjut lebih jauh ke pembahasan kurikulum. Untuk keperluan ini, Pak Lambert melibatkan saya dalam beberapa pertemuannya di Jakarta. Terhitung tiga kali kami bertemu secara langsung untuk membicarakan SKO. Pertama, Lambert mengajak saya ke SKO Ragunan. Kami melihat bagaimana pengelolaan pendidikan di SKO milik DKI Jakarta yang menjadi kawah candradimuka bibit olahragawan nasional. Saya menyadari bahwa pengelolaan SKO di Kupang (Flobamorata) masih harus berjuang mengejar ketertinggalan dari SKO Ragunan, dan tentu masih sangat jauh jika dibandingkan dengan SKO SMARD Lembata yang baru kami rancang. Namun minimal, atas kesamaan gagasan, saya merasa perlu mengikuti kegiatan tersebut. Pada pertemuan lain, saya diundang hadir di sebuah hotel. Meski saya bukan peserta resmi dari SKO—sementara peserta lainnya berasal dari 14 SKO Negeri se-Indonesia—saya diperkenankan masuk hanya untuk mengamati bagaimana mereka menyelenggarakan pertemuan. Pertemuan berikutnya terjadi di Taman Ismail Marzuki. Saat itu, kami berbincang lebih jauh dengan beberapa rekan. Pak Lambert hadir bersama istrinya (yang beberapa tahun kemudian mendahului beliau, menyisakan Pak Lambert bersama anak-anaknya). Kembali lagi ke soal SKO. Bukan sebuah kebetulan bahwa lewat gagasan SKO ini, kami bertiga dapat bertaut kembali. Dalam prosesnya, Petrus menjadi arsitek utamanya. Saat konsultasi awal, Petrus merangkap jabatan sebagai Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT sekaligus Penjabat Bupati Lembata. Di rumah dinas Penjabat Bupati, kami duduk, ngobrol, dan dengan lincah Petrus menandatangani berkas pendirian SKO San Bernardino. Petrus tidak pernah ‘neko-neko’. Malah dengan gaya khasnya, ia berseloroh: “Ama, kasih saya, tinggal saya wagor saja.” Wagor adalah istilah khas Lerek. Sebuah aksi saat memasak ketika seseorang mengambil kerak di bagian paling dasar kuali. Petrus memang sangat piawai memilih diksi yang tepat. Lambertus dan saya dimudahkan untuk saling berjejaring. Lambert dipercaya menakhodai SKO Flobamorata, sementara kami adalah pendatang baru dengan dana terbatas yang berniat mendirikan SKO di Lembata. Singkatnya, dari serangkaian pengalaman ini, saya beruntung bisa mengenal dua sosok hebat dari Ile Ape: Petrus dan Lambertus. Namun seolah telah sepakat, keduanya yang selalu berjalan beriringan, kini berpulang hanya berselang satu minggu. Terus Berkarya Ada hal lain yang membuat Petrus dan Lambertus tampil beda dari kebanyakan orang. Petrus, setelah purna tugas pada tahun 2021, masih dipercaya menjabat sebagai Ketua Kwarda Pramuka NTT dan aktif di organisasi keagamaan. Ia menjabat sebagai Ketua LP3KD (Pesparani) Daerah, bahkan menjadi Ketua Pelaksana pada gelaran Pesparani Nasional. Pada Pilkada 2024, tidak sedikit partai politik yang mendekati Petrus. Mereka mengira Petrus bisa digoyahkan untuk melakukan apa saja demi meraih kursi Bupati Lembata. Mereka paham betul bahwa legacy yang ditinggalkannya di Lembata sangat kuat. Banyak rakyat tahu bagaimana pendekatan kemasyarakatannya, termasuk kesuksesannya menyelenggarakan Hari Nusantara tahun 2016 saat menjabat Penjabat Bupati. Namun, Petrus bukan sembarang orang. Ia adalah cadas dengan moralitas tinggi. Ia tidak sekadar mengejar jabatan dengan menghalalkan segala cara. Ketika melihat ada calon lain dari Ile Ape, ia bertutur tulus: “Kalau kami berdua sama-sama maju, suara akan terbagi dan kita bisa kalah. Lebih baik saya mundur.” Dan ia benar-benar mundur. Lambertus pun demikian. Setelah pensiun, ia tidak lantas berhenti berkarya. Ia tetap bergelut memajukan literasi di Kupang. Ia sempat meminta saya mengabarkan buku-buku saya yang telah terbit untuk kemudian ia perkenalkan ke khalayak luas. Beberapa saat kemudian, Pak Lambert mengabarkan bahwa ia diminta menjadi kepala sekolah di salah satu sekolah PGRI di Kupang. Saya tidak bertanya lebih jauh apakah itu tingkat SMP atau SMA, namun di situlah terpancar kebenaran bahwa semangatnya sebagai seorang pendidik tidak pernah pudar. Dedikasi inilah yang mempertemukan keduanya di berbagai bidang kehidupan. Saya akhirnya terpikir dan bertanya-tanya: apakah kepulangan mereka yang hanya berselang seminggu juga merupakan tanda bahwa keduanya memang hampir selalu sejalan dalam segala hal hingga akhir hayat? Tentu pertanyaan ini bisa ditafsirkan secara beragam, namun kenyataannya memang demikian. Pada Senin, 24 Agustus 2026, Pak Lambert Laba Making wafat. Seminggu sebelumnya, Sabtu, 15 Agustus 2026, Sinun Petrus Manuk telah lebih dulu mendahului. Apakah ini sekadar kebetulan? Robert Bala. Pendiri SKO SAN BERNARDINO (SMARD) Lembata Post Views: 25 Navigasi pos Bupati Lembata : “Meskipun Telah Meninggalkan Dunia, Jasamu Tetap Terkenang, Selamat Jalan Tokoh Pemersatu Sinun Petrus Manuk”