Robert Bala, dan Cover Buku, Berbuah di Usia Senja

DUA WAJAH
Homili Inspiratif Minggu Biasa ke-29, 18 Oktober 2026 dari Injil Matius 22:15–21

Oleh : Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM—   Di dalam kehidupan sehari-hari, pertengahan bulan—terutama saat memasuki tanggal belasan—sering kali kita hadapi dengan rasa waswas. Banyak instansi menetapkan tanggal-tanggal ini sebagai batas akhir pembayaran berbagai tagihan: iuran lingkungan, air, listrik, langganan internet, hingga biaya pendidikan anak-anak di sekolah.

Mengapa kita kerap menyikapi tanggal-tanggal ini dengan kecemasan? Jawabannya sederhana: terlalu banyak pos pengeluaran yang berebut alokasi dana dari dompet kita. Di sisi lain, bayangan sanksi selalu mengintai. Ada denda keterlambatan yang siap membengkakkan tagihan, bahkan ada ancaman pemutusan jaringan atau layanan jika kita melampaui batas waktu.

Ketakutan akan sanksi inilah yang mendisiplinkan kita. Kita mendadak menjadi pribadi yang sangat taat, cekatan, dan begitu “setia” memenuhi kewajiban duniawi. Kita tidak ingin hidup dalam kegelapan akibat listrik yang diputus, atau mengalami isolasi sosial karena akses komunikasi terhenti. Kita rela bersusah payah demi menjaga kelancaran tanggung jawab tersebut.

Namun, Injil Matius 22:15–21 menyibak sebuah “wajah” lain yang jauh lebih mendasar dan penting bagi hidup kita. Bacaan ini sebenarnya tidak pertama-tama berbicara tentang hukum perpajakan. Perdebatan mengenai pajak hanyalah pintu masuk yang digunakan Yesus untuk membongkar hakikat kedalaman diri manusia.

Mata uang logam pada zaman itu memuat gambar dan tulisan Kaisar. Fakta tersebut sangat nyata dan berwujud, persis seperti tagihan bulanan yang kita terima setiap tanggal belasan. Benda yang memuat identitas Kaisar tentu harus dikembalikan kepada pemiliknya: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Akan tetapi, pernahkah kita merenungkan: wajah dan tulisan siapakah yang terukir pada diri kita—manusia yang sedang memegang koin tersebut? Milik siapa kita yang sebenarnya?

Ini adalah pertanyaan eksistensial yang jauh lebih krusial. Sejak awal mula penciptaan, manusia dibentuk menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei, Kej. 1:27). Gambar, meterai, dan tulisan yang terukir di dalam kedalaman hati serta jiwa kita bukanlah milik kaisar atau dunia, melainkan milik Allah Sang Pencipta.

Karena diri kita merupakan gambaran Allah, maka sudah sepatutnya seluruh hidup kita dikembalikan kepada-Nya. Pengembalian ini mewujud dalam kepasrahan total pada ajaran-Nya, ketaatan pada perintah-Nya, serta kehendak untuk hidup dalam kebaikan. Lebih dari itu, menyadari kehadiran gambar Allah di dalam diri sendiri akan memudahkan kita untuk menemukan dan menghormati wajah Allah yang hadir pada diri sesama.

Tentu saja, menemukan wajah Allah pada diri sendiri maupun orang lain bukanlah perkara mudah. Wajah-Nya hanya bisa tersingkap dalam keheningan hati. Ia menyampaikan pesan terselubung yang membutuhkan kedalaman refleksi dan kesabaran. Kita membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak, sebab di sekitar kita riuh oleh berbagai suara dan tawaran yang menyesatkan.

Dunia kerap menyodorkan pertanyaan dan narasi yang dirancang untuk menjebak. Kita sering digiring ke dalam pilihan yang sudah diskenariokan oleh sistem di luar diri kita. Lihat saja iklan produk pembersih karat di televisi: hanya dengan disiram cairan tertentu, besi karat langsung mengkilap seketika. Secara logis, kita tahu pembersihan karat membutuhkan proses menggosok berulang kali. Namun, karena tayangan tersebut dikemas begitu memikat, kita terkondisikan untuk percaya dan bergegas membeli produk itu.

Yesus mengajak kita untuk menghentikan rutinitas sejenak, berpikir lebih jernih, dan membuka mata pada alternatif lain yang bernilai kekal. Bacaan Injil hari ini bukan sekadar imbauan tentang ketaatan membayar pajak. Pajak hanyalah sarana bagi Yesus untuk mengingatkan identitas sejati kita sebagai citra Allah yang wajib kita rawat dan muliakan.

Sebagai penutup, mari kita meneladani pengalaman spiritual dari seorang filsuf dan santo besar, Agustinus dari Hippo. Sebelum mengalami pertobatan, Agustinus menghabiskan usahanya untuk mengejar kenikmatan duniawi, kehormatan, dan ambisi pribadi. Ia sangat sibuk memenuhi tuntutan “kaisar dunia”, hingga jiwanya kerap merasa dahaga dan hampa.

Suatu hari, setelah membaca Kitab Suci, sebuah kebenaran Ilahi menyentuh batinnya. Ia memegang dadanya dan melayangkan doa yang sangat indah: “Engkau telah menciptakan kami bagi diri-Mu, ya Tuhan, dan hati kami tidak akan tenang sebelum beristirahat di dalam Engkau.”

Agustinus menyadari bahwa selama ini ia telah menyerahkan seluruh energi dan hidupnya untuk dunia, namun mengabaikan Gambar Allah yang terpatri di dalam jiwanya. Ketika ia akhirnya memutuskan untuk mengembalikan seluruh hidup, hati, dan jiwanya kepada Tuhan, ia menemukan kedamaian sejati yang tidak pernah bisa diberikan oleh jabatan maupun kekayaan duniawi.

Marilah kita tetap menjadi warga negara yang bertanggung jawab, taat, dan disiplin. Namun di atas semuanya itu, jangan pernah lupa untuk mempersembahkan kembali seluruh hidup dan hati kita kepada Allah, karena Dialah yang telah mencetak jiwa kita menurut gambar-Nya yang kudus.
Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Robert Bala. Penulis buku BERBUAH DI USIA SENJA. Cetakan ke-3, Penerbit Kanisius Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *