Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. bersama Komunitas Suster-Suster Amal Darah Maha-Kudus (ADM) Ponu, Regio Timor.

Fajar Baru Pendidikan di Perbatasan RI-Timor Leste : Suster ADM Pertautkan Sejarah, Budaya, dan Perdamaian di Ponu

PONU, WARTA NUSANTARA .COM—  Wilayah ujung utara perbatasan RI–Timor Leste mendadak riuh oleh gairah pemikiran baru. Untuk kali pertama dalam sejarah publik Kecamatan Ponu, sebuah forum akademik bertaraf tinggi sukses digelar atas prakarsa Komunitas Suster-Suster Amal Darah Maha-Kudus (ADM) Ponu, Regio Timor.

Ketua Yayasan Lentera Amal Kasih Sr. Brigida Fernandez, ADM memberikan penghargaan kepada Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum.

Garis batas negara yang dulu identik dengan lembaran sejarah kelam, kini resmi bertransformasi menjadi panggung persemaian peradaban anyar dan dialog kemanusiaan antarnegara.

Menghapus Jejak Kelam Lewat Dialog Peradaban

Kecamatan Ponu tidak dapat dipisahkan dari dinamika politik masa lalu di garis perbatasan. Namun, dalam gelaran Lokakarya Penguatan Tata Kelola dan Pelayanan Yayasan Lentera Amal Kasih ini, cara pandang terhadap perbatasan diubah secara mendasar oleh pakar sastra dan budaya, Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum.

Prof. Yapi Taum menekankan bahwa perbatasan mengandung dimensi psikologis dan emosional yang sangat pekat. Perbatasan Ponu adalah arena perjumpaan tiga dimensi waktu sekaligus: tempat merawat ingatan masa lalu, ruang bekerja masa kini, serta panggung merajut harapan masa depan.

“Kata ‘perbatasan’ selalu membawa getaran emosional yang kuat. Ia menjadi ruang negosiasi batin antara masa lalu yang penuh dinamika konflik dengan masa depan yang menawarkan kedamaian. Ponu memang pernah menyimpan rekam jejak sejarah yang kelam, tetapi justru dari tanah ini kita berkesempatan mendirikan pilar-pilar perdamaian dan peradaban baru melalui jalur pendidikan,” papar Prof. Yapi Taum.

Ponu Sebagai Pusat Studi Kebudayaan dan Rekonsiliasi Dunia

Lebih dari sekadar menyelenggarakan sekolah formal, Ponu didorong untuk mengambil posisi kepemimpinan dalam pemajuan kebudayaan. Dalam skenario pengembangan jangka panjang, Ponu dirancang memiliki rantai pendidikan yang utuh: dari jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi.

Lompatan terbesarnya terletak pada gagasan pendirian dua pusat kajian strategis:

  1. Pusat Studi Kebudayaan Timor: Wadah penggalian kearifan lokal dan pelestarian kekayaan adat masyarakat Timor.
  2. Pusat Studi Perdamaian Indonesia–Timor Leste: Lembaga kajian yang diyakini bakal menjadi jembatan kemanusiaan guna menautkan kembali simpul persaudaraan dan rekonsiliasi antarwarga di kedua sisi perbatasan.

Teladan Conrad Hilton: Menyemaikan Pohon Impian

Mengutip filosofi pendiri jaringan hotel global Conrad Hilton, lokakarya ini menekankan pentingnya keberanian memiliki visi besar (Dream Big) yang ditopang kerja keras serta doa tak putus-putus (Work Hard, Pray Always, Trust God).

Nilai moral ini menjadi pegangan para pendidik dan tokoh masyarakat di Ponu. Merekalah para perintis yang siap menanam “benih pohon” hari ini, meski hasil rindang perguruan tinggi dan pusat studi tersebut baru akan dinikmati oleh generasi mendatang.

Kolaborasi Lintas Elemen dan Restu Gereja

Langkah berani ini berawal dari keputusan Ketua Yayasan, Sr. Brigida Fernandez, ADM, yang memperluas jangkauan bimbingan. Semula intended untuk pembekalan internal suster, materi tata kelola ini sengaja dibuka bagi para kepala desa, aparat kecamatan, pastor, guru, dan pengurus yayasan pendidikan lain di Ponu agar kemajuan bisa dirasakan serentak.

Inisiatif ini meraih dukungan penuh dari pimpinan Gereja Katolik. Sekretaris Uskup Atambua, Rm. Lusius Resanualto, Pr, hadir langsung membawa warta dari Uskup Atambua yang merestui dan mendoakan agar gerak langkah pendidikan di Ponu senantiasa memancarkan cahaya pencerahan bagi masyarakat luas..   ***(*/WN-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *